Papua Storyteller

Loading...

Rabu, 08 September 2010

Bupul: sebuah potret kehidupan ekonomi

by wensislaus fatubun


Hari itu, 4 September 2009. Matahari baru saja minta pamit di ufuk barat, tetapi Kampung Bupul di Kabupaten Merauke, Papua, terlihat sepi. Kala itu, Pasifikus Anggojay (40) terlihat sibuk membereskan perahu lesungnya di tepi Sungai Maro. Beberapa menit kemudian ia bergegas ke rumahnya yang letaknya tidak jauh dari situ. Sambil menjinjing beberapa ekor ikan air tawar hasil tangkapannya, Pasifikus melangkah cepat menuju rumahnya. Langkahnya tegap pertanda sebuah kegembiraan tengah terpatri di relung hatinya. Dari kejauhan terlihat sang istri tercinta sudah menanti, dan ketika pria itu tiba, sang istri langsung mengambil ikan itu dan menaruhnya di dekat tungku.

Anaknya yang bungsu tiba-tiba mendekat sang ayah. “Yebai (“Bapa” dalam bahasa Suku Malind Yei), ikan ini untuk makan, kah?”. Pasifikus terdiam sejenak, berpikir keras untuk menjawab pertanyaan anaknya. “Itu bukan untuk dimakan. Ikan ini mau dijadikan ikan garam (baca: ikan asin) dan nanti Yebai bawa jual kalau “mas Jawa” datang ke sini,” jawab Pasifikus. Anaknya itu kemudian mendekat ikan air tawar itu dan menghitung. “Yebai, ikan ada delapan ekor,” tutur anaknya. Demi kehiduapan keluarga, Pasifikus rela tidak mengkonsumsi hasil tangkapannya. Ia sudah terbiasa menjualnya dengan harga murah kepada “mas Jawa”, sebutan masyarakat Bupul untuk para tengkulak.

Menurut Pasifikus Anggojay penjualan ikan untuk para tengkulak dengan harga bervariasi, tergantung kesepakan dengan tengkulak. “Ikan seperti ini, kami biasa buat ikan garam dan kami jual ke tengkulak dengan harga Rp 5.000 per kilogram. Sedangkan kalau tanduk rusa, kami jual seharga Rp 45.000 per tanduk”, ceritanya. Hal ini memperlihatkan bahwa masyarakat Bupul biasanya menjual hasil buruan dan tangkapan mereka - seperti ikan kakap air tawar, daging rusa, tanduk rusa serta buaya - kepada para penadah dengan harga yang bervariasi dan terkadang sangat murah.

“Kami harus menjual dengan harga yang sangat murah, karena kami tidak tahu harga di pasaran. Tengkulak biasa bilang bahwa harga di kota Merauke sedang jatuh, jadi mereka tidak bisa beli dengan harga yang biasa. Belakangan setelah menjual, baru kami tahu bahwa kami telah ditipu oleh tengkulak. Mau tuntut, tapi sudah terlambat”, tutur Esebius, warga Kampung Erambu. Misalnya, para tengkulak membeli tanduk rusa dengan harga Rp 25.000 - Rp. 45.000 per tanduk sementara harga per tanduk di kota Merauke adalah Rp. 70.000.
Harga kebutuhan pokok seperti beras 25 kilogram Rp. 100.000, gula Rp. 14.000 per kilogram, 2 liter minyak goreng bimoli Rp. 28.000. “Jika dilihat dari perbandingan hasil jualan warga masyarakat dan tuntutan kebutuan hidup sehari-hari, maka tidak dapat disangkal bahwa masyarakat tidak bisa membeli beras dan kebutuhan yang lain,” ungkap Pastor Paroki Bupul, P. Felix Amias MSC.

Dalam pengamatan Promotor JPIC MSC sepanjang 31 Agustus – 7 September 2009 di Kampung Bupul, Kwel, Erambu, Toray dan Sota, tampak jelas bahwa warga masyarakat di kampung-kampung tersebut tidak bisa memenuhi kebutuhan hidup secara cukup, karena para tengkulak membeli hasil dari masyarakat dengan harga yang sangat murah, sementara harga bahan pokok yang dijual sangat mahal. Kenyataan ini disebabkan oleh adanya system distribusi hasil yang tidak adil, karena dikuasai oleh para tengkulak.

Berburu hasil

Di pusat kota yang juga pusat pemerintahan, seperti Kota Merauke, terdapat toko-toko yang juga berfungsi sebagai pasar karena tidak ada pasar. Masyarakat Papua dalam era ekonomi ini belum dibiasakan dengan ekonomi pasar. Sebagian besar masih bersifat ekonomi tradisional atau ekonomi subsistent atau ekonomi sambung hidup. Masyarakat berproduksi hanya untuk keperluan sendiri.

Menurut Staf SKP-KAM, Wenda Maria Tokomonowir, masyarakat Bupul memang berproduksi, namun dalam system ekonomi pasar ini diperlukan produksi bahan mentah yang dapat memenuhi permintaan pasar, misalanya sekian ton gabah dalam sebulan, atau sekian ton kacang kedelai dalam sebulan. Oleh karena tidak memiliki kecakapan untuk berproduksi, maka orang Papua hanya dapat memenuhi permintaan pasar dengan berburu binatang. Apabila ada permintan pasar akan kulit buaya, semua berburu buaya; apabila ada permintaan pasar akan ikan arwana, semua berburu ikan arwana atau apabila ada permintaan pasar terhadap kulit gambir, semua orang mencari gambir; apabila ada permintaan pasir semen, orang menggali pasir semen. Dalam berburu pun orang Papua tidak berperan aktif. Mereka hanya sebagai collectors bagi pemodal-pemodal yang bertransaksi besar-besaran.

Tantangan ekonomi

Dalam kehidupan ekonomi masyarakat Papua khususnya masyarakat Malind di kampung-kampung, masih belum sepenuhnya tersentuh oleh sistem ekonomi pasar. Pada saat ini orang Papua benar-benar bergumul untuk mendapatkan penghidupan untuk yang tinggal di kota, dan mendapatkan uang tunai untuk yang hidup di kampung. Hal ini dikarenakan mereka tidak mempunyai kecakapan teknis yang dapat digunakan dalam sistem ekonomi pasar. Dalam kehidupan ekonomi di kampung-kampung dia menjadi pengumpal (collectors) terhadap sumber daya alam yang dia miliki dan tergantung sepenuhnya pada pemodal (tengkulak) dari kota yang adalah orang non-Papua yang membeli hasil hutan antara lain kulit gambir, ikan air tawar, daging rusa, dan lain sebagainya.

Dari pengamatan dan kajian Promotor JPIC MSC, terlihat bahwa Kota Merauke berkembang secara drastis dan benar-benar menjadi sebuah kota. Dalam sistem ini Kota Merauke menjadi Pusat pemasaran (aspek pertama), dan daerah di luar Kota Merauke menjadi daerah penghasil bahan mentah (aspek kedua), kedua sektor ini dihubungankan dengan system transport (aspek ketiga) yang menghubungi dua sektor ini. Sistem ekonomi ini disebut ekonomi perkotaan. Karena berpusat di kota, juga disebut ekonomi pasar, karena berpusat di pasar yang berada di kota. Disebut juga ekonomi kapital (cash ecocnmy) karena berdasar pada peredaran uang tunai dan jasa. Untuk menghasilkan jasa, orang memerlukan kecakapan-kecakapan teknis. Dari tiga aspek tersebut diatas ini, dapat dibagi dalam beberapa hal, yaitu kecakapan teknis sebagai mekanik (perbengkelan, driver, dll) dan juga diperlukan kecakapan managemen (managerial skills). Kecakapan juga diperlukaan dalam penghasilan bahan mentah guna memenuhi demands of the market (permintaan pasar). Di sini terjadi allocation of skills, yaitu setiap orang atau kelompok orang-orang menguasai skill tertentu yang tidak dikuasai oleh orang lain. Dalam menghasilkan produk tertentu dan atas jasa itu terjadi transaksi keuangan.

Walaupun system ekonomi perkotaan ini sangat menunjang pengembangan kota-kota di Papua, khususnya Kota Merauke, namun sayangnya dalam system ekonomi ini, orang Papua tidak berperan aktif, karena mereka tidak memiliki kecakapan-kecakapan (skills) yang diperlukan dalam tiga aspek dari system ini. Orang Papua yang masih mengiktui sistem ekonomi sambung hidup (subsistent ecocnomy) berdasar pada subsistent farming (pertanian sambung hidup) dan food gathering and collecting (peramu) tidak dapat memenuhi permintaan pasar. Pada ekonom subsisten tidak terjadi allocation of skills yang nyata, karena masing-masing orang atau kelompok orang dituntut untuk memiliki kecakapan-keckapan yang diperlukan guna memenuhi kebutuhan hidup primer.

Mengatur sistem distribusi

Oleh karena itu, hal yang harus dibuat dalam gerakan pemberdayaan ekonomi rakyat Papua adalah menciptakan suatu system distribusi hasil dari kampung ke kota, sehingga kegiatan distribusi tidak menjadi ruang yang dikuasai oleh para tengkulak. Yang harus mengambil peran ini adalah pemerintah. Pemerintah berperan sebagai pencipta kebijakan untuk memproteksi hasil masyarakat di kampung. Selain itu, warga masyarakat di tingkat kampong harus diberi kemudaan untuk mengakses informasi tentang keadaan harga pasar. Hal ini bisa dilaksanakan dengan menggunakan sara siaran Radio Republik Indonesia. Kalau ini bisa dijalankan dengan baik, maka perekonomian warga Papua ditingkat kampung dapat berjalan dengan baik dan terhindar dari proses pengusahan hasil oleh para tengkulak atau terhindar dari keterasingan dan pengisapan nilai lebih.

1 komentar:

  1. sering ke Bupul kah?? kenal baik Pastor Paroki Bupul, P. Felix Amias MSC?? klo ada informasi kontaknya bp pastor sy minta kah,
    sy kenal baik sm pastor,tp sdh hilang kontak,skrg sy d manado, bp pastor jg skolah dsini dl..
    trmkasih sblmya,

    BalasHapus