Papua Storyteller

Loading...

Rabu, 25 Agustus 2010

Tragedi minggu subuh di Transito

Minggu (30/5), pukul 05.30 pagi, ketika matahari baru saja bersinar, Mei Tanggipaimu meminta mamanya, Amalia Biagaimu, membuka pintu depan rumah. Mei Tanggipaimu, umurnya 2 tahun, ingin buang air besar. Mamanya mendampinginya. Saat itu, suasana kompleks perumahan suku Mappi di Transito, kota Merauke, agak sepi. Ada beberapa warga terlihat mulai bersiap-siap untuk pergi ke Gereja. Tapi, sepuluh menit kemudian, terdengar bunyi tembakan beruntun dari kesatuan Buru Sergap (Buser) Polres Merauke. Tim Buser Polres Merauke sedang mengepung, mengejar dan menembaki Nardi Kaitemu, tersangka pencurian. Mei Tanggipaimu tertembak tepat di kepalanya. “Mama, sa pu (saya punya) kepala sakit”, katanya kepada mamanya sambil menangis. Mamanya yang sedang membersihkan kakinya tersentak kaget, karena Mei Tanggipaimu, anak kesayangnnya, tengah bersimbah darah. Tak sampai dua menit, Mei Tanggipaimu pingsan. Mamanya memeluknya dan berharap anaknya tidak meninggal. Darah segar terus mengalir keluar dari kepalanya. Mei Tanggipaimu yang lincah, kini terlujur kaku dalam pelukan mamanya.

Inilah awal tragedi minggu subuh, dimana kesatuan Buser Polres Merauke menembak Mei Tandipaimu (2 thn) dan Nardi Kaitemu (31 thn) di sebuah rumah di Kompleks perumahan warga Mappi di Transito, Kota Merauke.


****

Masih pagi, kira-kira pukul 05.00, warga belum banyak yang bangun. Hanya beberapa ibu. Beberapa di antaranya mulai sibuk memasak. Ada juga yang menimba air di sumur. Di kala itu, Tim Buser (Buru Sergap) Polres Merauke, yang berjumlah sembilan orang melakukan pengepungan, dan pengeledaan pada sebuah rumah, yang dicurigai tempat persembunyian Nardi Kaimu, tersangka pencurian.

Anggota Buser Polres Merauke terlihat sigap dengan bersenjatahkan laras panjang. Abner, salah satu anggota Buser Polres Merauke, berdiri di sisi barat rumah, dan Amir, temannya, terlihat mulai mengamankan warga sekitarnya. “Ibu-ibu tolong masuk ke dalam rumah,” ungkap Amir kepada beberapa mama yang hendak menonton penyergapan ini. Sementara itu, beberapa anggota Buser mulai memasuki dapur rumah yang menjadi target pengepungan. Seorang anggota terlihat menendang pintu dapur hingga terbuka. Dua orang anggota terlihat masuk dan mulai melakukan pemeriksaan di dapur dan kamar-kamar dengan senjata laras panjang dan penuh waspada.

Nardi Kaimu terlihat lompat keluar dari Jendela kamar dekat dapur. Jendela kaca pecah dan berjatuhan ke lantai. Sambil memegang kampak, Nardi Kaimu berlari menuju tempat dimana Abner berdiri. Nardi Kaimu menerjang kapaknya ke arah Abner, tapi tidak kena. Abner terjatuh sambil melepaskan tembakan. Abner dan Tim Buser Polres Merauke mengejar sambil melepaskan tembakan beruntun. Warga tersentak kaget. Suasanya jadi tegang. Beberapa warga berhamburan keluar rumah. Nardi tertembak di kaki kanannya, tapi terus berlari melewati rumah orangtua Mei tanggipaimu dan masuk ke salah satu rumah.

Mei Tanggipaimu, yang baru saja selesai buang air besar di depan rumah orangtuanya, terkena peluru dari tembakan beruntun itu. Mamanya yang sedang membersihkan kakinya tersentak kaget, dikala kepalanya mengeluarkan darah segar. Ia tertembak tepat di bagian kanan kepalanya.

Suasana jadi ribut. Beberapa orang berteriak, “Ada anak kecil kena tembak...ada anak kecil kena tembak...”. Tim Buser Polresta Merauke pun berenti menembak. Suara tangis pun terdengar. Pagi yang tenang berubah jadi duka. Suara tangisan pun terdengar. Warga mulai berkumpul mengelilingi mama Amalia Biagaimu, yang sedang menggendong dan memeluk anaknya, Mei Tanggipaimu. Darah segar terus keluar dari kepala Mei Tanggipaimu. Nafas Mei Tanggipaimu pun satu satu. Beberapa warga mulai sibuk mencari bantuan. Seorang mama meminta pertolongan kepada salah seorang anggota Buser Polres Merauke:
“Bapak, tolong kami dolo, antar anak kecil ke rumah sakit kha”.
“kamu bawa sendiri saja ke rumah sakit”.

Dengan wajah sedih yang dibalut dengan air mata, mamanya menggendong Mei Tanggipaimu dan berjalan kaki ke Rumah Sakit Umum Daerah Merauke (RSUD Merauke). Sanak keluarganya mendampingi. Semua sedih dan marah. Ada yang terus menangis. Ada juga yang marah anggota Buser Polres Merauke. “Polisi kurang ajar. Tidak tahu aturan. Polisi anjing...polisi anjing...polisi anjing...”.

Kurang lebih dua puluh langkah kaki, Mei Tanggipaimu mengembuskan nafas terakhir. Tapi, orangtua dan kerabatnya tetap membawa ke RSUD Merauke. Tangisan dari orangtua dan sanak keluarga, yang mengantarnya, terdengar semakin keras.
Orangtuanya tampaknya belum percayah, kalau anak mereka telah meninggal. Sesampai di RSUD, petugas medis sempat periksa Mei Tanggipaimu. Mei Tanggipaimu dinyatakan meninggal dunia. jenasa Mei Tanggipaimu diletakan di kamar jenasa.

Bapanya, Dondi Tanggipaimu, terus menangis. Mamanya terdiam lemas tanpa kata-kata. Mamanya tampak shock. Terlalu pagi, Mei Tanggipaimu pergi meninggalkan orangtuanya untuk selamanya.

****

Mei tertidur kaku tanpa kata. Mamanya terlihat duduk di samping jenasanya. Sementara itu, Bapaknya berdiri tak jauh dari jenaza Mei Tanggipaimu. Bapanya terus menangis.

Berselang beberapa menit, terlihat perdebatan di antara kaum kerabat tentang jenasa Mei Tanggipaimu mau dibawa pulang ke rumah atau tidak. Seorang anak muda, Selles Boy Jupjo namanya, langsung dengan tegas mengatakan: “Polisi harus tanggung darah anak ini. Kita harus bawa jenasa ke kantor Polres dan meminta pertanggungjawaban dari Polisi”. Tanpa berlama-lama, salah seorang sanak keluarga mengangkat jenaza Mei Tanggipaimu dan berjalan keluar kamar jenaza RSUD Merauke menuju kantor Polres Merauke di Jalan Brawijaya.

Kedua orangtua almarhum tak berbaju, juga tidak pakai sendal. Bapa almarhum bercelana pendek di atas lutut. Mama almarhum pakai rok yang digulung bagaian pinggang. Bapa almarhum memegang balok 3 m x 5 cm. Sambil menangis, Bapa almarhum memukul-mukul balok yang dipegangnya ke tanah. Sementara, mama almarhum menyebut nama almarhuma: “Mei...Mei..”, sambil memegang dan mengangkat-angkat susu.
Bagi orang Mappi, seorang mama yang bertelanjang dada dan memegang dan mengangkat susu ke atas adalah bagian dari ungkapan kesedihan dan kemarahan yang sangat mendalam. Apalagi seorang mama telanjang. Ketika menyaksikan hal ini, saya bertanya kepada Amir, pemuda Mappi yang ikut dalam rombongan ini:
“Kenapa orangtua almarhum bertelanjang dada?”
“Mereka sangat sedih dan marah!”
“Oh....”
“Kalau mama tidak pakai baju atau buka pakaian semua. Itu tanda kesedihan dan kemarahan yang sangat mendalam. Ini bisa kacau. Kitorang orang Mappi itu lain. Mama itu kitorang punya harga diri. Kalau mama buka pakaian, itu tanda kitorang pu harga diri sudah hancur. Dan ini buat kitorang marah”.

Mama Amalia Biagaimu sangat lemas. Ia dibopong oleh seorang mama. Sementara itu, terdengar kidung duka dinyanyikan dalam bahasa Mappi. Kalau diterjemakan, maka artinya begini:

“Selamat jalan Mei...selamat jalan Mei...Tuhan tolong terima nyawa anak ini. Sebenarnya dia belum meninggal, tapi dorang bunuh dia. Dorang bunuh dia pakai busur api (baca: senjatah laras panajng). Tuhan, Tolong panggil nyawa Mei...Tuhan tolong kami. Anak kami masih kecil. Dia ingin hidup, tapi dorang bunuh dia.”
Massa yang membawa jenasa Mei Tanggipaimu itu berjalan menuju kantor Polres Merauke, dengan menyusuri Jalan Raya Mandala, kemudian ke Jalan Prajurid dan ke Jalan Brawijaya.

Masa memblokir sepanjang Jalan raya mandala. Kendaraan bermotor tidak diizinkan jalan. Sama halnya saat rombongan melewati jalan Prajurit dan Brawijaya. Beberapa mobil disuruh untuk kembali. Salah seorang tentara berpakaian biasa terlihat mengamankan jalur yang dilewati massa. Suasana hari minggu pagi menjadi agak tegang. Ada beberapa warga non Papua yang mau menonton tapi dikejar, dan diancam oleh beberapa tiga laki-laki yang tergabung dalam massa. Bapa Dondi Tanggipaimu satu diantara tiga lelaki itu.

