Papua Storyteller

Loading...

Senin, 30 Agustus 2010

Mezak Moyuwen dari Bu-Epe

Siang itu, 19 September 2009, kira-kira pukul 12.00 siang, udara terasa sangat panas. Kedua telapak tangan Mezak Moyuwen, Ketua Adat di dusun Bu-Epe, yang terletak di pinggir kali Mbayan, Distrik Kaptel, Kabupaten Merauke, Papua, berkali-kali menyeka keringat yang mengalir di wajahnya. Sesekali matanya terpejam rapat, menghindari sinar matahari yang terasa menyengat dan debu yang dikeluarkan oleh truk-truk pengangkut kayu milik PT. Medcopapua Industri Lestari yang melintas. Hutan seluas 2.800 m² yang sedang dibabat oleh alat-alat berat milik PT. Medcopapua Industri Lestari itu adalah sumber kehidupannya.

Rabu, 25 Agustus 2010

Kita adalah keluarga:

(Sebuah relfeksi-analitik atas paham ekologi dalam tradisional masyarakat adat Malind)

Oleh wensi fatubun

Pada awal revolusi industri tahun 1850, konsentrasi salah satu gas rumah gaca (GRK) penting, yaitu CO₂ di atmosfer baru 290 ppmv (part per million by volume), saat ini (150 tahun kemudian) telah mencapai 350 ppmv. Jika pola konsumsi, gaya hidup, dan pertumbuhan penduduk tidak berubah, 100 tahun yang akan datang konsentrasi CO₂ diperkirakan akan meningkat menjadi 580 ppmv atau dua kali lipat dari zaman pra-industri. Akibatnya, dalam kurun waktu 100 tahun yang akan datang suhu rata-rata bumi akan meningkat hingga 4,5 ⁰C dengan dampak terhadap berbagai sektor kehidupan manusia yang luar biasa besarnya. Menurunnya produksi pangan, terganggunya fluktuasi dan distribusi ketersedian air, penyebaran hama dan penyakit tanaman.

Jika aku mati

Jika tiba-tiba aku tidak ada,

jika tiba-tiba aku tidak hidup,

Anda akan terus hidup.

Anda tidak berani,

Aku tidak berani untuk menulis itu,

jika aku mati.

Tapi,

jika anda berani menulis

Pastianda seorang aktivis hak asasi manusia

Pastianda seorang aktivis NGO

Pastianda bukan militer

Pasti anda bukan orang Indonesia

Pasti anda seorang separatis.

Karena di mana aku tidak memiliki suara,anda akan bersuara, tapi suara andahanya untuk kepentingan anda, bukan kepentinganku. Hanya untuk kepentingan yanganda pikirkan, sesuai hukum anda, bukan hukumku.

Aku ditindas oleh negaramu,tapi juga kepentinganmu.

Anda pasti menolak kawanmu yang telah berdiri sebagaiaku.

Di Uren, bertemu Romo Boneng

Minggu (27/6) sore di Desa Uren, pegunungan Meratus, Promotor JPIC MSC bertemu “Romo Boneng”. “Romo Boneng”, sebutan untuk Arif Rahman Hakim, seorang anak 9 tahun, yang duduk di kelas 1 SD Negeri I Uren.

Ia dipangil “Romo Boneng”, karena ia ingin menjadi Pastor Gereja Katolik. Hari itu, ia terlihat sibuk memegang bukunya. Ia sedang mempersiapkan diri untuk belajar membaca dan berhitung.

Bartol Yolmen telah “pergi”



Siang itu (14/5/2010) di tengah hiruk pikuknya kota Merauke, saya bertemu dengan Bartol Yolmen, 29 tahun, di rumahnya, Jalan Mangga Dua Kimaan, Kota Merauke. Ayah dari seorang anak bernama Felix Yolmen, 3 tahun, yang menjadi korban kekerasan aparat TNI-AD Kostrad 643/WNS Kalimantan pada tahun 2005 silam. Ia sedang sakit. Badannya kurus dan agak bongkok, tapi dengan antusias menyambut kedatangan saya.

Tanpa peduli dengan situasi sekitarnya,ia serius menceritakan kisah hidupnya. Istrinya, Jemitri Gebze, tampak duduk di samping menemaninya. “Sejak dipukul oleh prajurit TNI-AD Kostrad 643/WNS, saya sakit sampai hari ini,” ungkapnya.

Tragedi minggu subuh di Transito

Minggu (30/5), pukul 05.30 pagi, ketika matahari baru saja bersinar, Mei Tanggipaimu meminta mamanya, Amalia Biagaimu, membuka pintu depan rumah. Mei Tanggipaimu, umurnya 2 tahun, ingin buang air besar. Mamanya mendampinginya. Saat itu, suasana kompleks perumahan suku Mappi di Transito, kota Merauke, agak sepi. Ada beberapa warga terlihat mulai bersiap-siap untuk pergi ke Gereja. Tapi, sepuluh menit kemudian, terdengar bunyi tembakan beruntun dari kesatuan Buru Sergap (Buser) Polres Merauke. Tim Buser Polres Merauke sedang mengepung, mengejar dan menembaki Nardi Kaitemu, tersangka pencurian. Mei Tanggipaimu tertembak tepat di kepalanya. “Mama, sa pu (saya punya) kepala sakit”, katanya kepada mamanya sambil menangis. Mamanya yang sedang membersihkan kakinya tersentak kaget, karena Mei Tanggipaimu, anak kesayangnnya, tengah bersimbah darah. Tak sampai dua menit, Mei Tanggipaimu pingsan. Mamanya memeluknya dan berharap anaknya tidak meninggal. Darah segar terus mengalir keluar dari kepalanya. Mei Tanggipaimu yang lincah, kini terlujur kaku dalam pelukan mamanya.

Inilah awal tragedi minggu subuh, dimana kesatuan Buser Polres Merauke menembak Mei Tandipaimu (2 thn) dan Nardi Kaitemu (31 thn) di sebuah rumah di Kompleks perumahan warga Mappi di Transito, Kota Merauke.