Sabtu, 17 Desember 2011

West Papua and the changing nature of self-determination

by Akihisa Matsuno, OSIPP, Osaka University

Self-determination beyond decolonisation

Self-determination has legal and political dimensions. The right to self-determination is cited in the UN Charter and the two Covenants of Human Rights, but basically the international community failed to consistently apply this right beyond the cases of decolonisation. The newly born states have been mostly hostile to the notion of self-determination of a population under their sovereignty, the world powers feared further instability if colonial boundaries were not respected, and there was a technical difficulty in defining ‘a people’.

Senin, 03 Oktober 2011

Advokasi dan Penyadaran

DATA YANG TERKUMPUL MAU DIAPAKAN?
Laporan riset lapangan, untuk bekal penelitian lebih lanjut, advokasi dan penyadaran

Oleh George Junus Aditjondro


            SETUMPUK data[1]  di belasan buku notes, pita kaset, foto dan film, serta dokumen-dokumen, serta sampel (cuplikan) air, tetumbuhan dan batu-batuan yang diduga tercemar bahan organik dan anorganik yang berbahaya[2], mau diapakan sepulang dari lapangan? Tentu saja data itu harus disistematisasi, diolah, dikaji, dan ditulis menjadi laporan penelitian lapangan yang terinci, dengan berbagai lampiran yang penad (relevan).

Selasa, 23 Agustus 2011

Warga ambil kembali tanah adat

Merauke, 22 Agustus 2011, anggota marga Basik-Basik melakukan pengukuran batas tanah adat marga dengan tanah jatah warga Trasmigrasi di Kampung Muram Sari, Distrik Jagebob. Karena, mantan Kepala Kampung Muram Sari, yang juga warga trasmigrasi asal Jawa, telah melakukan pencaplokan tanah adat marga Basik-Basik dan menyewakan kepada warga trasmigrasi.

Kamis, 18 Agustus 2011

Bartol Yolmen telah “pergi”


Siang itu (14/5/2010) di tengah hiruk pikuknya kota Merauke, saya bertemu dengan Bartol Yolmen, 29 tahun, di rumahnya, Jalan Mangga Dua Kimaan, Kota Merauke. Ayah dari seorang anak bernama Felix Yolmen, 3 tahun, yang menjadi korban kekerasan aparat TNI-AD Kostrad 643/WNS Kalimantan pada tahun 2005 silam. Ia sedang sakit. Badannya kurus dan agak bongkok, tapi dengan antusias menyambut kedatangan saya.


Tanpa peduli dengan situasi sekitarnya,ia serius menceritakan kisah hidupnya. Istrinya, Jemitri Gebze, tampak duduk di samping menemaninya. “Sejak dipukul oleh prajurit TNI-AD Kostrad 643/WNS, saya sakit sampai hari ini,” ungkapnya.
***

Senin, 08 Agustus 2011

Semalam di Kota Tinutuan

Jalan Boelevard Manado jam 21.30 malam. Supermarket Multimart baru saja tutup. Para pelayan dari beberapa supermarket, di sepanjang jalan Boulevard, satu persatu mulai bergegas pulang ke rumah. Beberapa anak dengan gaya punk lalu lalang di depan Supermarket Multimart. Kalah itu, aku turun dari mikrolet wanea samrat tepat di depan Plaza Telkom Manado dan berjalan kaki menelusuri jalan samrat kemudian ke jalan boulevard.

Mery mengagetkanku

Tepat di belakang gedung Plaza Telkom Manado, aku berhenti dan duduk sebentar di halte. Selang beberapa menit, ada seorang wanita dengan paras cantik, bersetelan celana jins dan berbaju kaum tangan panjang bergaris, mengampiriku sambil menyapa, “Selamat malam!”, aku membalasnya dengan jawaban singkat, “Malam.” Wanita itu mendekatku

Arnold Ap

Kamis, 04 Agustus 2011

Di Uren, bertemu Romo Boneng


Minggu (27/6) sore di Desa Uren, pegunungan Meratus, Promotor JPIC MSC bertemu “Romo Boneng”.  “Romo Boneng”, sebutan untuk Arif Rahman Hakim, seorang anak 9 tahun, yang duduk di kelas 1 SD Negeri I Uren.  

Ia dipangil “Romo Boneng”, karena ia ingin menjadi Pastor Gereja Katolik. Hari itu, ia terlihat sibuk memegang bukunya. Ia sedang mempersiapkan diri untuk belajar membaca dan berhitung.
”Aku mau jadi Romo,” serunya, ketika ditanya soal cita-citanya.

“Tapi, Romo itu kan hidup sendiri dan sering pindah-pindah tempat tinggal. Boneng tidak takut?”
“Aku mau jadi Romo”, ungkapnya sambil memeluk kaki Romo Ansel Amo,[MSC dari Promotor JPIC MSC.