Papua Storyteller

Loading...

Sabtu, 08 Oktober 2016

Nara, antara Careless Mistake dan Diplomasi Arogan

Sidang Majelis Umum PBB sesi 71 telah selesai. Tapi kita masih ramai membicarakan pidato tujuh Kepala Negara dari beberapa Negara Pasifik yang mengangkat keprihatinan mereka atas situasi HAM dan penentuan nasib sendiri Bangsa Papua, dan right of replay dari delegasi Indonesia. Ada pro dan kontra. Ada yang pro tujuh negara Pasifik, ada pula yang pro right of replay dari Indonesia. Ada pula yang sebaliknya, kontra.
Tapi, satu hal yang menarik dari debat ini adalah kehadiran sosok Nara dan isi pernyataannya dalam right of replay dari Indonesia dan isi pernyataannya yang disampaikan dalam dua kali right of replay dari Indonesia.

Bikin "careless mistake"
Nara dalam pernyataan right of replay Indonesia yang pertama bikin careless mistake dalam kalimat pembuka dan kemudian dikoreksi dalam kalimat berikutnya. Careless mistake yang dimaksud adalah ada dalam paragraf pertama ketika dia hanya menyebutkan Propinsi Papua, Indonesia (lihat pernyataannya: Indonesia hendak menggunakan hak jawab kami terhadap pernyataan yang disampaikan Perdana Menteri kepulauan Salomon dan Vanuatu, yang juga disuarakan oleh Nauru, kepualau Marshall, Tuvalu dan Tonga Terkait masalah Papua, provinsi Indonesia), dan kemudian diralat lagi pada paragraf ketiga dari pernyataannya dengan menyebut Propinsi Papua dan Propinsi Papua Barat (lihat pernyataannya: Kami menolak mentah-mentah sindiran terus menerus dalam pernyataan mereka. Itu jelas mencerminkan ketidakpahaman mereka terhadap sejarah, situasi saat ini dan perkembangan progresif di Indonesia termasuk di provinsi Papua dan Papua Barat serta manuver politik yang tidak bersahabat dan retoris). Careless mistake ini memperlihatkan bahwa Indonesia sendiri tidak konsisten, dan ini menimbulkan pertanyaan tentang apakah di Papua ada satu atau dua propinsi. Ini lalu menimbulkan debat pada persoalan Otonomi Khusus Papua yang tidak otonom. Careless mistake jelas memperlemah isi dari pernyataan Indonesia sendiri.

Careless mistake yang kedua adalah ketika membacakan paragraf terakhir sambil mengangkat jari (lihat videonya pada saat ini membacakan kalimat ini: Ketika seseorang menunjukkan jari telunjuknya pada yang lain, jari jemarinya secara otomatis menunjuk pada wajahnya sendiri). Nara mungkin berpikir bahwa dengan bertingkah semacam itu dapat mengunci pernyataannya dengan apik, tapi ternyata tidak. Ini menimbulkan lelucon tersendiri dan melemahkan semua yang telah ia katakan lebih dulu.

Nara, representasi sebuah arogansi
Nara sebenarnya menjadi simbol bahwa Indonesia tidak menganggap persoalan HAM di West Papua yang disampaikan itu tidak terlalu penting. Nara sangat junior dan level diplomat kelas bawa. Tapi, saya pikir bukan soal Indonesia tidak menganggap penting isi dari pernyataan tujuh negara Pasifik, tetapi representasi Nara memperlihatkan arogansi, kesombongan dan keangkuan Indonesia.
Kesombongan, arogansi dan keangkuan Indonesia pun dapat kita baca dari pilihan kata-kata dalam pernyataan right of replay. Pernyataan yang penuh kecurigaan terhadap tujuh Negara Pasifik juga bisa dilihat sebagai arogansi Indonesia, dan sama sekali tidak santun sesui dengan nilai-nilai luhur Bangsa Indonesia yang tercermin dalam Pancasila. Cermin lain dari keangkuan Indonesia terlihat jelas dari Indonesia yang tidak akui ada pelanggaran HAM di tanah Papua, bahkan menuduh laporan yang didapat dari tujuh negara itu tidak kredibel, meskipun fakta menunjukan bahwa sejak tahun 1963 hingga kini pelanggaran HAM terus terjadi.

Pertanyaannya, apa implikasi untuk diplomasi Indonesia? Sangat jelas. Hari-hari ini, di PBB, Indonesia kehilangan kredibilitas dan integritasnya. Pertanyaannya, apa keuntungan untuk orang Papua? Jelas, yang mendapat keuntungan dari pernyataan Indonesia yang tidak berkualitas dan careless mistake dari seorang Nara ini adalah perjuangan martabat orang Papua untuk hak asasi orang Papua dan penentuan nasib sendiri. Tujuh negara Pasifik bersama orang Papua memperliatkan kualitas bangsa yang bermartabat.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar