Papua Storyteller

Loading...

Minggu, 12 September 2010

Riky mau jadi pilot, tapi Anis?

by Wensislaus fatubun

Jumat (7/5) sore di tepi jalan di salah satu kantong kemiskinan dan kejahatan di Kota Merauke, Bruder Yos Manuel, MSC., berbaur mengajar belasan anak Malind, Asmat, Muyu, dan Yagai.

Bak ”Laskar Pelangi”, mereka duduk berjejalan, berdampingan belajar dan mengajar di ruangan 2 meter x 5 meter di pantih asuhan Amam Bekai Chevalier.
”Saya mau jadi perawat,” seru Wambemo, yang bersiap masuk sekolah menegah umum, ketika ditanya cita-citanya.



Riky, teman Wambemo, tidak ketinggalan menyela pembicaraan.
”Ah, Bapa, sa mo jadi pilot.”
“Riky, apa yang dikerjakan oleh Pilot?”
“Bapa, sa tra tahu. Pokoknya, sa mo jadi pilot,” Riky dengan polos menjawab dan tawa pun pecah berderai di ruang kelas yang juga berfungsi sebagai ruang makan itu.
Selanjutnya, kelas pun dimulai di bangunan semipermanen bekas gedung gereja di Samping Gereja Katolik , Gudang Arang, Merauke.

Bruder Yose Manuel, MSC dan Deby Letsoin, seorang gadis Maluku, mengajar Riky yang dengan penuh semangat menyelesaikan persoalan matematika dengan memakai alat bantu sepuluh ikat lidi daun kelapa. Pelukan, pujian, dan senyuman lembut diberikan bagi Riky setiap kali menyelesaikan pertanyaan sulit.

Diselingi deru musik ragge PNG milik tetangga, Riky, Wambemo dan teman- teman tekun belajar untuk menggapai cita-cita yang suatu hari kelak mungkin akan terbentur oleh lilitan kemiskinan.

Hidup memang perjuangan hari demi hari, bahkan bagi anak umur lima tahun sekalipun. Seusai belajar, Riky, Wambemo dan teman-temannya menyimpan buku dan alat tulis mereka, lalu berdoa dan mengakhiri dengan kata, “Selamat malam Bruder...Selamat malam Ibu”.

Beberapa menit kemudian, satu persatu anak-anak penghuni Pantih Asuhan Amam Bekai Chevalier memasuki ruang tidur. Laki-laki satu ruang tidur, begitu juga dengan anak-anak perempuan.

Riky sangat beruntung, tidak seperti yang dialami oleh Anis Mahuze. Seharusnya, Anis Mahuze harus mendapat perhatian orangtua dan bersekolah dengan baik. Tapi, semuanya tidak seperti yang kita pikirkan.

Anis Mahuze, umurnya 7 tahun, bersama lima (5) temannya seusiannya harus bekerja menjual jasa untuk mencuci mobil atau truk-truk di dekat Airport Mopa Lama, Merauke. Ia bekerja dari pagi sampai sore. Ia dibayar Rp. 2.500 per mobil. Sehari, ia biasanya mendapat uang Rp. 10.000. Uang yang didapat dari hasil keringatnya ini, dipakai untuk beli makanan dan minuman. Tapi, ia juga biasanya patungan dengan teman-temannya untuk membeli lem aibon untuk dihirup baunya sampai mabuk. Saya sempat ketemu Anis Mahuze bersama empat (4) orang anak seusiannya yang sedang mabuk lem aibon di belakang Gedung Gereja Katedral lama di Jalan. Kimaam, kota Merauke.

Pada malam harinya, ia harus mencari tempat untuk beristirahat. Ia biasanya tidak pulang ke rumah. Maklum, Bapaknya telah meninggal, sementara ibunya sudah kawin lagi. Bapa tirinya sangat kejam terhadap dirinya. Saya perna sekali ketemu dia tidur bersama dua (2) orang temannya di teras depan Toko Adil di Jalam Raya Mandala, kota Merauke.

Membangun karakter

Sosok Riky, Wambemo, dan teman-teman mereka yang tinggal di Panti Asuhan Amam Bekai Chevalier dan aktif mengikuti pelajaran tambahan merupakan pribadi yang diperbarui, tidak seperti Anis Mahuze.

Bruder Fendy Mokili, MSC, biarawan misionaris Hati Kudus asal Banggai, mengatakan, semula anak-anak ini memiliki kepribadian yang bebas semaunya. Mereka suka sekali bermain dan tidak suka belajar. Ketika disuruh belajar, ada yang menangis. Ada yang minta pulang ke rumah.Tapi, kini semua anak-anak suka belajar dengan rajin. Mereka jarang sekali bermain. Nilai mereka pun bagus-bagus.

”Lingkungan di sini sangat keras buat anak-anak seusia ini. Ada segudang masalah. Setiap hari mereka mendengar makian, ada yang mabuk lem aibon, pertengkaran, dan orang dewasa berpacaran. Bahkan, setiap malam minggu banyak bocah cilik ikut begadang sampai pagi di tepi jalan,” kata Wempie yang pernah mendampingi anak-anak di Pintuh Air, kota Merauke.

Mengubah kekerasan, egois, minder, dan sifat negatif menjadi kepribadian positif dirintis Bruder Yos Manuel, MSC, Debby Letsoin dan Bruder Fendy Mokili, MSC dengan susah payah. Anak-anak penghuni pantih asuhan Amam Bekai Chevalier didorong terus sekolah dan tidak menyerah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar