Papua Storyteller

Loading...

Kamis, 02 September 2010

Rumah 41A


Pagi itu (16/2), halaman rumah no. 41A di Jl. Dom, Kelapa Lima, Kota Merauke, tidak seperti biasanya. Penghuninya terlihat tampak sibuk. Seorang lelaki baru saja masuk halaman rumah dengan mengendarai sepeda motor dinas (plat merah) dengan nomor Polisi DS 6967.

Berselang beberapa detik kemudian, dua orang laki-laki mengendarai sepeda motor Yamaha King, dengan nomor Polisi DS 4016 AJ, memasuki halaman rumah. Motor diberhentikan tak jauh dari dua truk yang sedang parkir di halaman rumah itu.
Pada saat menyaksikan hal itu, seorang tetangga penghuni rumah no. 41A, mengatakan:

“Dua orang pengendara motor Yamaha King DS 4016 AJ itu adalah anggota Kopassus yang bertugas di Kampung Sota (baca: kampung perbatasan RI-PNG). Setiap minggu, anggota Kopassus dari kampung-kampung perbatasan sering datang ke rumah no. 41A ini untuk mengambil bahan makanan atau barang jualan”.


****

Rumah no. 41A ini oleh warga di Kota Merauke dikenal sebagai “Mess Kopassus”. “Mess Kopassus” ini adalah pos induk untuk Kopassus yang bertugas di Kabupaten Merauke. “Mess Kopassus” ini terdiri dari empat kamar.

“Rumah no. 41A tidak ada tulisan “Mess Kopassus”? Darimana warga Merauke tahu bahwa rumah no. 41A adalah “Mess Kopassus”?” Tanya saya kepada tetangga itu.
“Saya sendiri kurang tahu. Yang jelas, sejak tahun 2008, Kopassus tinggal di rumah ini dan kami meyebutnya sebagai “Mess Kopassus”. Jawabnya.

“Mess Kopassus” ini sebelumnya dikenal sebagai tempat kost milik Keluarga Birak, yang telah dijual kepada seorang pengusaha Cina. Tempat kost ini ditempati oleh para pekerja jalan dari Jawa. Pada tahun 2007, warga masyarakat kaget dengan keberadaan anggota Kopassus yang tinggal di salah satu kamar kost rumah 41A, Jl. Dom, Kelapa Lima, Kota Merauke. “Kami tidak tahu ada Kopassus yang tinggal di jalan Dom. Saya mulai tahu bahwa ada Kopassus di Jalan Dom dari seorang anggota Kopassus yang bernama Acong. Waktu itu, Acong berkenalan dengan saya beserta anak saya di pasar malam. Acong panggil nama saya. Saya kaget dan saya tanya dia. Dia bilang, dia tinggal di Jalan Dom. Saya kaget dan bilang bahwa saya tidak kenal dia. Lalu dia bilang, dia orang baru. Dia seorang Kopassus. Dia juga memperkenalkan teman-teman mereka. Ada yang bernama Vargas, Ucok dan Niko.” Kisah Mama Veronika Wawon, warga rumah 41A, kepada saya pada tanggal 18 Februari 2010.

*****

Dua orang anggota Kopassus tadi terlihat disambut oleh lima temannya, dengan postur badan tegap dan kekar. Ada dua kardus berisi barang-barang dikeluarkan oleh dua orang penghuni rumah dari kamar paling depan dekat jalan. Seorang dari dua pengendara motor Yamaha King DS 4016 AJ, mengambil kardus itu dan mengikatnya pada motornya. Sementara di belakang truk yang sedang diparkir, terlihat empat anggota Kopassus duduk di para-para.

Kini, Rumah 41A ini menjadi sorotan publik, baik di kota Merauke maupun di luar kota Merauke, seperti Jakarta. Karena dalam laporan Human Right Watch (HRW) Amerika yang berjudul “Saya salah apa? Anggota Kopassus siksa orang Papua di Merauke?” menyebutkan bahwa ada sejumlah tindak kekerasan yang dilakukan oleh anggota Kopassus terhadap orang asli Papua di rumah 41A.

Laporan Human Rights Watch tentang “Saya Bikin Salah Apa?: Kopassus Siksa Orang Papua Merauke”, mengungkapkan bukti-bukti baru tentang berbagai kelakuan Kopassus, yang tetap suka melanggar hak-hak dasar warga, seakan-akan mereka kebal hukum. Ketika Human Rights Watch melakukan penelitian di sekitar Merauke, sebuah kota di ujung Papua itu, sejumlah warga melaporkan beragam penyiksaan oleh Kopassus. Dari Maret hingga Mei 2009, Human Right Watch mewawancarai lebih dari 20 korban, keluarga korban serta saksi penyiksaan. Hasilnya, sebuah gambaran kebrutalan, yang berkali-kali terjadi, terhadap orang Papua kebanyakan.

Penduduk kampung Kelapa Lima di Merauke cerita bagaimana serdadu-serdadu Kopassus, tanpa kewenangan hukum, mengambil orang Papua dari jalan atau dari rumah mereka. Para serdadu ini tak mengenakan pakaian seragam dan tak punya peran resmi dalam upaya menjaga ketertiban umum, namun mereka bertindak seenaknya sendiri atau sebagai reaksi dari keluhan masyarakat. Para korban, yang dibawa ke “Mess Kopassus” di Jl. Dom, no. 14A, Kelapa Lima dipastikan akan diperlakukan dengan buruk, seperti dipukul dengan selang air atau dipaksa mengunyah cabai menta yang pedas. Banyak orang Papua menguyah buah pinang, yang sering bikin rongga mulut mereka tergores, hingga bila mengunyah cabai, mulut mereka perih tak tertahankan.
Seorang korban Kopassus mengatakan kepada Human Rights Watch: “Dorang suruh saya buka baju, Cuma pakai celana dalam. Dorang langsung pukul, tidak bilang apa-apa. Dorang pakai selang air. Dorang pukul sampai saya berdarah dan luka-luka. Kemudian dorang suruh kitorang pigi ke lapangan tenis (bulu tangkis). Dorang paksa kitorang lihat langsung matahari dan makan rica....kitorang tak boleh meludah. Rica itu sangat pedas.” Korban lainnya mengatakan, “Dorang tendang dada saya dengan sepatu boot....Satu Kopassus bertantak saya, “Kamu orang Papua, satu tentara Kopassus saja bisa bunuh kamu kayak bunuh ayam.”

Pelanggaran hak asasi manusia dalam laporan ini bukan kekerasan dengan motivasi politik terhadap warga Papua yang diduga terlibat separatisme. Kasus-kasus ini murni hanya masalah hukum dan keterliban umum sehari-hari, yang bukan kewenangan Kopassus. Warga Merauke mengatakan keluhan mereka mengenai kelakuan Kopassus tidak dipedulikan polisi. Kepolisian Merauke tak punya dasar hukum untuk mengungkapkan anggota Kopassus. Kepolisian Merauke takut bila Kopassus membalas. Para pemimpin Kopassus sendiri belum nampak bikin usaha serius guna menegakkan disiplin militer atau menuntut tanggung jawab para anggotanya yang terlibat pelanggaran hak asasi manusia.

Sejarah panjang ketegangan politik dan peyiksaan oleh aparat keamanan Indonesia di Papua telah menciptakan suasana ketakutan di seluruh Papua. Kelakuan Kopassus di Merauke memperdalam ketakutan itu. Seorang tokoh masyarakat Merauke mengatakan kepada Human Rights Watch, “Ini barang sudah sering terjadi, hampir setiap minggu, sampai akhirnya kitorang anggap penganiayaan normal saja. Polisi tidak buat apa-apa. Kopassus bertindak seolah-olah dorang polisi di Merauke.”

Berbagai kasus ini menggambarkan bagaimana kekerasan tumbuh subur ketika budaya kebal-hukum bertahan di jantung Kopassus, yang seharusnya merupakan salah satu unit militer paling terlatih di Indonesia.

Sejumlah rekomendasi, kepada pemerintah Indonesia dan negara-negara sahabatnya, yang terlibat kerja sama dengan Kopassus telah diberikan, tetapi pihak Kopassus sebagai pihak yang tertuduh membantah bahwa laporan yang disampaikan oleh pihak Human Riths Watch tidak benar. Beberapa infromasi dari korban, seperti kolam, lapangan tenis dan adanya Mess Kopassu dibantah oleh Kopassus. Mama Veron dan Bapak Yosep Tuwok serta Ibu Tin Basik-Basik, warga masyarakat Kelapa Lima, Merauke, diminta oleh pihak Kopassus untuk mengeluarkan pernyataan bahwa Kopassus tidak pernah menyiksa warga Papua di Merauke. Ini sangat kejam!

Human Right Watch telah meminta Amerika Serikat, Inggris, Australia dan negara terkait lainnya untuk menunda pelatihan bagi anggota Kopassus sampai ada usaha serius investigasi dan menuntut tanggung jawab anggota Kopassus, apapun pangkatnya, yang terlibat dalam kejahatan serius hak asasi manusia masa lalu, termasuk beragam kejadian di Merauke yang tersaji dalam laporan “Saya Bikin Salah Apa? Kopassus Siksa Orang Papua di Merauke”.

******

Dalam pengamatan saya di tahun 2008 s/d 2009, terdapat beberapa Pos Kopassus, yakni 1 Pos Kopassus Kota Merauke (Kopassus menyewa rumah kost milik warga di Jl. Dom, no. 41A, Kelapa Lima), 1 pos Kopassus di Kampung Tomer, 1 Pos Kopassus di Kampung Kondo, 1 Pos Kopassus di Kampung Soto, 1 Pos Kopassus di Kampung Erambu, 1 Pos Kopassus di Kampung Bupul 12, 1 Pos Kopassus di Alfa Sera, dan 1 Pos Kopassus di Muting. Yang menarik bagi saya adalah Kopassus tidak pernah membangun Pos seperti yang dilakukan oleh satuan Kostrad PamTas TNI-AD, tetapi memanfaatkan banguna rumah milik warga masyarakat atau bangunan pemerintah.

Di Kota Merauke, Kopassus menyewa rumah sewa no. 41A di Jl. Dom, Kelapa Lima untuk Pos Kopassus. Di Kampung Tomer, Kopassus menggunakan bangunan sekolah untuk Pos Kopassus. Di Kampung Kondo, Kopassus menggunakan rumah warga untuk Pos Kopassus. Di Kampung Sota, Kopassus menggunakan bangunan rumah kosong yang ditinggal pergi oleh warga trasmigrasi untuk membangun Pos Kopassus. Di Kampung Erambu, Kopassus menggunakan bangunan rumah kosong milik Perusahan Listrik Negara Daerah Merauke. Di Kampung Bupul 12, Kopassus menggunakan rumah warga untuk membangun Pos. Di Alfa Sera dan Muting juga demikian, Kopassus menggunakan rumah milik warga untuk Pos Kopassus.

Akan tetapi, prajurid Kopassus yang bertugas di wilayah PT. Korindo Grup terlihat menggunakan beberapa kamar di barak karyawan PT. Korindo Grup untuk pos mereka. Di Asikie, prajurid Kopassus menempati satu kamar di mess staf PT. Korindo Grup. Hal yang sama juga di Camp Kali Muyu, Camp Erma dan Camp Tunas PT. Korindo Grup.
Dalam pengamatan saya dari tahun 2006 sampai 2009, prajurit Kopassus yang tinggal di Rumah 41A-Kelapa Lima, Kampung Tomer, kampung Kondo, Kampung Sota, Kampung Erambu, dan mess karyawan PT. Korindo Grup terlihat sangat membaur atau mensosialisasi diri dengan warga masyarakat. Waktu saya bercerita dengan karyawan PT. Korindo Grup di Pastoran Asikie, pada tanggal 20 Oktober 2008, ada warga yang mengatakan bahwa Kopassus dekat dan sangat baik dengan warga kampung daripada Kostrad TNI-AD PanTas. Beda dengan Kostrad PamTas, Kopassus memang terlihat tidak membawa senjatah saat jalan-jalan di kampung. Pada 27 oktober 2008, saya melihat prajurit Kopassus yang tinggal di Mess Staf PT. Korindo Grup, Asikie, sedang mabuk dan bermain judi bersama karyawan perusahan. Ketika kami melihat, prajurit Kopassus itu bereaksi dengan berkata:

“lihat-lihat apa.”
Lalu ada seorang prajurit Kopassus mendekati kami dan berkata:
“Jangan marah. Mereka itu sedang mabuk.”
Lalu Prajurit itu bertanya, “kalian orang baru disini kha?”
Kami jawab, “Ya. Kami orang baru disini. Kami kuliah di Jayapura dan libur di Asikie sama keluarga.”

Lalu prajurit itu tanya nama saya. Saya menjawab nama saya willem.
Selain bertugas mengamankan daerah perbatasan RI-PNG dan aset vital PT. Korindo Grup, Prajurid Kopassus di Kampung Erambu membuka klinik pengobatan dan menugaskan seorang prajurid sebagai tenaga medis untuk mengobati warga kampung yang sakit. Pada bulan September 2009, ketika saya berkunjung ke Kampung Erambu, ada tiga Prajurid Kopassus yang bertugas di Kampung tersebut. Menurut seorang warga Kampung Erambu, bahwa Prajurid Kopassus yang bertugas di Kampung Erambu ada enam orang, tetapi tiga orang telah ditarik dan ditugaskan sementara ke Timika. Warga kampung Erambu sendiri tidak terlalu senang dengan kehadiran prajurid Kopassus di Kampung mereka. Karena, prajurid Kopassus sering mengambil barang jualan tanpa bayar atau mengutang hasil buruan warga Kampung. Prajurid Kopassus sering memukul warga Kampung yang mabuk minuman keras.

Bisnis dan intimidasi oleh Prajurid Kopassus terhadap warga masyarakat sipil juga terjadi di beberapa kampung perbatasan RI-PNG. Di Kampung Sota, Bupul 12, Tomer dan Kondo, Prajurit Kopassus menangkap ikan arwana di Kali Torasi PNG dan dijual ke Merauke. Tapi, ada juga anggota Kopassus yang bekerja sama dengan salah satu staf personalia PT. Korindo Grup, Kansus, untuk bisnis ikan arwana ke Cina. Ikan arwana dikapalkan melalui KM. Tunas, sebuah kapal milik PT. Korindo Grup ke pelabuhan Tanjung Priuk dan selanjutkan dikirim ke Cina.

Ada juga, prajurit Kopassus yang mencari kulit gambir atau daging rusa di dusun-dusun milik warga untuk dijual ke pengusaha di Kota Merauke.
“Kami biasa melihat anggota Kopassus masuk ke dusun untuk mengupas kulit gambir, menembak rusa atau pergi menangkap ikan di kali Torasi (Kali Torasi terdapat di Negara PNG). Biasanya kalau lagi musim ikan arwana, di Kampung Sota ini tersebar isu bahwa ada manusia bertopeng di hutan. Masyarakat sering melihat manusia bertopeng hitam ketika mereka pergi mencari makan di dusun. Tapi, masyarakat juga biasa heran. Ketika masyarakat lagi resah dengan issu manusia bertopeng, anggota Kopassus keluar masuk hutan seperti biasa tanpa takut.” Kisah Maria, warga Kampung Sota, kepada saya pada 25 Agustus 2009 di rumahnya.

Prajurit Kopassus tidak hanya terlibat aktif masuk hutan mencari ikan arwana, rusa dan kulit gambir, juga menjadi penada atas hasil milik warga. Hasil buruan atau hasil yang dikumpul oleh prajurit Kopassus biasanya dijual ke Kota Merauke atau Perusahan PT. Korindo Grup di Asiki.

Pada tahun 2010 ini, Prajurit Kopassus terlibat bisnis galian pasir laut di sepanjang pantai Buti, Nasem, Ndalir dan Wendu. Hal ini terungkap saat saya melakukan pengamatan dan wawancara sejumlah pekerja galian pasir di Buti dan Wendu.

“Prajurit Kopassus sekarang tidak terlalu dekat dengan Satpol PP. Prajurit Kopassus lebih banyak melakukan bisnis. Ini berbeda dengan Prajurit Kopassus sebelumnya”, ungkap seorang anggota Satpol PP Kabupaten Merauke saat saya temui di rumahnya pada tanggal 12 Mei 2010.

Inilah cara prajurit Kopassus mengumpukan hasil dari masyarakat, yaitu selain membeli dan mengutang, prajurit Kopassus biasanya memberikan senjatah miliknya, rokok, gula, kopi, teh, dan barang-barang lain kepada warga masyarakat dengan perjanjian hasil yang didapat oleh warga diberikan kepada prajurit Kopassus. Hasil yang dikumpulkan diletakkan di tempat tinggal mereka. Hal ini sangat jelas bila kita berkunjung ke tempat tinggal prajurit Kopassus, disana terdapat karung-karung berisi kulit gambir dan beberapa jenis barang yang lain. Pertanyaannya, apa yang terjadi, jika warga yang tidak tetapi perjanjian yang telah dibuat dengan prajurit Kopassus? Dalam pengalaman kunjungan saya selama tahun 2006 sampai 2009, saya sering mendengar warga kampung, khususnya di Kampung Tomer dan Kampung Sota bahwa warga sering ketakutan kalau tidak tepati janji dengan prajurit Kopassus. Warga takut dipukul, atau disiksa. Ada warga yang harus tinggal dalam waktu yang sangat lama di hutan atau di dusun miliknya hanya untuk mengumpulkan hasil sesuai dengan perjanjiannya dengan pihak prajurit Kopassus.

Sementara di Kota Merauke, Prajurid Kopassus menjadi anggota dari Tim Ohan (Ohan= Pemburuh: Tim yang dibentuk oleh Bupati Kab. Merauke, Drs. J. Gluba Gebze, dengan Ketuanya seorang prajurid TNI-AD, Stan Gebze). Tim Ohan adalah tim yang bertugas melakukan intimidasi terhadap warga masyarakat kota Merauke yang berseberang pemikiran dengan kebijakan Bupati kabupaten Merauke. Berkaitan dengan hal ini, Prajurit Kopassus mendapat fasilitas dari pemerintah, khususnya mendapat fasilitas mobil dari Kepala Lurah Kelapa Lima dan fasilitas kendaraan lainnya dari Satpol PP.
Pada bulan Oktober 2008, Bapak Hendrikus Yolmen, Ketua RT 18 Payum-Kota Merauke, melaporkan kepada saya bahwa dirinya bersama sepuluh warga lainnya dijemput paksa oleh beberapa anggota prajurit Kopassus dan dibawa ke “Mess Kopassus”, dengan tuduhan sedang melakukan aktifitas Organisasi Papua Merdeka (OPM) dan setiap hari harus melapor ke “Mess Kopassus”. Dalam pertemuan saya dengannya bersama beberapa warga di rumahnya, Bpk. Hendrikus Yolmen menegaskan bahwa hampir setiap hari mereka harus melaporkan diri ke “Mess Kopassus” dan hampir setiap hari ada intel Kopassus yang datang ke rumahnya. Dia bersama sepuluh warga tertuduh ketakutan dan tidak bebas. Tidak bebas mencari makan.

Selain itu, Prajurit Kopassus juga melakukan pengawasan terhadap warga masyarakat. Berkaitan dengan hal ini, para Prajurit Kopassus selalu berada di Airport Mopa untuk melihat setiap penumpang yang turun dari pesawat. Dalam rangkah memperlancar tugasnya, para Prajurid Kopassus selalu berteman dengan beberapa kelompok anak muda di Kota Merauke, misalnya pertemanan dua prajurid Kopassus, Niko dan Acong, dengan kaum muda dari Polder.

*****

Ketika bertemu di rumahnya, pada tanggal 18 Februari 2010, Veronika Wawon, yang lebih dikenal dengan sebutan “Mama Vero”, banyak bercerita tentang kedekatannya dengan para Prajurit Kopassus dari angkatan pertama sampai angkatan ketiga, yang tinggal di rumah 41A, Kelapa Lima. Menurutnya, Vargas, Ucok, Acong dan Niko yang pertama kali tugas di Jalan Dom dengan komandan mereka, Agus Bakti, sangat dekat dan baik kepadanya. Sementara Surya Bakti dan M. Rizal adalah komandan angkatan kedua dan ketiga. Leo Lase dari angkatan kedua sangat dekat denganya dan juga Maryono dari angkatan ketiga. Saya kira semua nama yang disebutkan ini bukan nama asli.

Pertemuan dengan Mama Vero ini, saya merasakan ada banyak hal yang ganjil dan aneh. Bicaranya dengan suara kuat dan berkali-kali mengatakan bahwa tidak ada penyiksaan seperti yang dimuat dalam laporan HRW. Berita yang keluar diinternet itu tidak benar. Anak-anak mudah yang dipukul itu karena mereka nakal. Bicaranya tidak tenang. Ketika berbicara, Mama Vero selalu memalingkan mukanya ke tempat lain dan tidak memperhatikan saya.

Rumah Mama Vero tidak jauh dari “Mess Kopassus”. Kira-kira 8 m jauhnya. Hal ini membuat hampir setiap sore, Mama Vero bersama dua anaknya sering berkunjung dan main volly di “Mess Kopassus”. Prajurit Kopassus juga sering berkunjung rumahnya. Saya banyak bercerita dengan mama Vero. Berikut petikan percakapan kami:

Mama Vero, apakah di “mess Kopassus” itu ada kolam?”
“Kolam apa? Tidak ada kolam di Pos Kopassus. Kami biasa main disana. Di sana tidak ada kolam. Kolam tidak ada. Di belakang Pos Kopassus itu hanya ada kebun sayur. Di dekat kebun sayur itu ada tempat taru ember untuk cuci piring.”
“Tadi Mama Vero bilang ada tempat cuci piring, apakah ada air yang tergenang dekat tempat cuci piring?
“Tidak ada. Anak tidak ada kolam. Itu semua berita di internet itu tipu. Tidak benar. Ini tanahnya pasir. Di Merauke ini ada urat-urat tanah. Rumah saya dan “Mess Kopassus” sana itu satu urat tanah. Rawa ada jauh di belakang. Jadi tipu saja. Tidak ada kolam. Omong kosong itu.”
Karena bersih keras mengatakan tidak ada kolam, saya pun bertanya tentang pertemuannya dengan prajurit kopassus.
“Saya sudah lupa tanggal. Tapi, kira-kita bulan November 2009, saya, Tin Mekiw, dan Yosep Tuwok diudang rapat dengan Komandan Kopassus dari Jayapura. Waktu pertemuan, ada banyak anggota Kopassus. Kami rapat. Komandan Kopassus menjelaskan bahwa ada berita di internet tentang prajurit kopassus di sini. Komandan Kopassus itu minta kepada kami untuk membantu Kopassus menegaskan bahwa berita diinternet itu tidak benar”, ungkap mama Vero.

Setelah pertemuan itu, Mama Vero sering diwawancarai oleh Edo Ulukyanan, wartawan Radio Republik Indonesia Merauke, sebanyak tiga kali. Mama Vero diwawancarai tentang keberadaan prajurit kopassus di jalan dom, Kelapa Lima ini. Mama Veron, mahasiswa Sekolah Tinggi Ilmu Politik Yaleka Merauke, selalu menegaskan bahwa prajurit kopassus di jalan dom itu baik dan sopan. Jalan Dom menjadi aman setelah ada prajurit kopassus. Hasil wawancaranya disiarkan di Radio RRI Merauke.

***********

Sambil menunjuk ke arah empat anggota Kopassus yang duduk di para-para, tetangga tadi mengatakan kepada saya, “Tempat diantara para-para dan truk yang parkir itu adalah tempat dimana anggota Kopassus biasa mengadili anak-anak muda yang mabuk. Kami dari rumah ini, biasanya melihat anggota Kopassus mengadili pemuda yang mabuk. Anggota Kopassus biasa pukul dan siksa pemuda yang mabuk. Di sebela tempat duduk para-para itu, ada kolam kecil, kurang lebih panjang 1 m dan lebar 1 m. Di kolam itu, pemuda yang mabuk direndam oleh anggota Kopassus. Dan juga, pemuda yang mabuk disiksa dengan nonton matahari atau lari keliling lapangan Vollyball. Ibu Maria Kurupat yang biasa pergi marah Kopasus.”
“Lalu, ada orang yang bilang bahwa di “Mess Kopassus” itu ada lapangan tenis?”
“lapangan tenis atau lapangan bulu tangkis itu sudah lapangan volly”.
“Maksudnya?” Tanya saya sekali lagi. “Bagaimana lapangan bulu tangkis sama dengan lapangan volly?”
“Sebelum Kopassus dong tinggal disini , lapangan vollyball dibangun dengan panjang mengikuti jalan dan berlantai tanah pasir. Lapangan itu, selain dipakai untuk bermain Vollyball, kami biasanya pakai untuk main bulu tangkis. Dulu dilapangan itu ramai. Setiap sore, warga Jalan Dom biasanya berkumpul dan main volly atau bulu tangkis. Waktu Kopassu tinggal di salah satu kamar dari rumah itu, warga jalan Dom masih tetap datang dan bermain volly atau bulu tangkis. Biasanya, pada sore hari, kami bermain volly dan pada malam hari, kami pasang lampu dan main bulu tangkis.”

Pengakuan yang sama juga disampaikan oleh Mama Vero saat saya berbicara dengannya, pada 18 Februari 2010. Berikut petikan percakapan kami:
“Mama Vero, berita di internet menyebutkan Kopassus dong siksa orang mabuk di lapangan tenis. Benar kha?”
“Siapa bilang. Lapangan tenis apa. Tidak ada lapangan tenis. Yang ada itu lapangan volly.”
“Terus lapangan tenis itu yang mana?”
“Anak, tidak ada ya. Lapangan tenis itu tidak ada. Dulu “Mess Kopassus” itu adalah rumah kost milik keluarga Birak yang dijual ke pengusaha cina spadem. Setiap sore, kami biasa main volly disana. Sangat ramai. Banyak orang main vally. Sore, kami biasa main volly dan malam hari kami tarik lampu untuk main bulu tangkis. Tapi, lapangannya tidak sepertisekarang. Sekarang, kopassus dorang sudah bangun bagus pakai semen. Dulu masih lapangan pasir dan panjangnya mengikuti jalan. Sekarang, yang Kopassus dong bangun ini panjangnnya tidak mengikuti pasir.”
“Mama Vero, bulu tangkis itu sama dengan tenis tho. Orang Merauke sering menyebut kata “tenis” untuk maksud “bulu tagkis”. Jadi tidak salah berita di internet.”
“Betul anak. Lapangan volly juga biasa dipakai untuk main tenis atau bulu tangkis.”
Dari hasil perbincangan dengan beberapa warga di Jalan Dom, Kelapa Lima, ditemukan bahwa rumah no. 41A itu dikenal oleh warga dengan sebutan “Mess Kopassus”. Dan lapangan Vollyball yang terdapat di halaman rumah no. 41A itu, dikenal juga sebagai lapangan bulu tangkis. Warga Jalan Dom sering menggunakan istilah bulu tangkis atau tenis.

Pada Desember 2009, Robertus Taleharubun, Berto Wawon, Julianus, Agustinus Torip, Paulus Mayoni, Oktavianus dan Virgil Bibtem dihubungi oleh mama Vero Wawon untuk bekerja membangun lapangan vollyball di rumah no. 41A, Jl. Dom, Kelapa Lima. Mama Vero Wawon sendiri dihubugi oleh Haryono, seorang anggota Kopasus untuk mengumpulkan anak-anak muda kelapa lima untuk bekerja membangun lapangan volly ball.

Lapangan volly ball yang dibagun dengan lebar mengikuti jalan ini, menggunakan tanah yang diambil oleh Berto Wawon, Julianus, Agustinus Torip, Paulus Mayoni, Oktavianus dan Virgil Bibtem dengan truk dari tanah begas gusuran buldser di Airport Mopa, kemudian dicor dengan semen.

Berto Wawon, Julianus, Agustinus Torip, Paulus Mayoni, Oktavianus dan Virgil Bibtem bekerja hanya di hari pertama. Enam pemuda ini tidak melanjutkan pekerjaan mereka, karena merasa ditipuh.

MenuruV seorang tetangga, “Kami dihubungi oleh Mama Veron untuk bekerja membuat lapangan vollyball, tanpa ada kata bahwa kami bekerja sosial tanpa dibayar. Nanti, sudah sore, Pak haryono bilang bahwa kerja ini kerja sosial. Kami kecewa dan tidak mau bekerja lagi. Robertus Taleharubun, yang terus bekerja bersama anggota Kopassus. Robert Taleharubun dibayar Rp. 100.000.”
“Siapa itu Robert Taleharubun?” Tanya saya.
“Robert Taleharubun itu kemenakan dari Ibu Taleharubun. Dia seorang tukang.”
Setelah selesai dikerjakan, warga Jalan Dom sering bermain volly di lapangan itu. Beberapa warga, seperti Mama Veron, Ibu Tim Mekiw, sangat senang. Akan tetapi, akhir-akhir ini, warga jalan Dom merasa tidak senang dengan anggota Kopassus. Karena mereka tidak bisa main volly lagi di lapangan itu. Anggota Kopassus selalu bermain dengan warga dari luar jalan Dom. Salah satu warga yang sangat kecewa dengan anggota Kopassus adalah Mama Veron. Mama Veron merasa kecewa dengan anggota Kopassus yang tinggal di rumah no. 41A itu. Hal ini disebabkan oleh bola volly miliknya dibuat kempis oleh anggota Kopassu dan tidak diganti.

********

Setelah mendapat informasi dari seorang tetangga rumah 41A tentang keberadaan kolam kecil di halaman belakang rumah no. 41A itu, pada tanggal 17 Februari 2010, saya melakukan verifikasi informasi keberadaan kolam kecil ini kepada Ibu Maria Kurupat, seorang anggota DPRD Kab. Mapi periode 2005-2009 dan suaminya, Bpk. Erro.
Pukul 10.00, waktu Merauke, saya bertemu dengan Ibu Maria di rumahnya yang berjarak kira-kira 10 m dari rumah no. 41A.

Setelah berbicara dengannya tentang perjalanan saya dari Jakarta, Ibu Maria mengajak saya ke bangunan rumah yang sementara dibangun di samping rumahnya. Alasan keamanan yang menyebabkan Ibu Maria mengajak saya ke bangunan rumah itu. “Kita terpaksa duduk disini, karena Kopassus dorang biasa pantau kami di rumah ini dari rumah Bpk. Metelmeti di depan jalan.” Kata Ibu Mari Kurupat.
“Mama, saya mau tanya. Apakah di rumah no. 41A itu ada kolam kha? Tanya saya
“Ada. Tapi tidak besar. Mungkin 1 m.” Jawab Ibu Maria.
“Saya dengar, Kopassus dorang biasa rendam anak-anak yang mabuk di kolam itu. Itu benarkah, mama?” Tanya saya
“Iyo. Itu benar. Ada beberapa anak di kelapa lima sini. Dorang mabuk dan diambil oleh Kopassus. Mereka disiksa. Anggota Kopassus biasa pukul mereka, suruh mereka nonton dan berjemur matahari di lapangan volly. Saya ini yang biasa pergi marah Kopassu dorang.” Kata Ibu Maria Kurupat.
Ibu Maria dan suaminya, banyak bercerita tentang tingkah laku anggota Kopassus terhada warga masyarakat Kelapa Lima.

“Pada tanggal 6 Februari 2010. Kira-kira jam 4 sore. Anggota Kopassus lari sore. Mereka lari melewati jalan di depan rumah saya. Waktu itu, saya ada duduk di pondok depan rumah. Saya bilang mereka waktu mereka lewat: “ kalau begitu, kita demo Kopassus”. Kemudian, dua anggota Kopassus berhenti di ujung jalan sebelum belokan dan memandang ke tempat saya duduk. Saya merasakan, anggota Kopassus mengamati dan mengawasi kami warga di sini. Belum pernah mereka lari sore. Ini kali pertama.” Kisah Ibu Maria.
Ketika saya tanya soal kisah penyiksaan anggota Kopassu terhadap pemuda Kelapa Lima, sebagaimana tercatat dalam buku laporan Human Ritgh wachs. Ibu Maria dan suaminya, membenarkan laporannya. Ibu Maria dan suaminya turut menegaskan bahwa mereka juga menjadi saksi mata Kopassus siksa pemuda Kelapa Lima di rumah no. 41A itu.

*********

Pada bulan November, Mama Vero, Tin Mekiw dan Yosep Tuwok diundang oleh seorang prajurit Kopassus untuk mengikuti rapat di Rumah 41A.
Mama Veron, Yosep Tuwok dan Tim Mekiw memberikan komentar di RRI bahwa Kopassus tidak pernah menyiksa warga, justru kehadiran Kopassus membuat warga menjadi aman. Ketika orang itu diwawancarai oleh wartawan RRI Merauke, Edo Ulukyanan.
Salah satu korban yang bernama Gunawan meninggal dunia ketika ditebas kepalanya oleh pemuda dari kompleks Beringin, Kelapa Lima. Pihak keluarga dan warga masyarakat curiga bahwa pemuda yang membunuh Gunawan itu orang suruan Kopassus.
Para korban masih trauma. Mereka sering ketakutan. Mereka selalu menghindar ketemu orang baru!

1 komentar:

  1. Tulisan yang menarik dan informatif. Terimakasi buat sherenya kak...

    BalasHapus