Papua Storyteller

Loading...

Rabu, 14 Juni 2017

ANDALIMAN, BUMBU MASAK UNIK DARI KAKI PEGUNUNGAN HIMALAYA

Artikel utk rubrik Kuliner mjlh In-Out

ANDALIMAN, BUMBU MASAK UNIK DARI KAKI PEGUNUNGAN HIMALAYA
--------
George Junus Aditjondro

KAKI  PEGUNUNGAN BUKIT BARISAN, di bagian utara Pulau Sumatera, menyimpan satu bumbu masak yang unik, yang hanya terdapat di daerah itu di Kepulauan Nusantara, dan kemungkinan besar berasal dari kaki Pegunungan Himalaya. Maksud saya bukan ganja, yang lebih banyak tumbuh secara liar di dataran rendah Nanggro Aceh Darussalam (NAD), melainkan andaliman (Xanthoxylum  acanthopodium), sejenis perdu dengan biji-biji kecil, yang oleh orang Barat dulu keliru memasukkannya dalam keluarga lada atau merica. Makanya dalam bahasa Inggris, andaliman  dikenal dengan nama “Sichuan pepper”, atau “lada Sichuan”, walaupun tanaman itu bukan lada. 

Bumbu masak khas Sumatera bagian Utara itu dikenal dalam bahasa berbagai suku yang menggunakannya dalam masakan khas mereka. Misalnya, dalam bahasa Gayo di seputar Danau Laut Tawar, dikenal dengan nama empan,  dan dapat dibeli di pasar Takengon, jam 6 pagi. Lebih siang sedikit, sudah habis. 

Menyusuri lembah-lembah Bukit Barisan dari Aceh ke Selatan, suku-suku yang akrab dengan andaliman adalah suku Gayo, yang menyebutnya empan, suku (Batak) Karo yang menamakannya tuba,  selanjutnya suku (Batak) Toba, dari mana istilah andaliman  itu berasal, suku (Batak) Simalungun, sampai dengan suku (Batak) Mandailing di daerah Tapanuli  bagian Selatan, menyebutnya andaliman juga. Lebih ke selatan lagi, budaya andaliman seperti lenyap dari muka bumi. 

Jadinya, andaliman praktis hanya tumbuh – dan dimanfaatkan – oleh suku Gayo di Aceh dan suku-suku Batak di Sumatera Utara. Sedangkan di kota-kota besar di Jawa di mana hidup banyak perantau Batak, banyak pedagang hasil bumi menjual andaliman serta berbagai hasil bumi khas Sumatera, seperti berbagai jenis ikan kering dan berbagai jenis ikan teri (seperti teri nasi, teri Medan, dan teri Sibolga).

Konsumen andaliman yang lain adalah restoran-restoran Tionghoa di Jakarta dan kota-kota besar lainnyamenunya menyajikan  berbagai menu Szechuan, misalnya nasi goreng Szechuan. Konsumen-konsumen Tionghoa itulah yang mempopulerkan nama “Sichuan pepper” dalam bahasa Inggris.

Penelusuran  melalui  internet menggunakan kata kunci “Sichuan pepper”  menunjukkan bahwa andaliman juga tumbuh di lembah-lembah pegunungan di pertemuan negara-negara Asia Selatandan Asia Timur , yakni di Konkani (IndiaBarat)) Nepal, Bhutan, Tibet, Taiwan, dan provinsi Sichuan (Szechuan) di Tiongkok Barat Daya, yang bertetangga dengan Tibet. Selanjutnya, tanaman itu menyebar melalui Semenanjung Korea ke Jepang, dengan varietas andaliman masing-masing. 

Manfaat KulinerAndaliman
Manfaat kuliner andaliman diperoleh dari kulitnya, sementara bijinya yang berwarna hitam mengkilat, dibuang. Kulit andaliman meninggalkan rasa pedas yang dapat membuat bibir menjadi kebas, apalagi kalau dimakan dalam jumlah besar. Rasa kebas ini, yang bisa membuat air mata berlinang, mirip seperti efek yang ditimbulkan oleh wasabi, sambal Jepang. Rasa kebas itu berasal dari zat kimia hydroxy-alpha-sanshool  sebesar 3% yang terdapat dalam kulit andaliman, mirip seperti perasaan di lidah kalau kita menjilat elektroda baterai 9 volt. 

Dalam tradisi kuliner Batak, sepertiyang diteliti oleh penulis selama bertahun-tahun berkelana di Tano Batak, andaliman dicampur dengan lombok hijau dan cabe rawit, menjadi sambal andaliman yang berwarna hijau. Sambal itu  dipakai untuk menemani babi panggang,  sagsang (daging babi yang dipersiapkan dengan bumbu darah), ikan mas bakar, serta berbagai jenis masakan ikan mas yang lain, seperti dengke ni arsik, atau ikan yang dimasak dalam andaliman dan bumbu-bumbu dapur yang lain, serta ikan mas mentah yang difermentasi dengan asam dan andaliman, yang dikenal dengan sebutan dengke nan niura (N.B.: dengke, dibaca dekke, berarti ikan). Tapi yang biasa dijadikan dengke nan niura adalah ikan mas besar yang dibelah dua. 


Sedangkan bagi orang Gayo di dataran tinggi seputar Danau Laut Tawar, andaliman atau empan  digunakan dalam mengolah berbagai jenis ikan, terutama ikan depik  (Rasbora Leptasoma  atau R. tawarensis), ikan endemik yang khas di danau itu. Empan juga digunakan dalam salah satu masakan khas Gayo,  yakni masam jeng dengan citarasa pedas, asam dan gurih. Dulu khusus depil yang dimasak masam jeng, tapi sekarang ikan apa saja bisa. Berbeda dengan masakan Batak, hanya daging yang tidak pernah dimasak dengan empan dalam tradisi kuliner Gayo. Begitu menurut Darmawan, seorang narasumber penulis di Takengon.

Secara umum, berbagai jenis makanan dengan bumbu andaliman berfungsi untuk menghangatkan badan  menghadapi angin pegunungan yang berhawa dingin, baik di kaki Pegunungan Himalaya, maupun di lembah-lembah Bukit Barisan sebelah Utara yang agak mirip ekosistemnya.  Boleh jadi, tanaman langka ini menyebar dari daratan Asia ke Sumatera Utara, lalu menyusuri Sungai  Peusangan ke kawasan seputar Danau Laut Tawar, terus ke Tanah Karo dan kemudian menyusuri Bukit Barisan  di seputar Danau Toba, terus  ke Tapanuli Selatan. Tidak adanya nama asli dalam bahasa Simalungun dan Mandailing, menunjukkan bahwa introduksinya ke kedua habitat itu lebih muda, sesudah lebih dulu diperkenalkan ke seputar Danau Toba. 


George Junus Aditjondro, adalah peneliti, penulis, dan dosen Universitas Sanata Dharma, yang sering ke Sumatera bagian Utara untuk pekerjaannya, dan mencintai berbagai kuliner etnik di Nusantara.

Sabtu, 20 Mei 2017

Catatan untuk Waena, Jayapura

Pola yang sama ketika para Jendral bermain dalam konflik Ambon dan Poso, kini dimainkan di Papua!

Orang asli Papua dijadikan targetnya. Pertama Polisi sebagai aparat keamanan mencipatakan opini publik bahwa orang asli Papua itu penjahat, sehingga layak disiksa, ditangkap, dipenjarahkan dan dibunuh. Ini dapat kita saksikan lewat polisi melakukan peyergapan tujuh orang bersama seorang DPO kabur dari LP Abepura. Polisi menembak, menangkap dan menyiksa delapan orang tersebut, dan isu yang diterima oleh warga lewat pemberitaan media adalah mereka yang ditembak itu adalah pelaku pembunuhan seorang Ibu yang mayatnya ditemukan tak jauh dari lokasi penyergapan. 

Lihat Detik News: Tim khusus Polres Jayapura Kota berhasil menangkap pelaku pembunuhan wanita pekerja warung tahu tek di Jalan Taruna Bhakti, Kota Jayapura. yang terjadi Jumat (19/5/2017) pukul 05.40 WIT tadi. Pelaku yang ditangkap berjumlah 8 orang.(Link: https://news.detik.com/berita/3506596/polisi-tangkap-pembunuh-wanita-penjual-tahu-di-jayapura)

Isunya diciptakan dan dikembangkan, di satu sisi, tujuannya adalah membuat masyarakat takut dan menyadari dalam pikiran bahwa orang asli Papua itu memang jahat atau kriminal, sehingga warga, khususnya sedaerah dengan Ibu korban merasa dan mengalami terdesak dan terancam. Ini menjadi prasyarat untuk konflik horisontal. Setelah itu, kata "Wamena", "Orang Gunung", "Orang Papua", mulai dipakai dan sering dipakai oleh keluarga atau komunitas yang merasa korban. 

Dalam kasus dari ibu yang mayatnya ditemukan itu adalah upaya mencipatakan gambaran orang asli Papua sebagai pelaku Kejahatan dan kriminalis. Representasi Orang asli Papua sebagai kriminalis.
Warga, khususnya keluarga dari ibu itu turun ke jalan, mengamuk dan membunuh dua orang asli Papua tanpa rasa bersalah dan Polisi terlihat tidak mampu mengendalikan situasi. Polisi ada di TKP dalam jumlah yang sedikit. Polisi dalam berhadapan dengan keluarga ibu korban itu tampil sebagai pihak yang tak berdaya untuk mengamankan situasi. Tak berdaya dengan kemarahah keluarga ibu korban. Jika kita bandingkan dengan SOPnya Polisi, maka ada beberapa hal yang perlu dipertanyakan, misalnya bagaimana intel mereka bekerja? Analisis dan informasinya seperti apa? Dan jika kita bandingkan dengan pendekatan Polisi menangani demo damai warga Papua dengan polisi menangani keluarga ibu korban yang marah itu, kita berkesimpulan bahwa Polisi membiarkan dua orang asli Papua dibantai oleh keluarga ibu korban. Ini pembiaran, dan sebagai aparat Negara, pembiaran mengakibatkan warga kehilangan nyawa adalah sebuah pelanggaran HAM. Kapolres Jayapura dan Kapolda perlu dituntut.

Hal lain, Ini settingan. Diatur dan dikendalikan dengan tujuan tertentu, dan saya duka tujuannya adalah teror untuk konflik horisontal dan menggeser dari konflik Politik antara Negara Indonesia dengan Orang Papua yang memperjuangkan kemerdekaan.

Di Kei kecil, konflik di tahun 1998-2000 dibiayai oleh konglomerat Jakarta, begitu juga Poso. Kelompok radikal dilatih oleh anggota-anggota TNI dan Polri, dengan tujuan adalah ekspansi bisnis dari para konglomerat Jakarta yang membentuk jaringan bisnisnya dengan para Jendral.

Sehingga, hemat saya, kita perlu tanamkan bahwa baik ibu yang ditemukan jasadnya dan keluarganya, maupun orang asli Papua yang dibunuh oleh polisi dan keluarga ibu itu adalah korban. Mari kita bersama-sama menggugat Polisi.

Jumat, 19 Mei 2017

Mencegah Geger Ma'kale Terulang di Rantepao

Tulisan untuk Sinar Harapan

Mencegah Geger Ma'kale Terulang di Rantepao
---------------------------------------------------------------------
Oleh George Junus Aditjondro

PILKADA di Rantepao, tinggalsebulan lagi. Masyarakat Toraja Utara (Torut) yang cinta damai tapi juga cinta demokrasi berharap-harap cemas, jangan sampai geger pilkada di Ma'kale, 23 Juni lalu, yang sempat merenggut enam nyawa, jangan terulang kembali. Soalnya, potensi ketidakpuasan terhadap hasil pilkada di Torut cukup besar, seiring dengan polarisasi di antara para pendukung calon Bupati kabupaten hasil pemekaran dari Kabupaten Tana Toraja yang beribukota di Ma'kale.
Polarisasi itu bukan hanya karena banyaknya kandidat yang akan ikut bertarung, Kamis, 11 November mendatang. Apalagi jumlah pasangan akan bertanding sudah turun dari sembilan menjadi enam.
Masalahnya bukan cuma soal jumlah kompetitor, melainkan soal perasaan dipecundangi dengan cara-cara yang tidak fair, bahkan melanggar hukum. Dilihat dari berbagai kerusuhan pasca-pilkada di Nusantara, ketidakpuasan itu sering menggerakkan kelompok yang merasa dikalahkan dengan cara-cara yang tidak adil untuk angkat suara, bahkan angkat parang. 
Dari berbagai wawancara yang penulis lakukan selama dua bulan terakhir, ada berbagai bentuk aktivitas para kandidat dan tim sukses mereka, yang menjadi sumber ketidakpuasan. 
Pertama, ada perasaan tidak puas bahwa Y.S. Dalipang, yang selama 17 bulan menjabat sebagai PLT Bupati Torut, ditengarai telah membuat berbagai keputusan untuk mendongkrak suara bagi dirinya. Seperti, melantik kepala-kepala dinas, camat-camat, guru-guru honorer, dan sejumlah fungsionaris lain yang pro-Dalipang. Termasuk Kepala Dinas P & P, Gagak Sumule, yang masih kerabat Dalipang. 
Orang kepercayaan Dalipang di KPUD Torut ditengarai telah menggelembungkan Daftar Pemilih Tetap (DTP) sampai melonjak 25 ribu suara melebihi DPT waktu pilpres tahun lalu. Walhasil, Selasa, 5 Oktober lalu, massa pendukung enam kandidat beramai-ramai berdemonstrasi ke KPUD, setelah berorasi di art centre Rantepao. Mereka menuntut Pilkada Torut ditunda sampai penggelembungan DPT itu dipecahkan. 
Kedua, tim sukses dari beberapa orang kandidat telah membagi-bagi uang dari Rp 50 ribu sampai Rp 400 ribu per orang, supaya para penerima itu mau memberikan suara kepada kandidat-kandidat tertentu. Salah seorang kandidat yang notabene  masih Wakil Bupati Asmat di Papua, Frederik Batti Sorring, malah juga membagi-bagi uang kepada mahasiswa dan masyarakat asal Toraja di Yogyakarta. 
Pembagian itu dilakukan dalam dua tahap. Dalam tahap pertama, Sorring memberikan Rp 10 juta kepada Kerukunan Keluarga Toraja (KTJ) dan Rp 10 juta kepada Ikatan Mahasiswa Toraja di Yogyakarta (Ikatmaja). Alasannya, untuk meminta dukungan moral untuk maju ke pemilihan Bupati Toraja Utara. Yogyakarta dipilih oleh kandidat yang dikenal dengan singkatan FBS, karena ia alumnus Fakultas Filsafat UGM tahun 1986, sedangkan isterinya berasal dari Wonosari, Gunung Kidul, DIY. 
Dalam tahap kedua, uang dimasukkan ke dalam amplop-amplop yang hanya diberikan kepada beberapa tokoh mahasiswa dan masyarakat Toraja di rumah pribadi Sorring di kawasan Casablanca, di tepi ring road Selatan, Yogyakarta. Rumah bernilai antara Rp 1 s/d 2 milyar itu dibeli untuk anak perempuan dan keponakan Sorring yang kuliah di Yogya. Rumah mewah itu dilengkapi mobil dan supir merangkap penjaga rumah.
Pemberian uang kepada para calon pemilih ada yang disamarkan melalui berbagai cara. Mulai dari undangan makan di restoran, janji pemberian honor saksi yang tinggi, penyediaan fasilitas sepeda motor, pembayaran ojek sampai dengan Rp 95 ribu, serta penyediaan sewa motor dan mobil rental mulai dari Rp 300 ribu s/d Rp 1 juta. Ada juga seorang kandidat yang membentuk tim 30 di setiap KPS, sehingga dengan membiayai regu-regu 30 orang itu dengan dana yang cukup tinggi, kesan money politics  berusaha dihindari. 
Ketiga, ada cara pemberian “bantuan” yang lebih ‘berbudaya’. Sebagian kandidat sibuk berjalan keliling Torut, mencari di mana upacara duka (rambu solo’) atau upacara syukuran (rambu tuka’) sedang berlangsung, lalu memberikan sumbangan babi atau kerbau, walaupun tidak ada hubungan darah dengan yang punya hajat. 
Makanya kandidat-kandidat ini dijuluki to patiro rambu, atau “orang-orang pengamat asap (rambu)”, sebab upacara duka diibaratkan asap yang turun (rambu solo’) sedangkan upacara syukuran diibaratkan asap yang naik (rambu tuka’). 
Betapapun modus operandi nya, rupanya para kandidat itu belum membaca Peraturan Pemerintah R.I. No. 6/2005 tentang Pemilihan, Pengesahan Pengangkatan, dan Pemberhentian Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah. Ayat (1) dari Pasal 64 PP itu melarang pasangan calon dan/atau tim kampanyenya “menjanjikan dan/atau memberikan uang atau materi lainnya untuk mempengaruhi pemilih”. 
Sedangkan ayat (2) mengatakan bahwa calon dan/atau tim kampanye yang “terbukti melakukan pelanggaran sebagaimana dimaksud pada ayat (1), berdasarkan putusan pengadilan yang telah mempunyai kekuatan hukum tetap dikenai sanksi pembatalan sebagai pasangan calon oleh DPRD”. 
Berdasarkan putusan pengadilan yang telah mempunyai kekuatan hukum tetap, itulah kata kuncinya. Kalau KPUD sudah bisa dikuasai, begitu juga Bawaslu, Pengadilan, dan DPRD, maka kecil kemungkinan berbagai tindakan pembelian suara (vote buying) itu dapat dicegah. 
Repotnya, kalau rakyat tidak dapat memperoleh keadilan dari lembaga-lembaga itu, bagaimana usaha rakyat memperoleh keadilan lewat aksi-aksi massa yang keras dan dapat berdarah-darah, dapat dicegah? 
Makanya, untuk mencegah berulangnya geger pasca-pilkada seperti di Ma’kale, sudah saatnya gereja dan lembaga-lembaga agama lain angkat suara, menentang praktek-praktek pembelian suara yang sudah mewabah dari  Toraja ke Yogyakarta. 
Barangkali sudah saatnya para rohaniwan dan rohaniwati memelopori gerakan pengembalian uang, babi, dan kerbau pemberian dari para kandidat.
George Junus Aditjondro, pengarang buku Pragmatisme Menjadi To Sugi dan To Kapua di Toraja,  Penerbit Gunung Sopai, Yogyakarta, 2010. 



Sabtu, 06 Mei 2017

BORN IN BLOOD AND ASHES: SOUTH SUDAN

Article for The Jakarta Post
BORN IN BLOOD AND ASHES: SOUTH SUDAN
By George Junus Aditjondro
Although no African nation reached the finals in the latest World Cup in South Africa, by early July, next week, another world rank title will be won by an African nation. Namely, the title of youngest nation or Republic in the world will have moved from Asia to Africa. 
The youngest nation in the world will not be Timor Leste any more, but South Sudan, which will also be the youngest Republic in the world, not the former Kingdom of Nepal, due to the week long referendum in South Sudan from 9 to 14 January, which  has formalized the separation of South Sudan from Africa's largest nation (Sudan). 
Former U.S. President Jimmy Carter claimed on Monday, 15 January, that Carter Center monitors witnessed a “very orderly process” with “tremendous enthusiasm and excitement in the south,” where the bulk of the almost 4 million registered voters cast their ballots. Turnout in the polling stations that his monitors observed averaged almost 90 percent, he told reporters in Khartoum.
This vote for independence will give South Sudan control of 85 percent of Sudan’s current oil production of 490,000 barrels a day, pumped by an overseas consortium, the Greater Nile Petroleum Operating Company (GBPOC), consisting China National Petroleum Corp. (GNPC, of the PRC, with a 40% stake), Malaysia’s Petronas Bhd. with 30%; India’s Oil & Natural Gas Corporation, with 25%, and Sudapet of the Central Government of Sudan with 5%. This consortium has made Sudan’s output the third-biggest oil producer in sub-Saharan Africa.
This oil production mainly comes from Abyei, a state on the border of North and South Sudan, which was scheduled to hold their own referendum later this year, but has been postponed indefinitily because of disagreements over eligibility.
Understandably, this oil-rich state  may not be so easily handed over by Khartoum to the newborn South Sudn government in Juba, and continuous fighting has been going on between the pro-North Arabic-speaking Misseriya militias and the Ngok Dinka speaking people of Abyei, who consider themselves to be Southerners.
Leaders of both ethnic groups reached an agreement on January 13, while the referendum was in full swing, to take steps to halt the fighting, Abyei’s chief administrator, Deng Arop Kuol told the media on Monday, January 15. Nevertheless, clashes in Sudan's disputed oil-rich Abyei region have killed at least 30 people including police, reports say.
Abyei has long been seen as a potential flashpoint for renewed north-south violence as it lies on the border and is claimed by both sides.
Reports of the violence come on the second day of voting in Southern Sudan's referendum on independence.
The vote was part of a 2005 peace deal which ended 50 years of civil war and conflicts between the Arabic-speaking northerners and the African southerners, in which between 200,000 and 400,000 people died and 2,5 million people displaced
A Southern Sudan military spokesman said that the semi nomadic Misseriya who moved their cattle through Abyei attacked a village with anti-tank weapons and artillery. But a Misseriya leader responded that if they continue to stop us going south, this fighting will continue”. He admitted, though, that they were joined by fighters from the Popular Defence Forces, a militia group backed by Khartoum whose existence was banned under the 2005 peace agreement.
Another  Misseriya leader told AP that ten Misseriya cattle herders were killed in attacks by police on Sunday. "They want to keep us out of the area and declare independence unilaterally," he said. 
This dispute between the semi-nomadic Misseriya, viewed as allies of the north, and the Dinka Ngok, seen as loyal to the south, actually began over grazing rights fortheir cattle, central to both communities' traditions and economies. 
Socio-economic, rather than religion
As has been the case in many inter-ethnic conflicts in Indonesia, the violent conflicts in the border region between North and South Sudan mainly have their roots in the dependency of several ethnic groups over common natural resources, and not by different religious backgrounds per se. 
However, these conflicts often flared into bloody and violent conflicts, after the religious backgrounds of the different parties were over-emphasized by national groups and politicians eager to gain political power. 
This has also been the case in Sudan. The fear of Southerners of the Northerners has been intensified by the aggresive steps of Sudan’s corrupt dictator, Omar al Bashir, to adopt the shariah law for the entire country, while allowing the country to become a base for Omar bin Laden’s Al Qaeda, and tolerating an Arabic partisan group, the Janjaweed, to pursue local agendas of controlling land. 
This corrupt and heavy handed regime of al Bashir and the violent and intolerant measures of Janjaweed and Al Qaeda militants towards indigenous Sudanese has been responded by the indigenous Southerners, who speak Nilotic languages rather than Arabic, to set up the Sudan Liberation Movement and Army under the leadership of the late Dr John Garang. As has been the case of Timor Leste, this liberation movement may become the forthcoming ruling party after South Sudan’s independence will be declared later this year. 
So, a deeper socio-economic understanding of the Sudan conflict, rather than naively reporting it as a religious conflict between Muslim Arabs and Christian Africans should also be encouraged in Indonesian media reports in the post-referendum days. 
The author has become interested in African politics since studying at Cornell University in the US, and has studied inter-ethnic conflicts in Ambon, Poso, and Borneo since 2002. 



Konfigurasi Suku, Kunci Pelengseran Kadhafi

Suara Pembaruan,  Rabu, 2 Maret 2011, hal. 5.
Konfigurasi Suku, Kunci Pelengseran Kadhafi 
Oleh George Junus Aditjondro
Betulkah Libya terancam perang saudara, setelah massa oposisi b.rhasil membentuk pemerintahan sementara di Benghazi, di sebelah timur Tripoli?  Betulkah oposisi terhadap sang diktator hanya terpusat di Libya Timur, sementara rakyat di bagian Barat negeri itu kompak mendukung Kadhafi? Lalu, nanti setelah Kadhafi berhasil dilengserkan, struktur sosial apa yang dapat dipakai untuk membangun kembali negeri kaya minyak itu, di mana belum ada partai politik serta organisasi masyarakat sipil yang kuat, seperti al-Ikhwanul Muslimin di Mesir?
Di sinilah letak perbedaan antara Libya dan kedua negara tetangganya, Tunisia dan Mesir, di mana rakyatnya  telah lebih dulu menggulingkan diktatornya. Kunci perbedaannya terletak di  konfigurasi  antara 140 suku, marga (clan), dan keluarga besar di negeri padang pasir yang kaya minyak itu. 
Seperti dikemukakan sejumlah peneliti dari London School of Economics, Study and Research Center for the Arab and Mediterranean World, Al-Ahram Center for Political and Strategic Studies di Kairo,  serta majalah Der Spiegel di Jerman, keberlangsungan rezim Kadhafi, sangat tergantung pada balance of power  di antara suku-suku itu. Soalnya, suku Ghadafa dari mana Kadhafi berasal, hanyalah satu suku kecil dari bangsa Berber  yang berpola hidup Badawi (bedouin) yang termasuk penduduk asli Afrika Utara. Demi eksistensi politiknya, suku Ghadafa berkoalisi dengan suku-suku yang lebih besar, khususnya suku Magariha, yang paling lama dan paling erat hubungannya dengan rezim Kadhafi selama empat dasawarsa pemerintahan sang diktator.
Suku ini merasa berhutang budi pada Kadhafi, yang telah mengusahakan pembebasan seorang anggota suku ini, Abl Basst al-Mgrahi, dari penjara di Scotlandia karena keterlibatannya dalam pemboman pesawat Pan Am di Lockerbie. Kendati demikian, banyak anak muda suku ini ikut demo-demo anti-Kadhafi di Libya Timur dan Selatan.
Sementara itu, oposisi terkuat berpusat di Benghazi, basis suku Warfalla yang berjumlah sejuta jiwa, seperenam dari seluruh penduduk Libya. Ini suku terbesar di antara 20 suku yang banyak jumlah warganya, dan tadinya dipercayai oleh Kadhafi untuk mengisi aparat keamanannya. Namun suku ini yang pertama berbalik mendukung  oposisi. 
Perwira-perwira suku ini sudah pernah sebelumnya memberontak terhadap Kadhafi di tahun 1993, karena merasa dianaktirikan oleh sang diktator, yang hanya memberikan mereka posisi-posisi no. 2 di korps perwira Libya.
Selanjutnya, Misurata adalah suku terbesar di Libya Timur, yang juga berpusat di kota-kota Benghazi dan tetangganya, Darneh. Suku ini juga sudah bergabung dengan oposisi.
Kuatnya gerakan oposisi di Libya Timur tidak berarti suku-suku di Libya Tengah dan Barat masih setia mendukung Kadhafi. Sheikh Faraj al-Zuway dari suku  Zuwaya (= al-Zawiya) di kawasan Libya Tengah yang kaya minyak, sudah mengancam akan memotong pipa minyak ke Libya Barat serta  jalur ekspor minyak Libya, kalau kekerasan terhadap para demonstran tidak dihentikan. 
Sebelumnya, suku Tuareg yang semi-nomadis dari  Libya Selatan, sudah bergabung dengan gerakan oposisi. 
Akhirnya perlu dicatat peranan suku-suku di perbatasan Libya dan Mesir, yang mendukung perjuangan saudara-saudara mereka di Libya dengan bantuan tempat tinggal sementara yang aman, obat-obatan, susu onta, dan makanan. 2  juta orang itu, yang hidup dari beternak onta dan bertani gandum, melon, dan buah zaitun, juga berjasa menangkap seorang kaki tangan Kadhafi yang datang ke Kairo untuk menyewa pesawat untuk menerbangkan tentara bayaran  yang disewa  Kadhafi untuk menembak mati para demonstran.
Tinggal tentara bayaran serta pasukan khusus Libya yang dikomandani oleh putera-putera Kadhafi, sebagai ‘tameng hidup’ bagi sang diktator , setelah hampir semua kepala suku yang besar-besar, menegaskan oposisi mereka terhadap Kadhafi. 
Dukungan kepala-kepala suku, marga, dan keluarga-keluarga besar  itulah, selama 40 tahun sangat diandalkan oleh anak Baddawa pelaku kudeta tak berdarah tanggal 1 September 1969. Ia rangkul mereka dengan uang serta jabatan-jabatan strategis di militer . Tapi kini mereka buktikan mereka tidak bisa dibeli, dan satu per satu berbalik menentang sang diktator. 
Milisi Galaksi
Cara merangkul dan memecah belah suku-suku di daerah-daerah yang  bergolak, juga dikenal di negeri kita. Terutama di daerah-daerah di mana ada gerakan bersenjata yang berusaha memisahkan diri dari NKRI. Di masa DOM di Nanggroe Aceh Darussalam (NAD), aparat keamanan membentuk milisi pro-NKRI dengan merangkul suku Gayo di seputar Danau Laut Tawar, yang termasuk rumpun Melayu Tua, berbeda dengan mayoritas penduduk Aceh yang termasuk rumpun Melayu Muda. Bahasa, seni tari dan seni rupa orang Gayo pun berbeda dari orang pesisir. 
Selain suku Gayo dan  Alas, yang kini menghuni Kabupaten-Kabupaten Bener Meriah, Aceh Tengah, dan Gayo Luwes, organisasi milisi bernama Galaksi (Gayo, Alas, Sigli – seharusnya Singkil, GJA) juga merangkul transmigran dari Jawa, serta segelintir orang Aceh asli yang anti-GAM. 
Setelah perjanjian damai antara GAM dan Pemerintah RI di Helsinki, Galaksi bubar, tapi teror terhadap para caleg PA (Partai Aceh, eks GAM) mnjelang pemilu legislatif  2009 masih dijalankan oleh  PETA (Pembela Tanah Air), dan dipimpin oleh Bupati Bener Meriah, Ir. Tagore Abubakar. PETA dengan dukungan aparat bersenjata  berusaha menyabot kesepakatan damai di Helsinki, dengan memperjuangkan pemekaran NAD dengan dua provinsi baru, satu meliputi daerah asal suku-suku  Gayo dan Alas, dan satu lagi meliputi kabupaten -kabupaten di pesisir Barat NAD. 
Namun sampai saat ini, provinsi NAD masih tetap dapat dijaga persatuannya, dan pengaruh PETA tidak seberapa. Menurut sumber penulis, PETA hanya berhasil merangkul 5% orang Gayo. Selebihnya orang Jawa dan orang Aceh asli. Jadi walaupun anggota PETA tersebar dari Tanah Gayo sampai pesisir Barat Aceh, usaha pemekaran kedua provinsi baru itu, untuk mementahkan hasil-hasil kesepakatan damai di Helsinki, 15 Agustus 2007, sampai saat ini tidak berhasil. 
Makanya sebaiknya, para pendukung strategi memecah belah suku-suku di seluruh Nusantara, belajar dari kegagalan Moammer Kadhafi di Libya.

Penulis adalah pengajar di Program Studi Ilmu, Religi dan Budaya (IRB) Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta, yang sejak 2007 meneliti rekonstruksi NAD pasca-tsunami dan pasca-Helsinki. 

Sabtu, 08 Oktober 2016

Daftar Nama-nama Anggota Dewan Musyawarah PEPERA 1969

Catatan: nama-nama beruruf merah adalah nama-nama yang dicurigai sebagai non Papua.

A. Kabupaten Manokwari

1. A.Y. ANIMAN
2. ABRAHAM BONAY
3. AGUS NUMBERY
4. BASTIAN GEORGE TANATI
5. B.Y.OHILULIN
6. DIRKBERNANDUS URUS
7. EGBERT DIMARA
8. ELIEZER DEKY WETTEBOSSY
9. JAN MANDACAN
10. JACON MANDACAN
11. Nn. JOCHBETH JULYANA MONOGIN,K.
12. MELKYAS KESULIJA
13. PHILIPUS GODENRIDUSBAUW
14. PHILIP MANDACAN
15. SIMON MANSIM
16. JACOBUS WOFFF
17. PIETER MANDACAN
18. MARINUS IWO
19. SIMON MANDACAN
20. THEO RUMERE
21. JOHANNES MATHEUS TENIHUD
22. HANS WABIA
23. MESES WANGGAI
24. ELISA KAJUKATUI
25. DAVID WARAN
26. AWU SAIBA
27. FREDERIKA WERIANGGI
28. JUNUS AJAMESIBA
29. AMOS WORISIO
30. AGUSTINUS KEREWAY
31. ROBERT SAMADUDA
32. DANIEL XAVARIUS MANIBUY
33. RUBAYA ALKATIRI
34. BAREND MANDACAN
35. JACOB MEIDODGA
36. LODEWIJK MANDACAN
37. NICODEMUS MANDACAN
38. ARNOLD AINUSI
39. ZACHARIAS SAJORI
40. HENDIK SAJORI
41. HERMAN KAJUKATUI
42. MEGEHIRA TOASIBA
43. JOSEPH KAWAY
44. LODEWIJK SAJORI
45. GODLIER MARANI
46. FILIEP AURI
47. ELISA HENDIKA JAMESIBA
48. STEFANUS RAFASI
49. WENAND AKWAN
50. HERMES MANIBUY
51. SIMON SAMADUDA
52. ONISIMUS SAMADUDA
53. CORNELIS TRORBA
54. MUHAMMAD FIMBAY
55. REFINUS DORISARA
56. BAREND ASMORUM
57. GUSTAF JOPARI
58. DORTHEIS MAIDODGA
59. ALEX WABIA
60. BASTIAN WARAN
61. KLEOPAS KAFIAR
62. MOHAMMAD OMBAIER
63. NAWARISA NAZAR BAUW
64. PETRUS WETTEBOSSY
65. PETRUS TUTUROP
66. Ds. TERJANUS RUMAYOM
67. FRANSISCUS SERANG
68. NY. MARIA LATUHERU BETAY
69. NY. JACOMINA URBON
70. SAUL JENU
71. JAN WANGGAI
72. FRITS MAY
73. MOSES RUHULIMA
74. SAUL MAKER
75. IBRAHIM LATENG HEREMBA

