Papua Storyteller

Loading...

Senin, 19 Desember 2011

Papuan Voices on Human Rights Day

         “Tuhan, apakah aku salah karena kulitku hitam? Apakah aku salah karena rambutku keriting? Aku tak mau jadi bagian dari mereka, juga kalau aku harus mati. Tiap hari saudaraku mati, dibunuh. Aku hanya ingin kedamaian dan kebebasan....”

Ungkapan perih itu keluar dari bibir seorang perempuan Papua, yang memerankan tokoh ibu dalam fragmen “Papuan Voices”, racikan Kelompok Papuan Voices for Change.   Suara perempuan yang membalut tubuhnya dengan aksesoris tradisional Papua itu terdengar pedih, merintih, memberontak, tapi dengan sinisme yang amat pekat: “Aku tak mau jadi bagian dari mereka, juga kalau aku harus mati”. Wajah sang ibu (diperankan oleh Reny Keiya) ditengadahkan ke langit seakan ia sedang mencari Tuhan. Sementara di sampingnya tergeletak sosok mayat sang suami, yang telah terbunuh. Dalam putus asa menyayat, suara sang ibu memiriskan hati.

Minggu, 18 Desember 2011

Hutan Dirusak Demi Ekonomi, Siapa Korbannya?

(Sebuah Refleksi Analitis) 

Oleh Wensi Fatubun


REALITAS krisis ekologi menyerang kita dari banyak aspek. Skala dan kompleksitas permasalahan-permasalahan dan kerumitan pemecahan-pemecahan jangka panjang yang diketengahkan oleh media massa kepada kita telah menjadi semakin sulit diabaikan. 
Kini negara-negara yang memiliki hutan luas seperti Brazil, Papua Nugini dan Costa Rica mengusulkan konsep yang berfokus pada fungsi hutan sebagai penyerap dan pelepas karbon. Skema baru ini bernama REDD (Reducing Emission from Deforestation and Degradation). Skema ini mulai dibicarakan pada COP (Conference of the Parties) 12 di Nairobi-Kenya, yang kemudian dimatangkan pada KTT Perubahan Iklim di Bali lalu. REDD menawarkan skema retaining atau menahan karbon keluar. 

Sabtu, 17 Desember 2011

The anti-plebiscite campaigns in West Papua

by Pieter Drooglever
 
For reasons of opportunity and principle, the decolonisation-policies of the Netherlands since 1945 went under the aegis of self-determination. At the transfer of sovereignty in 1949 to the newly created Federal Republic of Indonesia, the Dutch refused to hand over the residency of New Guinea as well.  According to them, the Papuan population as a whole was not developed up to the point where it could determine for itself as yet, and there were plenty of indications that the leading layers of Papua society did agree with the argument. So the operation of self-determination had to be postponed for an as yet undeterminated period.

West Papua and the changing nature of self-determination

by Akihisa Matsuno, OSIPP, Osaka University

Self-determination beyond decolonisation

Self-determination has legal and political dimensions. The right to self-determination is cited in the UN Charter and the two Covenants of Human Rights, but basically the international community failed to consistently apply this right beyond the cases of decolonisation. The newly born states have been mostly hostile to the notion of self-determination of a population under their sovereignty, the world powers feared further instability if colonial boundaries were not respected, and there was a technical difficulty in defining ‘a people’.

Senin, 03 Oktober 2011

Advokasi dan Penyadaran

DATA YANG TERKUMPUL MAU DIAPAKAN?
Laporan riset lapangan, untuk bekal penelitian lebih lanjut, advokasi dan penyadaran

Oleh George Junus Aditjondro


            SETUMPUK data[1]  di belasan buku notes, pita kaset, foto dan film, serta dokumen-dokumen, serta sampel (cuplikan) air, tetumbuhan dan batu-batuan yang diduga tercemar bahan organik dan anorganik yang berbahaya[2], mau diapakan sepulang dari lapangan? Tentu saja data itu harus disistematisasi, diolah, dikaji, dan ditulis menjadi laporan penelitian lapangan yang terinci, dengan berbagai lampiran yang penad (relevan).

Selasa, 23 Agustus 2011

Warga ambil kembali tanah adat

Merauke, 22 Agustus 2011, anggota marga Basik-Basik melakukan pengukuran batas tanah adat marga dengan tanah jatah warga Trasmigrasi di Kampung Muram Sari, Distrik Jagebob. Karena, mantan Kepala Kampung Muram Sari, yang juga warga trasmigrasi asal Jawa, telah melakukan pencaplokan tanah adat marga Basik-Basik dan menyewakan kepada warga trasmigrasi.

Kamis, 18 Agustus 2011

Bartol Yolmen telah “pergi”


Siang itu (14/5/2010) di tengah hiruk pikuknya kota Merauke, saya bertemu dengan Bartol Yolmen, 29 tahun, di rumahnya, Jalan Mangga Dua Kimaan, Kota Merauke. Ayah dari seorang anak bernama Felix Yolmen, 3 tahun, yang menjadi korban kekerasan aparat TNI-AD Kostrad 643/WNS Kalimantan pada tahun 2005 silam. Ia sedang sakit. Badannya kurus dan agak bongkok, tapi dengan antusias menyambut kedatangan saya.


Tanpa peduli dengan situasi sekitarnya,ia serius menceritakan kisah hidupnya. Istrinya, Jemitri Gebze, tampak duduk di samping menemaninya. “Sejak dipukul oleh prajurit TNI-AD Kostrad 643/WNS, saya sakit sampai hari ini,” ungkapnya.
***

Senin, 08 Agustus 2011

Semalam di Kota Tinutuan

Jalan Boelevard Manado jam 21.30 malam. Supermarket Multimart baru saja tutup. Para pelayan dari beberapa supermarket, di sepanjang jalan Boulevard, satu persatu mulai bergegas pulang ke rumah. Beberapa anak dengan gaya punk lalu lalang di depan Supermarket Multimart. Kalah itu, aku turun dari mikrolet wanea samrat tepat di depan Plaza Telkom Manado dan berjalan kaki menelusuri jalan samrat kemudian ke jalan boulevard.

Mery mengagetkanku

Tepat di belakang gedung Plaza Telkom Manado, aku berhenti dan duduk sebentar di halte. Selang beberapa menit, ada seorang wanita dengan paras cantik, bersetelan celana jins dan berbaju kaum tangan panjang bergaris, mengampiriku sambil menyapa, “Selamat malam!”, aku membalasnya dengan jawaban singkat, “Malam.” Wanita itu mendekatku

Arnold Ap

Kamis, 04 Agustus 2011

Di Uren, bertemu Romo Boneng


Minggu (27/6) sore di Desa Uren, pegunungan Meratus, Promotor JPIC MSC bertemu “Romo Boneng”.  “Romo Boneng”, sebutan untuk Arif Rahman Hakim, seorang anak 9 tahun, yang duduk di kelas 1 SD Negeri I Uren.  

Ia dipangil “Romo Boneng”, karena ia ingin menjadi Pastor Gereja Katolik. Hari itu, ia terlihat sibuk memegang bukunya. Ia sedang mempersiapkan diri untuk belajar membaca dan berhitung.
”Aku mau jadi Romo,” serunya, ketika ditanya soal cita-citanya.

“Tapi, Romo itu kan hidup sendiri dan sering pindah-pindah tempat tinggal. Boneng tidak takut?”
“Aku mau jadi Romo”, ungkapnya sambil memeluk kaki Romo Ansel Amo,[MSC dari Promotor JPIC MSC.

Minggu, 31 Juli 2011

Kartun "PEPERA 1969"


Ada pelbagai cari untuk menggambarkan keberadaan Indonesia di Papua. Salah satu cara, yakni yang dibuat oleh seorang kartunis Belanda. 


Ia menggambar situasi tahun 1963 hingga 1969. Berikut ini beberapa gambarnya:

Sabtu, 30 Juli 2011

KESEHATAN, DEMOKRASI & HAK-HAK EKOSOSBUD: BELAJAR DARI RINTISAN DOKTER ”CHE”

George Junus Aditjondro


If we’re going to have a successful democratic society,
we have to have a well educated and healthy citizenry
Thomas Jefferson

A few months ago, here in Havana,
it happened that a group of newly graduated doctors
did not want to go into the country’s rural areas
 and demanded remuneration before they would agree to go ...

But what would have happened if instead of these boys,
whose families generally were able to pay for their years of study,
others of less fortunate means had just finished their schooling
and were beginning the exercise of their profession?
What would have occurred if two or three hundred campesinos
had emerged, let us say by magic, from the university halls?

What would have happend, simply, is that the campesionos would have run, immediately and with unreserved enthusiasm, to help their brothers ...
What would have happend is what will happen in six of seven years, when the new students, childre of workers and campesinos, receive professional degrees of all kinds
If we medical workers – and permit me to use once again a title which I had forgotten some time ago – are successful, if we use this new weapon of solidarity ....
Che Guevara, On Revolutionary Medicine,
Havana, 19 Agustus 1960 (dalam Brouwer 2009)


Essay ttg Orang Asli Papua

Orang asli Papua:
Sebuah refleksi eksistensialis

Orang asli Papua adalah kelompok minoritas di Indonesia. Nasib orang asli Papua sangat tergantung kepada kemampuan penalaran, skill, dan manajemen orang asli Papua sendiri, tapi sayang sekali sampai dengan saat ini, Orang asli Papua mengalami krisis kebudayaan. Hal ini disebabkan kebudayaannya dibiarkan merana, tidak terawat, dan tidak dikembangkan oleh pihak-pihak yang berkompeten, terutama para elite anak orang asli Papua, yang duduk di lembaga eksekutif dan legislatif. Bahkan Kebudayaan orang asli Papua terkesan dibiarkan mati merana digerilya oleh kebudayaan asing, terutama dari pulau Jawa dan Sulawesi, serta tumbuh subur pelbagai stereotip atau stigma tentang watak-watak negatip yang diletakkan pada diri orang asli Papua, seperti pemabuk, seks bebas, munafik, jorok, kotor, malas, tidak suka bertanggung jawab, suka gengsi, dan tidak suka bisnis. “lebih aman jadi pegawai”, ungkap sebagian anak muda orang asli Papua.
Itulah wilayah Papua kini, yang menjadi korban dari ajang pertempuran antara Militer Indonesia dan Polisi Indonesia, antara kaum kristen dan kaum Islam, antara modernitas dan kekolotan tradisi, dan antara elite Papua dan elite non Papua, serta orang asli Papua yang kalah dari gempuran kaum kapitalis. Singkatnya, wajah orang asli Papua adalah wajah kaum yang sedang ditindas dan tertindas oleh gurita tiga ‘M’ (baca: militer, modal dan milisi).

Sehingga, kemunduran kebudayaan orang Papua asli sangat terasa sekali. Terpaan berbagai krisis yang tak pernah selesai dialami.

Hal ini tidak lepas dari dosa kolonial Belanda dan Indonesia. Terutama Indonesia. Strategi Indonesia untuk mengeksploitasi kekayaan alam di tanah Papua melalui politik memecah belah. Militerisme, kebijakan investasi dan trasmigrasi, wajahnya.

Gerilya Kebudayaan

Indonesia sebagai salah satu negara dengan tingkat pertumbuhan penduduk tertinggi di dunia harus berjuang sekuat tenaga dengan cara apapun untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi demi meningkatkan kesejahteraan warganya. Mengingat daerah-daerah penghasil, seperti Pulau Sumatra, Kalimantan dan Sulawesi hampir selesai digarap.  Begitu para investor mendapat angin dari regim Orde Baru dan kini resim Cikeas, Papua lalu bagaikan diterpa badai gurun Sahara yang panas!

Pemanfaatan strategi politisasi suku dan sedikit agama untuk mendominasi dan menisbikan kebudayaan Papua mendapatkan angin bagus. Ini berlangsung dengan begitu kuat dan begitu vulgarnya.
Gerilya kebudayaan asing lewat politisasi suku begitu gencarnya, terutama lewat media televisi, majalah, buku dan radio. Gerilya kebudayaan melalui TV ini sungguh secara halus-nyamar-tak kentara. Orang awam pasti sulit mencernanya!

Proklamasi Nieuw Guinea 1949 oleh Pejabat Gubernur Nieuw Guinea

Disadur ulang

PROKLAMASI

Penduduk Nieuw Guinea
Berdasarkan keputusan-keputusan dari konfrensi Meja Bundar pada hari ini kedaulatan atas Indonesia akan diserahkan kepada Republik Indonesia Serikat, kecuali apa yang dulu disebut Residensi nieuw Guinea.

Mulai hari ini kami semua menjadi penduduk dari Gubernemen Nieuw Guinea, dimana pemerintah umum dilaksanakan atas nama Ratu yang dimuliakan.

Kita memanjatkan doa kehadirat Yang Maha Kuasa akan memberi kita kemakmuran dan keamanan dibawa pimpinan Ratu Juliana.


Hollandia, 27 Desember 1949

Pejabat Gubernur Nieuw Guinea

ttd

J.P.K. Van Eechoud

Bahasa asli

PROCLAMATIE

Ingezetenen van Nieuw Guinea Ingevolge de besluten ter Ronde Tafel Conperentie genomen, Zan op dezedag aan de Republik Indonesia worden overgedragen, met uit zondering van de voormalige Residentie Nieuw Guinea. Vanaf deze dag zejn allen ingezetenen van het Gouverment Nieuw Guinea, alwaar het algemeen bestuur Zal Worden uitgevend door het Gouvernement in naar van onze geerbiedigge Koningin.

Smeken wij den allerhoogste Zejn Zegen te schenken aan dit land en bidden wij dat hij ons onderleiding van haar mayesteit Koningin Juliana moge voeren naar voorspoed en vrede

Hollandia, 27 Desember 1949

De Waarnemen
Gouvernur Van Nieuw Guinea
was getekend

J.P.K. Van Eechoud

DISANDERA KABINET PEDAGANG MIGAS:


 Membongkar Kepentingan-Kepentingan Domestik dan Internasional
di balik Kenaikan Harga BBM di Indonesia
-------------------------------------------------------------------------------
George Junus Aditjondro, Ph.D.

            HARI Sabtu, 1 Oktober 2005, dua buah bom meledak di Indonesia. Bom Bali II, yang menelan korban puluhan jiwa dan jutaan rakyat Bali dan rakyat Indonesia yang lain yang hidup dari sektor pariwisata, yang sangat terpukul oleh anjognya jumlah turis yang tetap berkunjung ke Bali. Namun ada juga bom kedua, yang untuk sementara waktu agak tertutup gemanya oleh gema bom Bali II, yakni bom kenaikan harga tiga jenis BBM – bensin, minyak solar, dan minyak tanah – di seluruh Indonesia.

Rabu, 20 Juli 2011

DIAKONIA PALANG PINTU, BUKAN SEKEDAR PALANG MERAH:

Kelemahan-kelemahan Struktural Gereja menghadapi Konflik-konflik Penguasaan Sumber-Sumber Daya Alam di Nusantara
Oleh George Junus Aditjondro

......perjuangan kita bukanlah melawan darah dan daging,
tetapi melawan pemerintah-pemerintah,
melawan penguasa-penguasa,
melawan penghulu-penghulu dunia yang gelap ini,
melawan roh-roh jahat di udara.
Sebab itu ambillah seluruh perlengkapan senjata Allah,
 supaya kamu dapat mengadakan perlawanan
pada hari yang jahat itu dan tetap berdiri,
sesudah kamu menyelesaikan segala sesuatu.
 Jadi berdirilah tegap, berikatpinggangkan kebenaran
dan berbajuzirahkan keadilan.
(Efesus 6: 12-15)

Minggu, 17 Juli 2011

DARI BUDAYA PERANG KE BUDAYA PERDAMAIAN:

Mencari Model Polisi Pemelihara Perdamaian

oleh George Junus Aditjondro

PENGANTAR

            ORANG sering bertanya, apakah polisi yang bertugas di daerah konflik merupakan pemecah permasalahan, ataukah justru bagian dari permasalahan (are they the problem solvers, or are they part of the problem)?

Dari berbagai studi saya terhadap kerusuhan dan konflik di Maluku (2001), Papua Barat (2004b) dan Poso (2004a, 2004c, 2005, 2006), serta studi-studi yang dilakukan oleh peneliti lain di Poso (Sangaji 2005; Nadia 2005), Aceh (Hutabarat 2003; Ishak 2004) dan Maluku (Hutabarat 2003; Malik 2004; Pontoh 2004), kehadiran polisi tampaknya lebih merupakan bagian dari permasalahan, ketimbang pemecah masalah (problem solver).

Rabu, 13 Juli 2011

PRODUKSI PENGETAHUAN OLEH SIAPA

PRODUKSI PENGETAHUAN OLEH SIAPA,
UNTUK KEPENTINGAN SIAPA, DAN BERSAMA SIAPA?
Menuju Paradigma Penelitian Pembebasan
---------------------------------------------------------------------------------------
George Junus Aditjondro

Die Philosophen haben die Welt nur verschieden interpretiert.
Es kommt aber darauf an, sie zu verandern.
[Para filsuf telah menafsirkan dunia hanya secara berbeda-beda.
Namun yang terpenting adalah mengubah dunia itu].
Tesis ke-11 Marx tentang Feuerbach.



West Papua....Freedom...Independent

Krisis HAM di Papua

RELEVANSI HANCOCK BAGI KITA

oleh George Junus Aditjondro

MENGAPA sebuah buku yang ditulis oleh seorang jurnalis Inggris dan diterbitkan di London tahun 1989, masih diterjemahkan dan diterbitkan kembali di Indonesia, enam tahun kemudian? Jawabannya tidak sulit. Berbagai fenomena sosial yang digambarkan oleh Graham Hancock di buku ini, masih tetap penad (relevan) di masa sekarang. “Bantuan” asing bukanlah “bantuan”, yang betul-betul menguntungkan masyarakat negara yang “dibantu”. Bantuan asing lebih merupakan suatu mekanisme untuk mendaur ulang uang pajak rakyat di negara-negara kaya, sambil memperkaya elit negara-negara miskin.

Kamis, 07 Juli 2011

Mengenang Perempuan dan Anak-anak yang telah Dipersembahkan di Altar Kapitalisme: Relevansi Das Kapital bagi gerakan-gerakan kemasyarakatan (Social Movements) di Indonesia

Oleh George Junus Aditjondro

HARI ini, Senin, 18 September 2006, kita berkumpul di Gedung Serba Guna d kampus Unika Parahyangan, Bandung, untuk meluncurkan Buku II dari magnum opus Karl Marx, Das Kapital. Buku II ini telah selesai diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh Oey Hay Djoen dan diterbitkan oleh penerbit Hasta Mitra, penerbit buku-buku Pramudya Ananta Toer di Jakarta. Kita ingin melakukan refleksi, apa relevansi (kepenadan) sebuah buku, yang pertama kali diterbitkan dalam bahasa Jerman di tahun 1885, dua tahun setelah meninggalnya salah seorang pelopor gerakan Kiri, bagi kita, yang hidup di Indonesia, lebih dari seabad kemudian.

Advokasi Media untuk Membongkar Kebisuan

Tulisan ini mencakup strategi advokasi dengan menggunakan media mainstream atau social media dengan efektif dalam  kampanye untuk membongkar kebisuan. Ini berarti  kita dituntut untuk mengidentifikasi  orang-orang  yang  memiliki  kekuatan untuk  mempengaruhi isu kampanye dan berkomunikasi dengan mereka secara efektif, serta melihat strategi untuk distribusi materi kampanye dan mengevaluasi dampak kampanye kita.

Selasa, 05 Juli 2011

Sepi Maria tanpa sang Prada: Kisah Kisah tentang kekerasan seksual prajurit TNI di Papua Barat

AGUSTUS 2009, selama dua minggu saya tinggal di Kampung Bupul. Kampung Bupul merupakan wilayah administrasi dari Distrik Elikobel, Kabupatem Merauke, Papua, yang terletak di kawasan perbatasan Papua, Republik Indonesia dan Negara Papua New Guinea. Karena posisinya itu, kampung Bupul masuk dalam kategori kampung perbatasan dan membutuhkan pengamanan dari Tentara Nasional Indonesia (TNI).
Pada tahun 1983, Pos TNI-AD dibangun untuk pertama kali oleh personil Komando Cadangan Strategis Angkatan Darat (Kostrad),
satuan tugas teritorial (satgaster) Raider Yonif 751/BS (Siliwangi) di samping Pastoran Katolik. Jumlah personil satgaster yang bertugas saat ini sebanyak sepuluh personil orang. Karena pertimbangan keamanan, Pos TNI-AD berpindah tempat beberapa kali. Sejak tahun 2007 hingga kini, Pos TNI-AD dibangun oleh 22 (dua puluh dua) personil Kostrad  TNI-AD Yonif 320/Badak Putih, di pinggir kali Maro, _an diberi nama Pos Kali Maro.

Minggu, 19 Juni 2011

On a mission to expose aboses in West Papua


By Teoh El Sen
FMT INTERVIEW PETALING JAYA: Hunted by the military, human rights activist and documentary filmmaker Wensi Fatubun left his home in West Papua, Indonesia, and continued his fight abroad.

Jumat, 17 Juni 2011

HUT ke- 84 WKRI: Dengan hati kita berkarya, dengan foto kita berkata

Jakarta, 12 Juli 2008: Matahari baru saja menyapa jagat, kala itu mobil  kijang B8767JQ yang membawa rombongan ibu-ibu WKRI Cabang Bunda Hati Kudus Kemakmuran, berhenti di depan Gereja Regina Caeli, Pantai Indah Kapuk, Jakarta Utara. Hari ini, 12 Juli 2008, Wanita Katolik Republik Indonesia  merayakan HUT ke-84.  “Kami berkumpul di sini (baca: Gereja Regina Caeli) untuk merayakan HUT WKRI ke-84. Selama ini kami telah berkarya dengan hati dan dengan foto kami berkata.  Kami sadar semuanya ini adalah rahmat dari Tuhan. Oleh karena itu, kami mau bersyukur dalam misa syukur di Gereja Regina Caeli ini”, tutur Ibu Mariani Tarigan, Koordinator Presedium WKRI. WKRI Daerah Jakarta sebagai salah satu organisasi kemasyarakatan yang bercirikhas Katolik dalam HUTnya ke 84 ini memilih tema “Menjadikan Kekuatan Moral dan Sosial sebagai Sikap Dasar Wanita Katolik Republik Indonesia”. Tema ini adalah hasil rekfeksi atas karya-karya WKRI, khususnya Daerah Jakarta selama ini.

PENDIDIKAN: MENGERTI MANUSIA = MENGERTI ALAM SEMESTA

Pada awal revolusi industri tahun 1850, konsentrasi salah satu gas rumah gaca (GRK) penting, yaitu CO di atmosfer baru 290 ppmv (part per million by volume), saat ini (150 tahun kemudian) telah mencapai 350 ppmv. Jika pola konsumsi, gaya hidup, dan pertumbuhan penduduk tidak berubah, 100 tahun yang akan datang konsentrasi CO diperkirakan akan meningkat menjadi 580 ppmv atau dua kali lipat dari zaman pra-industri. Akibatnya, dalam kurun waktu 100 tahun yang akan dating suhu rata-rata Bumi akan meningkat hingga 4,5 C dengan dampak terhadap berbagai sector kehidupan manusia yang luar biasa besarnya. Menurunnya produksi pangan, terganggunya fluktuasi dan distribusi ketersedian air, penyebaran hama dan penyakit tanaman.

Kamis, 16 Juni 2011

KKP KWI, JPIC MSC dan JPIC OFM bikin pelatihan di Pontian

REALITAS krisis ekologi menyerang kita dari banyak aspek. Skala dan kompleksitas permasalahan-permasalahan dan kerumitan pemecahan-pemecahan jangka panjang yang diketengahkan oleh media massa kepada kita telah menjadi semakin sulit diabaikan.

Maka, pada tanggal 22 -29 Oktober 2009 , Komisi Keadilan dan Perdamaian Konfrensi Wali Gereja Indonesia (KKP-KWI) bekerja sama dengan Komisi Keadilan dan Perdamaian Konggregasi MSC dan Komisi Keadilan dan Perdamaian OFM mengadakan pelatihan advokasi “penghentian kerusakan lingkungan berbasis data” di Hotel 95, Jl. Imam Bonjol, Kota Pontianak, Kalimantan Barat.

Menurut Pastor Danny, OSC bahwa pelatihan ini bertujuan untuk memperkuat masyarakat local dan lembaga gereja local di Kalimantan Barat untuk memperjuangkan hak-hak masyarakat adat dan menjaga hutan dari ancaman degradasi dan deforestasi. “Masyarakat adat memiliki hubungan timbal balik yang erat dengan hutan dan alam sekitarnya. Kalau hutan rusak, maka masyarakat adatnya akan punah. Karena itu, marilah kita menjaga dan merawat hutan dari ancaman degradasi dan deforestasi, dengan melakukan pemberdayaan terhadap masyarakat adat yang hidup di hutan,” tegasnya dihadapan tiga puluh satu peserta pelatihan yang hadir.

Media demi pewartaan Hati Kudus Yesus

Ah, ini sudah. Gambar ini sangat bagus,” tutur Fr. Robert Spania, MSC sambil tersenyum memandang gambar hasil fotonya pada kamera foto Nikkon D40X. Pastor asal Negara Papua New Gunea ini terlihat serius bangga memandang gambar hasil jepretannya sambil tersenyum puas.

Lain halnya dengan Fr. Joni Astanto Sulvisius, MSC yang terlihat serius mencari sudut bidik atas bunga kembang sepatu yang hendak dipotretnya. Pastor asal Indonesia ini tampak tidak terlalu puas dengan hasil jepretannya dan beberapa kali melakukan pemotretan ulang atas bunga kembang sepatu yang terdapat di taman Communication Fondation for Asia di Sta Mesa, Manila-Philippines.

Asikie



“Memang benar, Tanah Papua merupakan tanah yang kaya akan sumber daya alam. Tetapi di atas tanah yang kaya itu kini hidup orang-orang Papua yang miskin. Mengapa? Karena selama ini rakyat tidak menikmati hasil kekayaan itu.”

Siang itu, 28 oktober 2008, kira-kira pukul 12.30 WIT, Ibu Emiliana Omba dan beberapa ibu lain tengah sibuk mengangkut pasir dari tempat galian ke atas truk pengangkut pasir. Pasir itu mereka jual seharga Rp. 1000/kg. Terlihat beberapa ibu, termasuk ibu Emiliana Omba, begitu bersemangat mengangkat karung-karung pasir ke dalam truk yang tengah diparkir.



Minggu, 03 April 2011

Analisis Dampak Sawit

Oleh George Junus Aditjondro

PENGANTAR:
SUMATERA UTARA (Sumut), memang tepat menjadi tuan rumah konferensi alternatif peringatan seabad introduksi kelapa sawit (Elaeis Guineensis) dari Ghana, Afrika Barat, bukan karena jenis palma ini yang semula diintroduksi sebagai tanaman hias di Kebun Raya Bogor, tahun 1848, dan selanjutnya berhasil ditanam secara komersial tahun 1911 di Tanah Itam Ulu dan Pulu Raja di Sumut dan di Sungai Liput, Aceh Timur, berkat rintisan Adrien Hallet dari Belgia dan K. Schadt dari Jerman (Bangun 2010: 104-5; Ghani 2011).

Belajar di "Sananta Sella"

Sepuluh jari tangan Fr. Empi, Novis Missionaris Hati Kudus Yesus (MSC) di Kapel Novisiat MSC, bergerak dengan lincah, membuka lembar demi lenbar Kitab Suci. Matanya terbuka lebar melihat kalimat demi kalimat. Sesekali raut mukanya cemberut! “Saya sedang mencari arti kata ‘adil’, ‘damai’ dan ‘keutuhan ciptaan’ di dalam Kitab Suci”, ungkapnya.

Bukan hanya Fr. Empi saja. Di sudut ruangan konfrensi Novisiat MSC,  Fr. Jack, kawan dari Fr. Empi, serius mencatat. Ia sedang merangkum hasil temuan kelompoknya tentang arti kata “adil” dalam Kitab Suci.

Kamis, 17 Maret 2011

Sejarah Sunyi

Di Merauke (11/2/2011), para pimpinan Sekretariat Keadilan dan Perdamaian se-Papua (SKP se-Papua) bersama Promotor JPIC MSC  menegaskan hak hidup orang asli Papua sedang terancam. 

Ada lima masalah utama hak hidup orang asli Papua, yang menjadi keprihatian bersama pimpinan SKP se-Papua, yakni  kerusakan dan kehancuran lingkungan hidup (masalah ekologi dan investasi), gagalnya implementasi OTSUS, militerisme dan kekerasan aparat, dialog Papua (internal antar orang Papua sendiri) dan Jakarta – Papua dan pendidikan dan Kesehatan yang terus menerus problematik”, ungkap koordinator SKP se-Papua, Br. Rudolf Kambayong, OFM.

Persoalan-persoalan ini menjadi pelanggaran di bidang hukum dan HAM di tanah Papua, karena perangkat hukum dan kebijakan publik yang ada sesungguhnya masih berorientasi pada langgengnya kekuasaan, jabatan dan kepentingan pihak penguasa beserta kroni dan kelompok dekatnya ketimbang memihak pada kepentingan Orang Asli Papua di tanah Papua.


Aku memotret Papua


Konflik laten antara masyarakat Papua dan aparat Negara Kesatuan Republik Indonesia, secara historis dilatarbelakangi hasrat masyarakat Papua untuk menentukan nasib mereka sendiri sebagai bangsa dan negara Papua Barat, setelah dijanjikan oleh penguasa kolonial, Kerajaan Belanda, setengah abad yang lalu. Untuk memperkuat cita-cita kemerdekaan itu, diciptakanlah lagu kebangsaan, Hai Tanahku Papua, serta bendera Bintang Kejora. Berpuluh-puluh tahun kemudian, Sang Bintang Kejora tetap dikibarkan dalam setiap aksi pro-kemerdekaan Papua Barat, walaupun dengan pertaruhan nyawa.

Senin, 24 Januari 2011

Dari Yodom ke Penang

Sebuah renungan di selat Malaka

Malam itu di tahun lalu(1/11), pukul 20.00, di ruang pertemuan kantor LSM Suara Rakyat Malaysia (SUARAMA) di Penang-Malaysia, lima bapak paruh baya bercerita dalam bahasa Mandarin tentang sejarah pergerakan sosialis di Malaysia. Ada 10 anak muda yang mendengarkan. saya, salah satu dari 10 anak muda itu. Rungan pertemuan sangat kecil, tak cukup menampung, sehingga kami duduk berdempet-dempetan. Jing Cheng, kawan saya yang juga staff SUARAM Penang, dengan setia menerjemahkan kepada saya. Maklum, saya tak cakap berbahasa Mandarin.

"Setia perjuangan harus bersama rakyat. Tanpa keterlibatan rakyat, tidak ada perjuangan," tegas salah satu dari lima orangtua itu.