Papua Storyteller

Loading...

Jumat, 17 Juni 2011

PENDIDIKAN: MENGERTI MANUSIA = MENGERTI ALAM SEMESTA

Pada awal revolusi industri tahun 1850, konsentrasi salah satu gas rumah gaca (GRK) penting, yaitu CO di atmosfer baru 290 ppmv (part per million by volume), saat ini (150 tahun kemudian) telah mencapai 350 ppmv. Jika pola konsumsi, gaya hidup, dan pertumbuhan penduduk tidak berubah, 100 tahun yang akan datang konsentrasi CO diperkirakan akan meningkat menjadi 580 ppmv atau dua kali lipat dari zaman pra-industri. Akibatnya, dalam kurun waktu 100 tahun yang akan dating suhu rata-rata Bumi akan meningkat hingga 4,5 C dengan dampak terhadap berbagai sector kehidupan manusia yang luar biasa besarnya. Menurunnya produksi pangan, terganggunya fluktuasi dan distribusi ketersedian air, penyebaran hama dan penyakit tanaman.


Kenyataan seperti ini, yang selalu mengancam kelangsungan species di bumi ini telah menarik perhatian pelbagai kalangan masyarakat. Arne Naess dalam Ecology, Community and Lifestyle (1993), menyebutkan bahwa krisis lingkungan dewasa ini hanya bisa diatasi dengan melakukan perubahan cara pandang dan perilaku manusia terhadap alam yang fundamental dan radikal. Yang dibutuhkan adalah sebuah pola hidup atau gaya hidup baru yang tidak hanya menyangkut orang per orang, tetapi juga budaya masyarakat secara keseluruhan. Artinya, dibutuhkan etika lingkungan hidup yang menuntun manusia untuk berinteraksi dalam alam semesta. Untuk membangun suatu etika lingkungan hidup, kita membutukan pendidikan yang berbasis pada humanty. Pendapat ini hendak menegaskan bahwa persoalan inti dari krisis ekologi yang melanda kita terletak pada paradigma manusia dalam mengerti alam semesta ini yang tidak humanis.

Beberapa dekade terakhir ini, ketika isu lingkungan hidup diperdebatkan oleh kita, yang muncul adalah suatu tuduan bahwa paradigama yang terlalu antroposentris terhadap lingkungan hidup ini, yang menjadi akar persoalan dari pelbagai persoalan, seperti kerusakan hutan, hilangnya keanekaragaman hanyati, dan sebagainya. Manusia terlalu ditempatkan pada posisi yang lebih unggul dari segala makhluk bumi yang lain. Manusia dimengerti sebagai makhluk yang memiliki kuasa untuk menguasahi makhluk bumi lainnya. Bagiku, ini adalah salah satu potret proses kehidupan manusia selama ini yang berorentasikan pada pendidikan yang lebih menitik-beratkan pada penguasaan ketrampilan-ketrampilan untuk kepentingan kerja, yang disebut pendidikan vokasional, dan demi menjawab tuntutan pasar kapitalis, serta bersamaan dengan itu meningalkan pendidikan yang berbasis pada pembentukan karakter humanity. Belajar dari pengalaman pendidikan kita selama ini, khususnya di era yang disebut neo-liberalisme ini, dimana sistem kapitalisme dunia menguasai kehidupan masyarakat -terjadi monopoli modal oleh perusahan-perusahan- proses belajar mengajar di lembaga pendidikan formal telah dikelolah dengan sistem pengelolahan ala perusahan kapitalis disadari tidak menjawab persoalan mendasar manusia tetapi menanba memoriam passionis manusia. Hal ini sudah dingatkan oleh Ivan Illich dalam bukunya, Deschooling Society (1974). Oleh karena itu, kita membutukan suatu paradigma baru pendidikan kita, yakni pendidikan humanity sebagai jawaban atas persoalan krisis ekologi yang dialami oleh makhluk bumi.

Mengapa? Ada dua alasan: Pertama; karena dalam konteks masyarakat Indonesia, masalah dibalik krisis ekologi yang paling serius dihadapi adalah masalah moral, sebagai contoh adanya masalah korupsi dan illegal loging, misalnya pada tahun 2004, laporan yang dikeluarkan oleh EIA-TELAPAK menunjukan bahwa illegal login merajalela di seluruh Papua mencapai 600.000 m³ dan kayu tersebut dilog dan diekspor secara illegal. Kedua; Karena kehidupan suatu negara atau daerah yang sejaterah, adil dan makmur, pertama-tama dan terutama harus diselenggarakan menurut keutamaan-keutamaan moral, dan bukannya hukum positif. Pendidikan adalah sarana yang tepat untuk menghasilkan warga negara yang memiliki keutamaan-keutamaan moral.

Tentang alasan-alasan ini, oleh Konfusius atau Kung Fu Tzu atau Kong Hu Chu, seorang filsuf Cina, pernah berkata, “Mereka yang ingin menampilkan kehebatan kepada dunia, harus terlebih dahulu menyumbangkan ketertiban pada negaranya. Mereka yang ingin menyumbangkan ketertiban pada negaranya, harus terlebih dahulu menata keluarganya. Dan mereka yang ingin menata keluarganya, harus terlebih dahulu mengembangkan kualitas kehidupan pribadinya. Dan mereka yang ingin mengembangkan kualitas kehidupan pribadinya, pertama-tama harus memurnikan dan meluruskan hatinya. Mereka yang mau memurnikan dan meluruskan hatinya, pertama-tama harus memiliki kehendak hati yang tulus. Mereka yang mau memiliki kehendak hati yang tulus, pertama-tama harus menempuh pendidikan yang benar. Pendidikan yang benar akan menghasilkan kehendak hati yang tulus. Kehendak hati yang tulus menghasilkan kemurnian hati; hati yang murni dan benar menyebabkan kehidupan pribadi yang bijaksana; kehidupan pribadi yang bijaksana menghasilkan keluarga yang teratur; keluarga yang teratur menghasilkan kehidupan negara yang tertib dan sejahtera. Kehidupan negara yang tertib dan akhirnya membuahkan perdamaian bagi dunia.” (Ta Hsueh).

Ungkapan Konfusius sebagai pendiri konfusianisme, sudah tersirat bahwa perdamaian dunia, keadilan untuk semua, kesejahteraan dan kemakmuran bersama tergantung secara langsung pada kualitas pribadi, maka mau tak mau pendidikan harus memainkan peran fundamental dalam kehidupan masyarakat. Hakekat pendidikan di sini perlu dipahami secara tepat. Menurut Konfusius, tujuan terpenting dan paling fundamental dari pendidikan ialah mengerti kemanusiaan (humanity). Maksudnya, hakikat manusia harus dimengerti, begitu pula alam semesta seluruhnya, sehingga kehidupan bisa ditata menuju kesejahteraan karena apa yang disediakan alam bisa dimanfaatkan sebagaimana mestinya. Hanya melalui pendidikan orang bisa mengenal dirinya sendiri sebagai manusia dan mengerti alam semesta. Tanpa pengetahuan ini, sulit dibayangkan bagaimana kehidupan sehari-hari bisa ditata dalam harmoni dengan alam lingkungan. Perdamaian dan kebahagiaan tergantung pula pada harmoni tersebut. Dalam arti itu pendidikan semestinya menjadi proses dimana sikap atau watak hidup yang bijaksana ditumbuhkan dan dipelihara. Oleh karena itu dalam kitab Ta Hsueh, Konfusius menegaskan, “Prinsip terpenting dalam pendidikan ialah memelihara watak manusia agar tetap bersih, memberikan kehidupan baru kepada peserta didik, dan menuntun orang kepada kesempurnaan atau kebaikan hati. Dan proses pendidikan semestinya menghasilakn “pengetahuan yang benar” mengenai akar atau dasar dari peristiwa-peristiwa hidup.*



Tidak ada komentar:

Posting Komentar