Sesampainya di simpang Jalan Parako (Para Komando), seorang anak muda terlihat hendak memukul pengendara sepeda motor yang sedang berhenti. “Kamu sudah bunuh anak kami. Kamu itu bangsa biadap. Kamu keluar dari tanah Papua”.

Beberapa anggota TNI dan Polisi terlihat ikut mengamankan aksi masa itu. Para prajurit itu tak berpakaian seragam. Mereka membaur dengan masa. Ada prajurit yang berusaha menahan kendaraan bermotor, disaat masa melewati pertigaan atau perempatan jalan. Tapi, ada juga yang mengambil gambar tanpa mengamankan massa.

Persis melewati Kantor Radio Republik Indonesia Merauke (RRI), seorang mama mengambil dan menggendong jazad Mei Tanggipaimu dari seorang bapak yang tampak kelelahan, karena telah menggendong jenaza dan berjalan lebih dari 2 km. Sambil melihat wajah keponakannya yang kaku tanpa senyum, mama yang mengendong jazad Mei Tanggipaimu berkata: “Mei...sa pu anak he. Kenapa ko begini? Mama terus menyanyi kepada Tuhan supaya ko masuk surga. Mama sayang ko”.

Sedangkan seorang sepupu korban terdengar berteriak-teriak:
“Jawa kamu pulang. Kamu bikin kacau saja di sini. Bangsa jahat. Orang Papua sudah sedikit, kamu terus bunuh. Kamoran jahat. “
“Hei, jangan bicara begitu. Kita marah saja Polisi!”ungkap seorang ibu yang sejak awal aksi terus memegang tangan mama Amalia Biagaimu.

***

Sesampainya di Polres, massa ditemui oleh beberapa orang anggota Polres Merauke. Pasukan tameng terlihat berlari mendekat dan berbaris memanjang di gerbang pintu masuk halaman kantor Polres Merauke. Wakil Bupati Merauke, Waryoto dan Waka Polres, Kompol Herry Wahyudi hadir dan bertemu massa di depan kantor Polres Merauke. Wakil Bupati Merauke dan Wakapolres mengajak keluarga korban untuk ke ruangan kantor. Beberapa orang masuk ke ruangan pertemuan. Bapa Dondi tanggipaimu mengendong jazad korban memasuki ruang pertemuan. Pertemuan antara keluarga korban dan Wakil Bupati, Waka Polres dan tokoh masyarakat Mappi terjadi di ruang pertemuan Polres Merauke. Banyak wartawan yang hadir meliput.

Massa yang tidak masuk, terus menggelar aksi. Ada yang duduk di tengah jalan Brawijaya. Seorang anggota keluarga almarhum terus berteriak:

“Buser mana...jangan sembunyikan mereka. Pokoknya, mulai hari ini, Buser tidak boleh ke Transito.”

“Mama dong tenang saja. Semua akan diproses sesuai aturan hukum.” Ungkap seorang anggota Polisi wanita.

“Ah, tenang-tenang apa. Kamorang sudah bunuh sa pu anak. Pokoknya, kamorang harus bertanggung jawab.”

Seorang lelaki mendekati saya dan berkata: “kawan, itu aset. Mereka membunuh aset bangsa Papua”. Saya menanggapi dengan senyum tanpa berkata-kata.

***

Di ruangan pertemuan, sempat terjadi ketegangan antara keluarga korban dengan Waka Polres. Kepada keluarga korban, Waka Polres mengatakan: “Kematian ini adalah musibah! Kami tidak perna merencanakan hal ini. Ini di luar dugaan kami. Tapi, kami akan proses prajurit Polisi yang terlibat. Karena itu, jenaza perlu difisum untuk mengetahui peluru siapa dan siapa yang menembak”. Amir, kerabat korban, tidak bisa menerima. Amir marah: “Ini bukan musibah. Ini pembunuhan. Hal ini harus diproses secara hukum”.

Menyikapi persoalan ini, Wakil Bupati Merauke menegaskan bahwa masalah ini jangan diperuncing. “Masalah ini, jangan diperuncing. Ini diluar dugaan kita.” Ungkap.
Orangtua dan kerabat korban tetap tidak puas dengan komentar dari dua pejabat tersebut. Albert Muyak, mewakili tokoh masyarakat Mappi menginginkan masalah ini harus diproses secara hukum. “Masalah ini harus diproses secara hukum”.
Pertemuan ini berakhir dengan sebuah kesepakatan. Pihak polisi akan menanggung seluruh biaya pemakaman, dan jenaza Mei Tanggipaimu harus divisum demi proses hukum lebih lanjut.

Pertemuan pun diakhiri. Jenaza Mei Tanggipaimu dibawa dengan mobil ambilance Polisi ke RSUD Merauke untuk divisum. Kedua orangtua dan beberapa anggota kerabat ikut dalam mobil ambulance. Sementara itu, massa yang terkonsentrasi di depan kantor Polres Merauke terlihat diangkut oleh dua mobil Polisi ke Transito.

Semuanya berakhir dengan damai, tapi apakah besok keluarga mendapatkan keadilan? Kita tungguh besok!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar