Papua Storyteller

Loading...

Minggu, 03 April 2011

Belajar di "Sananta Sella"

Sepuluh jari tangan Fr. Empi, Novis Missionaris Hati Kudus Yesus (MSC) di Kapel Novisiat MSC, bergerak dengan lincah, membuka lembar demi lenbar Kitab Suci. Matanya terbuka lebar melihat kalimat demi kalimat. Sesekali raut mukanya cemberut! “Saya sedang mencari arti kata ‘adil’, ‘damai’ dan ‘keutuhan ciptaan’ di dalam Kitab Suci”, ungkapnya.

Bukan hanya Fr. Empi saja. Di sudut ruangan konfrensi Novisiat MSC,  Fr. Jack, kawan dari Fr. Empi, serius mencatat. Ia sedang merangkum hasil temuan kelompoknya tentang arti kata “adil” dalam Kitab Suci.


Sementara itu, Fr. Budi, Fr. Ungke, Br. Luis dan Br. Walter terlihat berjalan di gang unit kudus sambil memegang Kitab Suci. Mereka bertemu Pastor Ansel Amo, MSC di depan ruang makan.

“Romo, mengapa kami buka Kitab Suci dan mencari arti kata JPIC?

“Mengapa kita harus berkunjung ke pasar, sawa dan beberapa tempat lain untuk bertemu pedagang kaki lima, petani penggarap dan tukang bejak ?”

“Bagaimana semua ini bisa terjadi?”

“Adik-adik yang baik, Sambil mengikuti teladan Yesus, kita hendak belajar untuk membawa orang-orang lain kepada Allah dengan kebaikan hati dan kelemah lembutan, mempersatukan mereka dengan Dia dalam cinta dan membebaskan mereka dari rasa ketakutan dan ketidakadilan. Dengan menaruh kepercayaan akan rahmat Allah kita akan rela, apabila perlu untuk menyerahkan hidup kita bagi mereka. Inilah semangat kita dalam pelatihan ini”, ujar P. Ansel Amo, MSC kepada Br. Walter dan kawan-kawanya yang bertanya. 

Inilah ringkasan suasana pelatihan “Spiritualitas JPIC” di Novisiat MSC ‘Sananta Sella’, Jl. Revolusi nomor 10, Karang Anyar, Kebumen – Jawa Tengah, yang dirancang selama lima hari (22/3 – 26/3) dengan instrukturnya, P. Ansel Amo, MSC dan Wempie Fatubun dari Promotor JPIC MSC Propinsi Indonesia. 

Pelatihan Spiritualitas Keadilan, Perdamaian dan Keutuhan Ciptaan (JPIC) yang berbasis pada karisma dan spiritualitas Pater Pendiri Konggregasi MSC, Pastor Julles Chevalier, menjadi bagian dari proses pendidikan dan pembinaan delapan belas frater novis konggregasi MSC. Hal ini landasi oleh komitmen bersama para anggota Konggregasi MSC, yang dinyatakan dalam semangat “Semoga Hati Kudus Yesus dikasihi di mana-mana”, yang ditegaskan dalam dua Kapitel MSC Propinsi Indonesia, yaitu Kapiter MSC Propinsi Indonesia di Tomohon, Sulawesi Utara, dan Kapitel MSC Indonesia di Merauke, Papua.

Fr. Empi, nama lengkapnya Wensislaus dari desa Sipnana – Maluku Tenggara Barat, tampak puas. Ia berhasil menyelesaikan pencarian arti kata “adil”, “damai”, dan “keutuhan ciptaan” dalam Kitab Suci. Bersama dengan kelompoknya, Fr. Empi bercerita tentang arti kata JPIC.  

Setelah mencermati kata demi kata, kalimat demi kalimat, saya menemukan bahwa JPIC selalu ada hubungan dengan Allah dan sesama. JPIC adalah Allah sendiri. Karena itu, Allah menganugrahkan kepada kita manusia melalui Putra-Nya, Yesus Kristus, yang tinggal bersama dengan kita,” tegas Fr. Empi.

“Kalau saya, JPIC itu menjadi bagian terpenting dari kehidupan tiap-tiap orang”, ungkap Fr. Dion menyambung.

“Kalau begitu, JPIC itu adalah cintah kasih,” ungkap Br. Walter. 

Ketika mendengar sharing dari temannya, Fr. Faris berbisik kepada saya, “sehingga memperjuangkan JPIC adalah panggilan semua orang yang berkehendak baik, mas.” 

Dan, saya pun teringat beberapa kalimat dalam Konstitusi Tarekat MSC.  Bersama Pater Jules Chevalier Pendiri Tarekat MSC,  kita merenungkan Yesus Kristus yang bersatu dengan BapaNya dipenuhi oleh Roh Kudus, Yesus mengucap syukur kepada BapaNya sebab Ia telah menyatakan DiriNya kepada orang-orang kecil; karena Dia adalah HambaNya yang amat melibatkan diri dengan kaum miskin dan berdosa. Ia bahagia kalau Ia dapat mencurahkan kelembutan hatiNya kepada yang kecil dan miskin, kepada mereka yang menderita dan berdosa, kepada umat manusia dalam segala kesengsaraannya. Bila melihat kemalangan apapun HatiNya tergerak oleh belaskasih” (Konst. MSC. No. 6). Dalam diri mereka yang miskin dan hina dina dan dalam setiap orang yang menjadi korban ketidakadilan dan kekerasan, kita hendaknya melihat wajah Kristus. Ia meminta agar kita membawa cinta kasihNya ke dalam hidup mereka. Dalam menanggapi seruanNya kita hendak menunjukkan belaskasih kepada mereka dengan bekerja penuh keberanian agar supaya hak-hak mereka sebagai manusia dijamin dan hati para penindasnya berubah” (Konst. N0. 22).

 ***


Setelah mendalami dan bersharing tentang arti kata JPIC dalam Kitab Suci, para frater Novis MSC, di hari ketiga (24/3), tampak sirius melatih kepekaan membaca tanda-tanda zaman atau realitas sosial. Mereka belajar metode Indigenous Mapping atau penggambaran “peta pribumi”, suatu pendekatan untuk memahami realitas sosial, khususnya kaum marginal. Pendekatan ini berbeda dengan kartografi sebagaimana diajarkan di Fakultas-Fakultas Geografi, karena tidak didasarkan pada kartografi Eropa, dan bertolak pada pengetahuan anggota sebuah komunitas tentang dirinya, atau pengetahuan emic, sementara kartografi Eropa bertolak pada pengetahuan orang luar (etic ) tentang tata ruang komunitas itu, dan didasarkan pada kenyataan, bahwa (hampir) setiap orang memerlukan visualisasi dari apa yang diceriterakannya tentang dirinya, di mana dia berada, apa yang dia lihat atau alami, yang pada saat bertutur seringkali digambarkannya lewat coret-coretan di tanah, atau diperagakannya dengan bantuan benda-benda di sekitarnya, misalnya kotak korek api, bungkus rokok, lidi, potongan kayu, alat-alat makan, dan benda-benda lain. Pendekatan ini mendorong informan memindahkan gambar-gambar alamiahnya ke atas kertas, keterangan sang informan dapat ‘diabadikan’, tanpa harus mengandalkan kamera”, ungkap Wempie Fatubun

Selain belajar Indigenous Mapping, para frater belajar tentang teknik investigasi partisipatif dan membuat peta konsep tentang tukang bejak, pedagang kaki lima, petani penggarap dan buru bangunan sebagai kaum marginal serta belajar wawancara.  

Mereka belajar melakukan wawancara dengan saling mewawancarai teman kelompok. Belajar wawancara sangat seru dan serius. Fr. Abu, misalnya, yang mewawancarai kawannya yang berperan sebagai buruh bangunan. Sesekali Fr. Abu beradegan menawarkan kopi kepada ‘buruh bangunan’ itu ketika jawaban yang diberikan sangat singkat.

Dan, pada hari keempat (25/3), para frater berkunjung ke masyarakat. Mereka belajar mendengar, dan memahami realitas kaum marginal. Ada yang bertemu dan bersharing dengan pedagang kaki lima, petani penggarap, dan buruh bangunan. Ada juga yang bertemu istri dari tukang bejak yang sedang sakit di rumahnya.

Ini menarik! Karena, para missionaris Hati Kudus Yesus hadir ditengah masyarakat bukan “menyedot” pengetahuan dari kaum marginal untuk prestise dan prestasi, tanpa “mengembalikan” pengetahuan yang telah diperoleh kepada kaum marginal. Tapi, melibatkan diri dalam pergumulan kaum marginal yang konkrit sambil bersama memberdayakan diri.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar