Papua Storyteller

Loading...

Senin, 08 Agustus 2011

Semalam di Kota Tinutuan

Jalan Boelevard Manado jam 21.30 malam. Supermarket Multimart baru saja tutup. Para pelayan dari beberapa supermarket, di sepanjang jalan Boulevard, satu persatu mulai bergegas pulang ke rumah. Beberapa anak dengan gaya punk lalu lalang di depan Supermarket Multimart. Kalah itu, aku turun dari mikrolet wanea samrat tepat di depan Plaza Telkom Manado dan berjalan kaki menelusuri jalan samrat kemudian ke jalan boulevard.

Mery mengagetkanku

Tepat di belakang gedung Plaza Telkom Manado, aku berhenti dan duduk sebentar di halte. Selang beberapa menit, ada seorang wanita dengan paras cantik, bersetelan celana jins dan berbaju kaum tangan panjang bergaris, mengampiriku sambil menyapa, “Selamat malam!”, aku membalasnya dengan jawaban singkat, “Malam.” Wanita itu mendekatku
dan mengambil tempat duduk persis lima cm dari diriku. Aku sempat kaget dan bertanya dalam hati, “kok kami tidak pernah ketemu sebelumnya tapi ia terkesan sangat akrap.” Setelah ia memperkenalkan diri dengan nama Mery dan bertanya kepadaku, “Mas cari cewe?” saat itulah baru aku sadar bahwa Mery ini adalah seorang PSK. Akupun terlibat pembicaraan selama 10 menit dan sesudah itu ia minta rok ke aku tapi aku tidak punya. “Aku tidak punya rokok.” Sautku menanggapi permintahannya. Lalu aku memberikan Mery uang Rp. 5.000, untuk beli rokok. “Aku beli rokok dulu ya.” Sahutnya sambil berdiri dan berjalan membeli rokok di dekat cafĂ© M&J. Aku kembali duduk seorang diri sambil menikmati lagu “Bapa yang Kekal”, yang diputar di Gereja Masehi Injil Minahasa (GMIM) Jemaat Kristus. Sesekali terlihat para PSK dengan pakaian menor melewatiku sambil sedikit mengoda. Ada juga PSK yang tampak sibuk memperhatikan para pengendara mobil atau sepeda motor, dengan harapan ada yang mampir dan mengajaknya kencan. Situasi malam sempat bag kawanan binatang yang merampas makanan, ketika seorang pria bule (baca: turis luar negeri) memberhentikan motornya persis di depan para PSK itu.

Senda gurau yang kosong

Dalam kesendirianku, aku tersentak kaget, setelah mendengar suara, “mas, cewe tadi minta berapa?” “Aku tidak mencari cewe.” Jawabku. Laki-laki 40 tahun itu mengampiriku dan duduk persis di tempat yang tadinya Mery duduk. “Namaku Robi.” Ia mengulurkan tanan kanannya sambil memperkenalkan diri.  “Di sini cewenya mahal-mahal, tariff mereka Rp. 250.000-350.000.” Sambil menunjuk seorang wanita dengan bodi seksi, ia berkata, kalau yang ini Rp. 350.000. Ia cantik sekali. Dulu badannya seksi tapi sekarang sudah mulai kelihatan gemuk”. “oya.” Aku bereaksi, lanjutku, “kenapa bisa seperti itu?” “Oh…itu karena dia sudah punya anak. Dia itu punya suami. Mereka yang jadi PSK disini rata-rata sudah punya suami, tapi bukan suami resmi. Ini (sambil menunjuk seorang PSK) sudah punya suami. Suaminya itu pemudah yang duduk di atas motor Honda itu. Aku keget luar biasa. Tanpa malu-malu, Robi lalu menawarkan seorang PSK kepadaku. “Mas kalau kamu suka cewe, dengan cewe itu. Goyangannya bagus. Dia sudah perpengalaman.” Wah, ternyata yang ditunjuknya adalah seorang PSK, tinggi bandannya kira-kira 160 cm. Selang beberapa waktu, akhirnya aku sadar bahwa laki-laki yang ada duduk bersama PSK-PSK itu adalah suami-suami mereka. “Suami-suami PSK itu biasanya mengantar mereka ke Bolevard jam 21.30 dan akan antar pulang lagi jam 3.00 atau jam 4.00”, sahut Robi.

Ke Taman Kesatuan Bangsa & Plaza President

Sebagai orang yang selalu penasaran dan ingin selalu mencari tahu lebih, akupun berusaha mengali informasi terus dari Robi. Dan Robipun mulai bercerita tentang PSK-PSK itu, “Kalau mau main dengan para PSK ini, biasanya tergantung tamu, tapi biasanya para PSK suka di hotel.” Lanjutnya, “oya mas, kalau di boulevard ini rata-rata PSKnya muda-muda. Ada yang masih sekolah dan kuliah. Tapi mas suka mau lihat PSK yang lain di TKB dan Plaza Presiden?” Saking penasaran dengan tawaran dan cerita-cerita Robi, aku mengajaknya ke Taman Kesatuan Bangsa (TKB) dan Plaza Presiden. Di Taman kesatuan bangsa, aku kaget karena ada PSK yang kenal sama Robi. Rupanya Robi, pria minahasa itu, adalah sosok yang tidak asing di mata PSK. Dari taman kesatuan bangsa, aku diajak ke belakang Plaza President, disana ada dua orang PSK yang telah dijemput sang tamu dengan ojek dan lewat persis di depan kami. Aku dan Robi terus berjalan ke arah belakang Plaza President. Sesampainya di sana, kami mendapati 4 orang ibu 30-an tahun duduk-duduk sambil merokok. Robi mengajakku duduk persis di samping ibu-ibu itu. Di belakang kami ada seorang bapa, berparas sederhana, tidur beralaskan sobekan gardus. Tampaknya Bapak itu menikmati tidurnya. Robi menunjukan tangannya kea rah bapa itu dan berkata, “Bapa ini adalah pemulung di sini.” “Waw, tidur tanpa baju.” Aku tersentak kaget setelah melihat bapa itu tidur bertelanjangkan dada. “Mas, mau cewe.” Tanya seorang ibu. Sebelum aku menjawab pertanyaannya, Robi menyahut sembari menjelaskan, “Dia ini orang tondano, Minahasa. Kalau yang itu orang Gorontalo dan yang kulitnya sedikit  gelap itu orang sanger.” Oya, akupun bereaksi, dalam hatiku ternyata jadi pelacur tidak kenal suku. “Mas, minum jo.” “Oh, tidak!” jawabku kepada ibu tondano itu. “Kalau kamu layani tamu bagaimana, maksudku tempat dimana?” tanyaku. “Tergantung tamu.” Jawabnya. “Kalau tamu tidak tahu tempat?” tanyaku lebih lanjut. “Oh boleh di sana (sambil menunjuk bangunan yang telah rusak akibat pengusuran oleh Pemkot)”. Sambil cerita-cerita, ibu tondano berkata, “kalau  kita (=aku) pe suami suka main dengan cewe lain, oh kita kase no.” Aku menyambung, “kalau minta doi for main?” Oh, kita tetap kase no. Lebih baik kita kase doi Rp. 250.000 pa dia daripada kita dipukul. Hidup pe susah bagini lai.” Aduh hatiku terasa tersambar petir. Aku tidak menyangkah bahwa di zaman ini ada kehidupan keluarga seperti ini. Berselang beberapa waktu akupun pamit dan pulang. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar