Rabu, 25 Agustus 2010

Di Uren, bertemu Romo Boneng

Minggu (27/6) sore di Desa Uren, pegunungan Meratus, Promotor JPIC MSC bertemu “Romo Boneng”. “Romo Boneng”, sebutan untuk Arif Rahman Hakim, seorang anak 9 tahun, yang duduk di kelas 1 SD Negeri I Uren.

Ia dipangil “Romo Boneng”, karena ia ingin menjadi Pastor Gereja Katolik. Hari itu, ia terlihat sibuk memegang bukunya. Ia sedang mempersiapkan diri untuk belajar membaca dan berhitung.



”Aku mau jadi Romo,” serunya, ketika ditanya soal cita-citanya.
“Tapi, Romo itu kan hidup sendiri dan sering pindah-pindah tempat tinggal. Boneng tidak takut?”

“Aku mau Romo”, ungkapnya sambil memeluk kaki Romo Ansel Amo, MSC dari Promotor JPIC MSC.

Ketika ditanya apa yang dikerjakan seorang Romo, “Romo Boneng” dengan polos menjawab tidak tahu. “Aku ngak tahu. Aku mau jadi Romo”.

Ketika itu, kelas pun dimulai di ruangan di asrama Santo Paulus. Sriaty Sovia br Sembiring atau yang lebih dikenal dengan sebutan “Sofi”, pengasuh “Romo Boneng” dan beberapa anak dayak itu, mulai mengajar. Sofi mengangkat lagu rohani “Yesus Kekasih Jiwaku” untuk memulai kelas belajar malam itu.

Sofi mengajar “Romo Boneng” dan dua anak lainnya yang dengan penuh semangat menyelesaikan persoalan matematika dengan memakai alat bantu sepuluh ikat lidi daun kelapa. Pelukan, pujian, dan senyuman lembut diberikan bagi “Romo Boneng” setiap kali menyelesaikan pertanyaan sulit.

Diselingi dengan canda dan tawa, Romo Boneng tekun belajar untuk menggapai cita-citanya.

Ke sekolah dengan sandal

Pagi itu (2/7), “Romo Boneng” tampak bersemangat tanpa cemas. Hari ini, “Romo Boneng” akan mendengar hasil belajarnya di SD Negeri I Urin. Ia tampak rapih berpakaian seragam putih merah, tapi tidak bersepatu atau sendal. Melihat “Romo Boneng” tak berasas kaki, Sofi bergegas pergi membeli sendal untuk “Romo Boneng” di pasar Uren.

Sejauh mata memandang terlihat banyak anak-anak SD Negeri I Uren mayoritas tak beralas kaki. Ada yang beralas kaki, tapi itu hanya sendal.

Romo Ansel Amo, MSC dari Promotor JPIC MSC mengantar “Romo Boneng” ke sekolah.
Sepulang dari sekolah, “Romo Boneng” tampak cerita. Ia baru terima rapor kenaikan kelas. “Romo Boneng” raking empat. Ia dinyatakan naik ke kelas 2 dengan nilai rata-rata 6.

“Boneng anak pintar. Boneng harus rajin belajar!” nasehat kaka asramanya, Sofi dikala “Romo Boneng” menunjukkan raportnya.

Pergi ke RT lain

Sosok “Romo Boneng” mewakili sebagian potret anak-anak yang hidup di Desa Uren, Kecamatan Halong, Kabupaten Balangan, Kalimantan Selatan.

Desa Uren adalah desa yang terdiri dari 13 RT, yang tersebar di wilayah pengungan Meratus. Penduduk asli desa Uren adalah suku Dayak, yang lebih terkenal dengan sebutan “Dayak Meratus” atau “Orang Uren”. Mayoritas masyarakat Desa Uren menganut Agama Kaharingan, tapi ada beberapa warga yang menganut agama Katolik.

Ada beberapa RT seperti RT 3, warganya telah membentuk pemukiman. Sementara warga yang hidup di RT 7 sampai RT 13 masih hidup di pondok-pondok yang menyebar. Warga di RT 7 misalnya, masih hidup dengan membangun pondok-pondok di dekat ladang. Hal ini menjadi tandatngan tersendiri dalam pelayanan kesehatan dan pendidikan.

Ketika mengunjungi warga masyarakat di RT 7, pada umumnya warga menghidupi diri mereka dengan berladang di lereng-lereng gunung. Warga menanam padi ladang, pisang, dan pohon buah-buahaan. Tapi, ladang warga sering terkena atau terendam banjir dan tertimbun tanah longsor, karena masih sering terjadi penebangan pohon-pohon besar di lereng-lereng gunung yang menjadi sumber mata air.

Beberapa warga RT 7 mengatakan bahwa warga di RT 7 sulit meningkatkan kehidupan ekonomi mereka, karena hasil berlajang terkadang tidak terjual. Selain masalah jarak dan medan yang sulit ke pasar Uren di RT 3, persoalan pembeli yang tidak ada juga turun menjadi masalah.

Dari hasil pengamatan Promotor JPIC MSC, terlihat ada perbedaan kehidupan warga masyarakat yang hidup di beberapa RT di Desa Uren. Terlihat sangat jelas bahwa warga masyarakat yang hidup di RT 1 sampai RT 3,sangat maju kehidupannya, baik itu dari sisi pendapatan maupun dari aspek yang lain. Hal ini sangat berbeda dengan warga yang hidup di RT 7. Yang menjadi faktor pembeda adalah perkebunan karet. Warga di RT 7 tidak memiliki perkebunan karet. Pengalaman warga di RT 3 memperlihatkan bahwa perkebunan karet menjadi faktor utama dalam meningkatkan taraf kehidupan.

Sehingga, kehadiran Asrama Santo Paulus di RT 3 Desa Uren adalah salah satu cara untuk mengatasi persoalan pendidikan dan kesehatan di desa Uren.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar