Papua Storyteller

Loading...

Senin, 16 Januari 2012

Suara Hati Perempuan Minahasa

Ketika orang kebanyakan sibuk bekerja dan cari pekerjaan, Nency, alumni s2 Sosiologi Agama UKSW, jadi anak rumahan. 

"Saya merasa tersiksa selama dua bulan terakhir ini, seperti katak dalam tempurung. Bahkan saya seperti gelas antik yang hanya dipajang dalam lemari antik yang mewah itu. Tak ada kebebasan, tidak ada kemandirian dan tidak ada kreasi melakukan sesuatu. Semuanya diatur dan dibatasi".


 Inilah gejolak jiwanya kini. Perempuan berkulit putih itu ingin berontak. Ia ingin bebas. "Saat ini jiwa saya melayang-layang, ingin sekali seperti burung Manguni. Terbang ke mana saja, jikalau mempunyai kekuatan yang luar biasa, ingin sekali terbang ke negeri seberang. Negeri yang didiami burung Cenderawasi nan angun itu," pikirnya.

Itulah pikirnya yang hanya sebatas kata ‘seandainya’! Seandainya orangtua mengizinkan permintaannya. Menginjinkannya untuk pergi merantau dan belajar dari negeri Papua. Pergi untuk mandiri dan akan kembali dalam jiwa yang merdeka.

Diumur 24 tahun, perempuan minahasa ini tampak matang dan mandiri. Mimpihnya melayang-layang bagai burung Manguni. Terbang ke mana saja. "Jikalau punya kekuatan yang luar biasa, ingin sekali terbang ke negeri seberang. Negeri yang didiami burung Cenderawasi nan angun itu."

Eeeh, orangtuanya malah masih memanggilnya ‘dede'. Ia terkadang merasa aneh dengan panggilan ini. Tapi, itulah panggilan kesayang orangtuanya untuk anak perempuan mereka satu-satunya.  

"Saya maklumi akan kasih sayang orang tua. Tokh, kasih sayang mereka selain membebaskan saya menempuh pendidikan lebih tinggi tetapi juga dengan hati-hati (baca: menjaga) memakai hati dengan panggilan “dede mo ke mana? (Dede mau ke mana?)", kisahnya.

Sehingga, ia selalu rinduh untuk mengulangi hidup yang mandiri di masa kuliah s1 di UKI Tomohon. Ia harus tinggal di kamar kost yang sempit. Merencanakan sendiri belanja kebutuan hidup. Kerjakan tugas kuliah. Rinduh ini semakin racuni pikirannya dikalah ingat pengalaman merantau dan mengenyam pendidikan s2 di Pulau Jawa. Hidup penuh tantangan. "Inilah masa dimana kemandirian saya diuji".

Kini, kemandiriannya itu tinggal kenangan. Kemandiriannya luntur dikala kembali ke rumah orangtuanya. Bukan karena dibelenggu, tapi aktivitas yang membosankan. Untung saja Nency gemar membaca, mengarang, dan berefleksi. Kegemaran inilah yang selalu menemani hari-harinya di kamarnya. Ia terkadang begitu hanyut dalam mengarang sampai lupah bahwa hari telah berganti.

Sejak menjadi anak rumahan, banyak hal yang ia renungkan. Entah itu soal pelayanan di Gereja, pacaran, tulisan, dan lebih penting lagi pesan firman Tuhan. Semuanya tertulis rapih dalam buku hariannya. 

"Saya banyak belajar dari tulisan-tulisan saya."

"Apa kuncinya?"

"Kuncinya, mencari dan bertanya! Semua karya ada hikmat dan kebijaksanaan dari Tuhan yang bagaikan orangtua. Awalnya, menjadi anak rumahan adalah membosankan. Tetapi jika dihayati, semuanya berakhir dengan menyenangkan. Penyenangan diri yang sementara agar saya tidak frustasi hehehe...."

Nency seringkali merasa dibatasi oleh orangtuanya, tapi batasan yang bermakna!

"Jika saya ingin keluar rumah bersama teman-teman, jalan-jalan atau ngumpul bareng atau diadakan ‘kelompok kecil-kecilan’, pada masa SMA saya diberikan kebebasan untuk keluar rumah tetapi jam 6 sore sudah kembali ke rumah. Pada masa S1, jika saya liburan di rumah, batas keluar rumah naik satu tingkat, yakni jam 7 malam sudah harus di rumah. Kemudian, pada masa S2, pada waktu liburan tiba atau masa penelitian tesis, saya berlibur di rumah, Manado. Agaknya tidak terlalu jauh berbeda dari masa-masa sebelumnya. Di sini saya harus tiba di rumah jam 8 malam. Pertanyaannya, apakah selalu on time tiba di rumah? Ini persoalannya, pernah suatu waktu saya belum tiba di rumah. Hp berdering, papa memanggil dan menanyakan “dede posisi di mana ini? jam berapa pulang dank?”. Setelah diusut demi diusut, papa menelepon dari tempat kerja karena kekuatiran mama di rumah kalau anak perempuannya belum tiba di rumah. Persoalan akan bertambah rumit lagi jika papa telepon kedua kali. Pasti keesokan harinya hubungan orang tua dan anak menjadi ‘dingin’ seperti lemari es. Kejadian ini pun berlangsung sampai sekarang. Walaupun malangnya nasib anak rumahan, tetapi anak rumahan ini pernah pergi ke Malang (kota sejuk banyak buah apel)," kisahnya.

Itulah sosok yang selalu mau belajar. Belajar tentang keberhasilan rumah tangga orangtuanya dari menjadi anak rumahan. Baginya, keberhasilan rumah tangga adalah menjaga keutuhan. 

"Menjaga keutuhan dan keharmonisan keluarga (mama-papa, orang tua-anak, kakak-adik) sangat penting. Saya mencoba menaati peraturan keluarga dan berbakti kepada orang tua. Dan oleh sebab itu, saya sebagai anak rumahan tetap melestarikan aturan dan batasan yang berlaku dalam keluarga. Setiap keluarga pastilah mempuyai batasan dan aturan sendiri. Pengalaman saya berbeda dengan pengalaman anda dan saya hargai itu. Apakah anda frustasi dengan pekerjaan yang menumpuk? Coba anda menenangkan pikiran dan menjadi anak rumahan? Ya, …..menjadi anak rumahan". *

Catatan: 
Tulisan ini adalah karya dari Nency Heydemans Maramis yang diedit oleh af wensi


2 komentar:

  1. Terima kasih kk sudah muat di blok ini.., Sukses tuk perjuangan kk. Salam basodara

    BalasHapus
  2. Salam hormat dari kami di tanah Papua

    BalasHapus