B. Kabupaten Merauke

76. MARCUS JOSEPH FOFID
77. NY. NATLIA TALAUT

78. PAULUS NAFI
79. PETRUS FRANS SEMBOR
80. MUHAMMAD KASDAN
81. PETRUS DUMATUBUN
82. J.M. RISAMASU
83. D.A. FATRUAN
84. W.TUHEPARY

85. SOEMARTO WARDOYO
86. JULIUS NGAMEL
87. N.O. DE QUELJOE
88. ELIZA PEPIANA
89. NY. ELSINA METERAY

90. ROSA TEMBAIB
91. ELY DOMINGGUS STEPANUS IMKOTTA
92. NY. E. ENAWELKA
93. Nn. VICTORIA MATURBONGS
94. S.S. DJONI

95. D.J.APAY KANGKIM
96. SEVERINUS RENWARNI
97. ABD. HALIKALKATIRI
98. J.J. SOMAR
99. H. KALIMAN MANGUNROTO
100. LABAN FELUBUN

101. PARTINI SASIYAH
102. M. KASAN MULJODIRONO
103. NY. PUTURUHU
104. ENGELBERTUS RAHAILWARIN

105. J. NGGONE MAHUSE
106. SILUBUN MELCHIOR
107. LABULA
108. ACHIR KASLIMIN
109. NY. Z. S. P. PRIMASSU
110. BERNADUS GEBUKUA
111. J. JULIUS RAHAKBAUW

112. ANTONIUS SATEK
113. BENEDIKTUS KAMOKOPIMU
114. SOEMARDJI REDJO
115. ABDUL MANAP

116. PETRUS TARO GEBSE
117. TATIHERLULY RIMBO
118. J. TEPRO NDIKEN
119. TASMAN TATANG
120. DAVID THOMBA WAMEJAB
121. KAMIDJAN HASAN MAKMUR
122. FRANS LEONARD MANDESSY
123. F.J. RETTOB LAUT
124. DAVID UGO
125. EPHRAIM TOMY
126. THOMAS ONAM
127. ROMANUS GURU
128. ST. WAFFA
129. PAULUS JOSEPH JANOA MAHUSE
130. TARISUS KASABE GEBZE
131. M. S. KAISE
132. PETRUS TIKUK
133. L. KAMOPOP
134. ALFONS ENDOM
135. IKWARON
136. A. ARAM
137. EASEBIUS KOJAN
138. KAREL KERANOP
139. JOSEPH MATAMKO KURUT
140. OTIROP LONGGOWAN
141. ARNOLD ARON
142. BIBIANUS FRANSISCUS BINGGO
143. ADRIANUS KONGGONO
144. JACOBUS AMTA
145. HENDRIKUS JOSEPH RAHALUS
146. ALFONS WALEWOMAN

147. NY. CORNELIA DAMBUDJAI
148. FELIX MATURBONGS
149. BONEFASIUS SAMAKAKI
150. WILEM RESUBUN
151. FX. FUTUNANEMBUN

152. PAULUS TARAM
153. KASIMIRUS NIGIN
154. ALEXSIUS TADEJAPKAIMU
155. MARSIA GAJARI
156. HERMAN JOSEPH ESOMAR
157. DOMINIKUS JAMIEAN

158. PETRUS IMBIRI
159. PETRUS JOSEPH RETTOBLAUT
160. LUSIDIUS NUHUJANAN

161. JACOB TJEMMAMOK
162. MAX MILIANUS HURULEAN
163. D. RAHAIJAAN
164. ANDRIANUS SETTITT
165. ANDRIANUS FARNEUBUN

166. JOHANIS PAKANANTJIS
167. HERMAN FARNEUBUN
168. PATRISIUS JEBMOB
169. OTTO ARAR
170. GERADUS OHOIWUTUN
171. VITALIS NDIKEN TAHAKU
172. PAULUS BASIK-BASIK
173. ANTONIUS KITI
174. GOLDJAI
175. PETRUS KOWOMU
176. ULUTIROP
177. JOHANIS BAPA AMBUNAP
178. NICOLAS DIMU
179. JERMIAS JENIMO
180. AMANDUS AMAY MANGGAIMU
181. BLASIUS KABANIMU
182. ANAKLETUS KABAJAMU
183. THADEUS TARI
184. MARCUS TABU
185. ADRIANUS ANABRO
186. MICHAEL TAMA
187. KAPES JAPEN
188. JOHANIS KOMAI KAIMAGAIMU
189. DANIEL KAIMERAMU
190. JACOB NGASMAN
191. IRENEUS DJIRIU
192. JUFENSIUS MBAJIT
193. THOMAS SIMPAR
194. PAULUS ATEMBER
195. PAULUS TJENKAMPER
196. BISIR
197. FABIANUS
198. BESTAGAIS
199. AMATUS AMNAP
200. SIMON TJEMEN AKAT
201. ADRIANUS ATJU
202. JOSEPH JUAK
203. PRIMUS BISAI
204. MOSES RARO
205. SELVINUS LATUMAHINA
206. THOMAS RAHAYAAN
207. H. DUMATUBUN
208. P. LAKAY
209. MOH. SALEH RUMASUKUN
210. SALIMAH THAMRIN
211. FRITSOTHNIL WERLUKEN

212. TH. RAMANDEY
213. JULIANA KABES
214. THERESIA MOTOP
215. ALLEGONDA RETTOP
216. NY. DOMINIKA KANDAI-MULAMORA
217. MACIMUS DADU AMTA
218. THEODORUS TAWURUTUBUN
219. AGNES MANENAKOA

220. PETRUS GEK
221. JOSEPH KOTOWIJONG
222. ANTONIUS ANONG
223. KAREL KAIGIT
224. PIUS TOWA
225. KETOIM
226. KONOWAROP UGJANDID
227. MAURITSIUS MAMU
228. WANGGUMOB
229. PIUS PISO
230. OPESU
231. DOMINIKUS AWOM
232. SIMON ABOGOI
233. JACOBUS KODE
234. KAJUS KAJUK
235. MOSES BAA
236. THADEUS BATUK
237. PIDO SENGGO
238. SUA WAMINI
239. GALUS KAJEP
240. BUCHI JUBJU
241. DANIEL NDAT JEMEN
242. JACOB SAKARPITSJ
243. URBANUS ONAM
244. HELARIUS GIRAAH
245. TAMMEKO
246. WOMBI
247. PIRIKUS
248. AFAMAR
249. PAULUS OMBI
250. MARCUS DJAIR
251. HENDRIKUS ON
252. BENEDICTUS MBITJEN

C. Kabupaten Paniai

253. DS. KAREII WENGGE
254. FERDINAND TEKEGE
255. TABUNI AMINWOGO
256. ENOUMBI MBRIJANOM
257. SEPERIUS NAWIPA
258. PAULUS ALOM
259. IBU MAIDA TENOJE
260. DEBABI JOGI
261. ENAIYATAKA
262. UKOWOI PIGAY
263. YEGETO YEIMO
264. JUWOPATUMA JEIMO
265. KASPER TATOGO
266. BADITUMA MOTE
267. TITUS NAWIPA
268. UWAKAUBEGA GOBAY
269. TAWATEBUI BUNAY
270. WIB GOBAY
271. SIMON KUDIAY
272. BRUMO KAYAME
273. SIMON YEIMO
274. BOHTLIER TEKEGE
275. DIMAJAPE JEIMO
276. MEREUTUMA GOBAY
277. TIPITOMA YOGI
278. TOPITUMA GOBAY
279. THOMAS NAWIPA
280. JOSAN NAWIPA
281. EKAGAYOKA DEGEY
282. LINUS PETRUS MOTE
283. WILEM CELCIUS ARONGGEAR
284. MARCELIUS MOTE
285. IBU LEONORA SALOMI MAILOPUM/LOHIY
286. ELLY NAWIPA
287. GERAD SOREN
288. USMAN BARAWERI
289. VIKTOR PEKEY
290. WOLURUNAGA TELENGGEN
291. NY. THABITA WENGGER SAWAKA
292. PETRUS WARAY
293. IBU FREDERIKA GOBAY
294. IBU DIANA DANOMIRA/KORAWA
295. NY. JULIANA MARIA SAWO
296. S.M FACHRUDIN
297. Nn. JACOB JOHANA RUMADAS
298. MARCIA GIAY
299. JUNUS SEMBOR
300. DS. RH. J. TETELEPTA
301. L.P. GOBAY
302. JOSEP JEIMO
303. WEIJA TUANBUNUK
304. SALMON PAKAGE
305. PAULUS MOTE
306. N. N. RUTH LATIPAI
307. IBU G. DAKOSTA DAWAKA
308. ZEFNAT TITAMA
309. Nn. MARTHA SAHORI
310. DAVID TOTOUKI
311. ELIAS GOBAY
312. AGUSTINUS MOTE
313. MADAIBUNAMOYE MADAI
314. MARIUS TAKIMAY
315. JUDAS KOBEPA
316. LARIKNUKUNAI
317. ENOUMBI WALUMBAN
318. KIWO ERIKBAN
319. KERANGGUKWE ENOEMBI
320. NGGARERIBAGA TELINGGEN
321. TABUNI JUKURUGUT
322. IBU KETSIA PAKAGE
323. MURIP ONEMWI
324. WANIMBU AGONOLAK
325. ENDUMBI JINGMIBAN
326. COSMAS PEKEY
327. LODEWIJK WORUMBUNI
328. GENENIK MURIB
329. HENDRIKUS SEMBOR
330. MAGAIDA GOBAY
331. DEMIANUS JOUW
332. ADIPOUGA ADII
333. WAKERWA PIPINGEN
334. WONDA WILUARIT
335. MURIP WILARENGEK
336. TABUNU POLE
337. JULIUS PEKEY
338. JUNUS MANUPAPAMI
339. ELIAS TAKIMAY
340. LIMBREK MARANI
341. MATHIAS PEKEY
342. WAKERWA SUHARTO
343. ALOM BIBITA
344. WANIMBO HOMBI
345. WAKERMA FANDELINUS
346. JOHANES MASAKERI
347. JULIUS SONGGENAUW
348. WAKERMA NDAWIYAGE
349. KOGA HONGGOUWO
350. KOGA WORAGINAKAK
351. WAKERMA YIWINONGGEN
352. WONEMANGGOLEKALOM
353. MAGAY LANI
354. KOKOYA LINGGE
355. KOKOYA TENGGELAK
356. TELINGGEN TUGILO
357. MURIP ARIYANOM
358. WONDA TAWARIAK
359. KOGA MINANGGAYAWARAK
360. YOASAP SAYORI
361. EDOWAIWODE ADII
362. ALOM WOPELAN
363. WAKERMA OTIBO
364. MAGAI NDENIMULOK
365. YAMBONGKOWA WAKERMA
366. WAKERWA TAGANIK
367. SALINA YOWENI IMBIRI
368. PAKAGEIPOUGA PAKAGE
369. DOMINGGUS DANOMIRA
370. YULIANUS SAYOMI
371. MURIP ABINORAK
372. WONIBU KULIRENGGA
373. KOGA TINGGIRAGE
374. MAGAY AMBIMENDEK
375. DIDIMUS KOBOKAU
376. YOKAGAIBO DOGOPIA
377. WONDA WULEK
378. MURIP MUNUGERONUWA
379. NGGIRE ANANIAS
380. MANOUMBI TELINGGEN
381. TANUBUNI KEBUBU
382. WARIAKMBAN TELINGGEN
383. PIYABAGANORAK KIWOO
384. ENOUMBI LINGGIRAKWE
385. WONDA LIWIKBAN
386. TAWATEBUI GOBAY
387. P. RUMAWI
388. ANTHON ARIWEI
389. LAURENS MASAKERI
390. KOKOYA TEONGGA
391. BEREBAGA TELINGGEN
392. COSMAS WAKERWA
393. WANIMBO GIORIK
394. WANANIKWE KOKOYA
395. TABUNI JEWIT
396. TABUNI BRINGGABULOK
397. MORIP MIYAGAME
398. ALOM WIGO
399. RUBEN PAKAGE
400. MURIB CORNELIS
401. TAWUNI JONATHAN
402. KOKOJA ARIANI
403. JOHANIS WAIWONI
404. CRISTIAN WARAI
405. PIETER MIJAPA
406. JACOBUS BONAY
407. UBAJAPE TEGEKE
408. WAGEMO DEGEY
409. SIMEON DOLUW
410. Nn. ANTHONIA PAKAGE
411. TAKANIK WAKERWA
412. ABRAHAM MONEI
413. LUKAS WAKDOMI
414. JACOBUS MUJAPA
415. B. S. DANOMIRA
416. TELINGGEN BURUJOGALOK
417. JUMAN NGGABOKWE
418. MERIB PALUJAKOM
419. BERNHARD WAROI
420. VITALIS PEKEY
421. WILLEM MORI
422. IBU ELSI JACOBUS SAWO
423. IBU LEVINA SAJORI/ADUARI
424. PATTY GOBAY
425. W. DIKUN
426. KOKOJA LUKAS
427. LAMBERT JOWEI
428. D.N. SAIFUDDIN

D. Kabupaten Jayawijaya429. AMBEK BULEK
430. AUTUALI
431. MBIROK
432. MAROKA
433. SALENEN ELOKPERE
434. ISAKMO SIEP
435. WESIMA DOKA
436. ABELAM WENDA
437. MULIASOM HESELO
438. MASAHUK HESELO
439. WIMLUOK HESELO
440. KALAMSANG MEAGE
441. MUSANAKAWA ELOKPOLE
442. IKIAK KOSSY
443. JARAKAMA WETIPO
444. PENAGO ITLAI
445. ALONGEAK WETIPO
446. LUKAMI LANTIPO
447. OBAKAROK LOGA
448. KUR MABEL
449. LASUWOK MEAGE
450. WAPAGA WENDA
451. GUNAME TABUNI
452. MOTODEK MABEL
453. HOLARIK ELATOK
454. PETRUS MARIAN
455. KUKULELE WENDA
456. WENAULEK
457. JARAKAMA MENGE
458. ANEMINI WETIPO
459. SAKARIAS MEAGE
460. HELEAREK
461. JOHANIS MEAGE
462. MALMAREK HESEGEM
463. JASA ASHO
464. JAN HUBI
465. KURSIBA HESELO
466. SEBENA
467. ESAUL WENDA
468. EWOYOP
469. LUKAS UROPMABIN
470. ROBERT NINGDANA
471. GRENEM
472. SETYONGEM
473. WEMI
474. PETRUS BAJUMKA
475. LUKAS UROPMABIN
476. JAHEKON
477. TAMBONOP
478. ANTON WASINI
479. SILAS (ALM)
480. SILAS
481. JOHANIS WALUK
482. RAFAEL UROPMABIN
483. YAN KASIBMABIN
484. AGUSTINUS UJANGGI
485. JOHAN JAMHIN
486. ISAK JAWALIKA
487. KUPAN
488. WETIMEROP
489. KITOK
490. ALWOLGI
491. AGOKMEN
492. NIYAWARAK
493. FRANSISCUS HARBELUBUN
494. KOMENAKE TABONE
495. LAPALOGO LOGOWAN
496. KULIAKNIMBO TABONE
497. MALOK UAGA
498. NGGUTAGE KOGOYA
499. INENGGENAM BIK KOGOYA
500. TIWIMBULUK KANUNGGA
501. TOGOWARAK BOGOM
502. TABANANOK JIKWA
503. JIJAWEN JIKWA
504. GUARIWAREK JIKWA
505. KUBENEK PAGAWAK
506. MATHEUS KOGOYA
507. NIMBUGAMENDEK KOGOYA
508. DIYARAK
509. MAGAP GOMBO
510. JAN MBINI
511. LEA KAROBA
512. KIKMAREK KAROBA
513. GARJA WEA
514. OBAREK JIKWA
515. THOMAS WANIMBO
516. EMELUGUN UGAWA
517. WIWINOM PAGAWAK
518. JONIR PAGAWAK
519. KARUBAGA NUA JIKWA
520. IDRIS NOKOTILALU
521. DANIEL HALUK
522. AKINAO HUBI
523. WIRINGGA WAKERKWA
524. TAI ORAK
525. GINARAK
526. PUNUK
527. TAWARANUA WANIMBO
528. WANEMBANAK
529. TUWERI
530. NOAK PAGAWAK
531. KATEIS
532. IJOMBAGA IGIBALOM
533. AMIROGO
534. JAHJA KOGOYA
535. AMATUS ATEK
536. KOYA MENDE
537. WIJANIR
538. MAYU
539. TENONGGA
540. NOAK
541. NICOLAS IGIBALOM
542. PETRI
543. OWAGARIK IGIBALOM
544. KANIANGGEN
545. AIWENA
546. JORANGGEN
547. JUGUWARAK WENDA
548. ENDEKEMENDEK WANIMBO
549. NGGEMENAGE
550. A.F. WUTOY
551. KUBAGAMENDEK JIKWA
552. WUNIKBAN EWYA
553. METAGANAK WANDIK
554. WATUKOLEK ASSO
555. ALIGAT HESEGEM
556. SILUKI MEAGE
557. J. MARAN
558. BENYAMIN WANDA
559. AMBURUINOM JIGIBALOM
560. MUSA UMBURU
561. MBURINEGGA PAGAWAK
562. AMULI MATUAN
563. J. AKOBIAREK
564. A. IBO
565. M.H. RUMBINO
566. NY. KOMBOY
567. L.J. YOSI
568. A.M. TAKATI
569. JATEBGANUA JIKWA
570. WAJIBMBAN WEJANGGUNIK
571. MBURINGGWE ENUMBI
572. ANDUGIN WEJA
573. WAOMA WENDA
574. WENEBU TAHUNI
575. MATIAS WENDA
576. PELEPACA KALINGGA
577. SAKEOS
578. SALE
579. AMORO
580. SUIROBA
581. SIMON
582. MARKUS WENDA
583. SELIMO OWEGEIT
584. ABRAHAM ITLAY
585. AGPY DERMONGGEN
586. SUB WAREK
587. SASUNGGULO
588. ESINOAKE
589. PAGERAH
590. OLARIK
591. ANAME
592. WATLARIK
593. MUSAWAREK
594. IKLUWEAK
595. KOLIK
596. SOMONAY
597. LEWULEH
598. AMUS TABUNI
599. JUSUF WANIMOK
600. HERNA DAISIU
601. JERARIK
602. ANES CLEMENS

E. Kabupaten Teluk Cenderawasih
603. BERTHEUS KOIBUR
604. WEMPI SANADI
605. CHARLES KAWER
606. LAMBERTH RUMBINO
607. JACOB AP
608. BERNARD SABAROFEK
609. MATHEUS MSEN
610. THOMAS BARANSANO
611. ADRIAN BARANSANO
612. LABAN WOMSIWOR
613. FERDINAND KURNI
614. PETRUS KORWA
615. ABDUL RUMADAS
616. ERNEST AKOBIAREK
617. LUKAS RUMKOREM
618. ERNEST MANUFANDU
619. EFRAIM RUMSARWIR
620. FELEX BINUR
621. EFRAIM RUMBEKWAN
622. JACOB WAIRATA
623. LABAN SANADI (ALM)
624. SIMON MANALUN
625. PHILIP KORWA
626. LABAN MANAKU
627. ALBERTHUS MSEN
628. C.J. MATURBONGS
629. JAN TARUMASELLY
630. ABRAHAM MANSAWAN
631. ZETH RUMPAIDUS
632. H.B. MINANGLARAT
633. MARTHINUS PATTINASARANY
634. E. SIWALETTE
635. RAIMUNDUS RENGIL
636. EDUARD RUMBARAR
637. PIETER MORIN
638. DAVID SIMBIAK
639. HENDRIK DIMARA
640. DANIEL RUMPAIDUS
641. PIETER KAWER
642. OBETH PANGURIAN
643. LAURENS TANATY
644. SAMUEL WAMBRAUW
645. H. TARMIDZI THAMRIN. BA
646. JACOB A. RUMPAIDUS
647. ABRAHAM WAMBRAUW
648. MATHEUS BONOY
649. JOSEPH J. RUMNGEWUR
650. HENDRIKS MATHEUS SADSUITUBUN
651. JULIANUS TARUMASELLY
652. ABD. MADJID DJAMALUDDIN
653. AGUSTINUS UNANI
654. DEMIANUS AIBEKOB
655. JONATHAN SAROY
656. SALMON JAWAN
657. ARNOLIS ARFAYAN
658. MARKUS AIBEKOB
659. DS. ZETH RUMERE
660. ALFONS RUMERE
661. HANOCK RUMBRAR
662. AJUB KAFIAR
663. JOSEPH JARANGGA
664. HEINTJE RUMBIAK
665. DOMINGGUS WARIKAR
666. ERNADUS WOFF
667. BENYAMIN KAJAI
668. LOVIS RANDONGKIR
669. BASILIUS MEKAWA
670. DS. FRANS ONDI
671. ISHAK LEWAKABESSY
672. TURBANUS SIANTE
673. MAURITS SAROY
674. DAVID WOISIRI

F. Kabupaten Yapen Waropen
675. OBED BONAI
676. A.DJALALI
677. R. MBAUBEDARI
678. ALWIRAHMAN
679. J. TANATTY
680. A. MBAUBEDARI
681. JACOB BARANGKEA
682. IZAK NUMBERI
683. ZETH A. ROMBE
684. ST. RUMBEWAS
685. M. DAWIR
686. FL. SIKOWAI
687. ABDUL BAAR PAIMAN
688. SIMON WOPARI
689. DAVID AUPARAI
690. JUDAS MUABUAI
691. HABEL SAWAKI
692. N. WAJENI
693. ARIUS KADIWARU
694. BERNADUS IMBIRI
695. THOMAS RUNGGAIMUSI
696. CHRISTIAN MOMORI
697. JUNUS I. KENDI
698. S. WORABAI
699. BUANG (A.D.) DJALALI
700. J. MANITORI
701. EILLEM WAJANGKAU
702. P. LIKLIKWATIL
703. B. DIAZ
704. ALBERT AWARAWI
705. BASTIAN FONATABA
706. MUSA RUM
707. ALEX BERUTABUY
708. MARTEN LAUPATTI
709. A. SAMBERI
710. NY. A. IMBIRI
711. KAREL IMBIRI
712. BALDUS RUNGGAINUSI
713. HEIN WARUMI
714. ANTONIAS SAPACUA
715. DOMINGGUS KADEBAG
716. MARKUS SAWAKI
717. JUDAS KARUBABA
718. JOHANIS JEINUSI
719. JERMIAS KANSAY
720. ALFONS AJERI
721. P.M. PAPRINDEY
722. ELIEZER MAAY
723. CHRISTOFFEL WIHIAWARY
724. MARTEN KAPITARU
725. JESAJA IMBIRI
726. MOH. ACHMADI
727. LUKAS BUINEY
728. EDWARD WOISIRI
729. MARTHEN RUPANDAY
730. LUTHER PATHAY
731. DOLLY PIHAHEY
732. IDRIS KASIM
733. CHRISTIAN SIMBIAK

G. Kabupaten Sorong

734. JULIUS SESA
735. ELISA MAX NEBORE
736. HAMISI ABDUL HAMID (ALM)
737. DIRK BARNABAS URBON
738. SEMUEL PANDORI
739. DS. REBA
740. ABD. RASJID ARFAN
741. MARTHIN BISAI
742. ISACK NACK
743. JUSUF UMAR
744. ABDUL KADIR WARFANDU
745. ABDUL RASID AJUAN
746. J.D. MAMBRASAR
747. KAREL RUMPAISUM
748. ABDULLAH UMALELUN
749. MARINUS BURDAM
750. FREDERIK PAULUS SAIMAR
751. RUBEN JESNATH RUMANSARA
752. JOHANES SALOSA
753. LUKAS SALOSA
754. MANASE METIBARU
755. SOLISA MOMOT
756. HOSEA KALIELE
757. GUSTAF SESA
758. LAZARUS PARINUSSA
759. JACONIAS NEBORE
760. ZACHEUS WANANE
761. DAUD MANASE
762. JAHJA SOLOSSA
763. SILAS RUMBIAK
764. MARTHIN LUTHER PULANDA
765. SAUL DUWIT
766. SOLEMAN SALOSSA
767. DIRK KAMBUAYA
768. CHRISTIAN SAMOSANOI
769. ABRAHAM ATANAI
770. ANTHON LASSY
771. SALMON WAY
772. IBU KARUBUI
773. BENYAMIN MOMOT
774. CUNRAD MAYOR
775. MARTHINUS MAMBRASAR
776. BAHARUDDIN SANGADJI
777. ALEXANDER MAGABLO
778. TJONTJI MOBELALA
779. SALEH MAYOR
780. MARKUS PAA
781. PETRUS MOMOT
782. ABDULLAH ARFAN
783. ABDUL DJABAR WARMEY
784. JESAJA NAINOLO
785. MAILIAT MAJALIBIT
786. MOZES AWOM
787. ABDUL RACHIM KIAT ISKANDAR ALAM
788. ABDUL WAHAB RUBENAS (ALM)
789. JACOB BURDAM
790. BAHARUDDIN UNKABU
791. ABD. MADJID SOLTIEF
792. HOESEIN TAFALAS
793. SEMUEL KONDJOL
794. THIMOTIUS THESIA
795. FREDERIK MAMBUARU
796. KAREL WUGAJE
797. MELKIAS BOWAY
798. BERNADUS HARA
799. ABRAHAM MONSAFE (ALM)
800. MARTHIN ANTOH
801. OKTOVIANUS NAHADIN
802. ABRHAMAN FONATABA
803. ALOYSIUS INANOSA
804. PIETER JAN NUMBERI
805. USMAN SAAD
806. SAMUEL MESAK IMBIRI
807. MAURITS TANAMAL
808. IZAK CORNELLES WAMBRAUW
809. BENNY AIRORI
810. CHRISTIAN JOSEF FOFIED
811. MOHAMMAD HUSEIN ULI
812. HAJI MUHAMMAD ABDULAH
813. HAMISI RUMAGESAN
814. BENYAMIN MARANI
815. IBU DAAT
816. STEVEN KAYARU
817. ADRIAN JEBLO
818. JUSUF JEKWAN
819. FRANS MALAK
820. ABRAHAM TUWEN
821. JOHAN JABLE
822. SALMON LOBAT
823. ABDUL WAHAB WARFANDU
824. WILLEM MALAGILI
825. ABDUL MADJID KOFLOT
826. ERENS WAWIAY
827. BASTIAN WAROPEN
828. SALIM TAMIMA
829. FRANS GINUNI
830. ABRAHAM KAMBUAJA
831. MARKUS SALOSA
832. MARTHEN TENAU
833. HABEL SAA
834. SIMON ASSEM
835. MATHIAS KAMBU
836. SIMONISIR
837. BAHAR MASAMBER
838. ORGENES WALLY
839. AGOES SALOSSA
840. GRUTTER JANIS
841. FREDERIK KALASUAT
842. DS. DAVID PRAWAR

H. Kabupaten Jayapura

843. JACOB KORWA
844. JACOB BONAY
845. MESAK AWI
846. HERMANUS RUMERE
847. MEZAK BUARA
848. KARLOS IMARA
849. ATU USMAN
850. WERI BILASI
851. SEFNAT KELPI
852. JORDAN JANUARING
853. W. WARITJU
854. KILION WANDA
855. R.J. TEPPY
856. ANTON SABRANIM
857. CHARLOS GRIAPON
858. J. TUNGKOI
859. LUKAS DEMOTEKAY
860. JACOB JAMBRE
861. AGUS BILASI
862. SEMUEL SINERI
863. GASPER JOHAN WANGGAI
864. SIMON KIMIAK
865. THEODORUS PAAY
866. PATRIAN INGGIMAMBA
867. ANDRIAS BOGOR
868. REHABIAN JACOB DAIMOI
869. SEMUEL SAURI
870. MARINUS TU
871. HENDRIK WAROMI
872. OCTOVIANUS RUMBEKWAN
873. FRANS SANJI
874. ELIA WAMAER
875. PETRUS JAKE HAMADI
876. JAFETH JAAS
877. ZETH DONDI
878. CHRISTIAN IREUW
879. DONATIUS JOSEPH MAY
880. AGUSTINUS MERABANO
881. A. GRIAPON, BA
882. APOLLOS JAUWE
883. WINGK MAY
884. HANOCH HEBE OHEE
885. MELIANUS AUPARAY
886. NY. REGINA SAE DAIMOI HAMADI
887. DIRK SUWO
888. SAMBERI STEFANUS
889. HANOCH NAPO
890. FADJAR SAUWWAL RUMBIAK
891. MATHIAS MEO
892. SEIREI TAO
893. JOWEL MESWARI
894. JUSUF NANGAI
895. CH. RAMADEY
896. THOMAS DEBEN
897. HERMAN TAKAYETOU
898. NY. ELLY UYO
899. RAMSES OHEE
900. USMAN ABDULLAH FABANYO
901. GERZON HASSOR
902. L. MANIAGASI
903. SAMUEL GEORGE YOM
904. HERMAN MEMBRI
905. ARIE WEMBEA
906. PHILEMON SANGGRENGGANO
907. THEYS H. ELUAY
908. YOSINA WAFUMELINA KURUBE
909. BENONI MANFAU
910. GOSIN TOK
911. ANDRIAS DANSIDAN
912. PHILIPUS FOSBA
913. SOLEMAN KANTUM
914. MARCUS CAWEM
915. SOLEMAN YARU
916. WEMPI AWES
917. JOHN WILLEM MEHARA
918. FREDERIK MARWA
919. JUSUF JARISETOU
920. H. KAMBONO
921. JOHANIS SORODANYA
922. DAVID APASERAY
923. BERNADUS WEWERI
924. A. SAMAD KAPLELE
925. PETRUS JABANGSABRA
926. HABEL AGAKI WANDA
927. HOMAHHAD METZIER DAIMBON
928. JOSEP LODOWIJK SAUMEN
929. JOHN VICTOR DAYOH
930. S.J. RETTOB
931. G. SAWERI
932. B.M. FRABUN
933. MODESTUS KOREY
934. HJ. MUHAMMAD TARSAT, YS
935. FRANS TANDUFU
936. SAUL TIRIS
937. TOMAS SEMON
938. JONATHAN JARU
939. ARNOLD LENSRU
940. HERMANUS TUNJA
941. TEPIANUS SUPRA
942. H. NOROTOU
943. H. MUABUAY
944. JACOB BURDAM
945. ELIGIUS WANERWA
946. ANDRIAS DOMINGGUS RUMPAISUM
947. TH. NGAMEL
948. PIETER KAJOI
949. DS. O. HOKUJUKO, S. TH
950. IPTU AMANDUS MANSNAMBRA
951. D. T. RAMANDEY
952. HAJI IBRAHIM BAUW RAJA RUMBATI

I. Kabupaten Fak-fak
953. AHMAD USWANAS
954. HJ. JUSUF BAY
955. MUHAMMAD PAGESA
956. JUSUF MOY
957. MARCUS WARPOPOR
958. MEZAK TIGTIGWERIA
959. E.H. BAHBA
960. ROBERT HERET RINGGI
961. KASIM OMBAER
962. NATHANIEL WARJENSI
963. JOHAN SARARA
964. JUSUF WAITA
965. SIDIK FUARADA
966. SAMUEL PENETIRUMA
967. MOHAMMAD TAIB ANIRBAY
968. JUSUF PATTISAHUSIWA
969. JOHANIS KPAIJAU
970. STANIESLAUS MERAWEJAU
971. JOHANIS AIKAWE
972. OKTOVIANUS TAKATI
973. AMOS RAMON YAP
974. MOZES KILANGGIN
975. SIMON IERY
976. LEO URMAMI
977. JOHANNES TAKE
978. AROBI SAID USWANAS
979. JOHAN TUTURUP
980. MOSALAM PAUS-PAUS
981. NURDIN PAUS-PAUS
982. ABDUL HAMID RUMANGESAN
983. ABASIHA
984. NASAR PARIS HEREMBA
985. ABUBAKAR IHA
986. USMAN IBA
987. ALIPUTI BAUW
988. DANU MOHAMMAD SJAIFUDDIN
989. HAMDJA FURU
990. MOY LAWAY
991. MOHAMMAD RYSAITUARAU
992. MANAF WATORA
993. ARNOLD NAMSAU
994. MOY BALAWAR
995. RADJAB NAGGEWA
996. ANDRIAS WERBAY
997. FELIK JANI
998. MARSELIUS NOKORO
999. JOHAKIM MAKAKIM
1000. PITER HINDOM
1001. VILATUS MAKATARI
1002. EDWARD HEGEMUR
1003. SAMUEL LEIWAKABESSY
1004. HAJI HASAN USWANAS
1005. MOHAMMAD THAHIER BAUW
1006. ZAKARIA FURU
1007. P.F. HEIPON
1008. J.E. TEARUPUN
1009. FRANS RENMEUW
1010. WILLEM GINUNY
1011. M.Z. WASARAKA
1012. HAJI ACHMAD BAY
1013. HJ. ABDULLMANAF USWANAS
1014. C.J. NGOTRA
1015. APOLINARIS MAMEJAU
1016. J.R. MITJIBARU
1017. MUSA WATIMENA
1018. NY. JULIANA PATTIPI BONAY
1019. MOHAMMAD SYABA BAY
1020. PHILIPUS KALAMANGAME
1021. HJ. ISMAEL BAY
1022. PAULUS MAGA
1023. AMANAU
1024. ISMAEL SAMALI BAUW
1025. LATONDE
1026. ABUBAKAR RUMOSAN